Kediri (beritajatim.com) – Dugaan penipuan dengan modus investasi bodong madu klanceng Koperasi Niaga Mandiri Sejahtera Indonesia (NMSI) memakan banyak korban. Jumlah korban bahkan mencapai 8.000 orang, dengan nilai kerugian total antara Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.
Para korban merupakan mitra koperasi NMSI yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kerugian timbul akibat gagal bayar oleh manajemen koperasi.
Salah satu korban investasi bodong berkedok usaha kemitraan lebah klanceng itu adalah Budyo Sutrisno asal Desa Sugihrawas, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
BACA JUGA : Harapan Korban Investasi Bodong NMSI Usai Kasus Ditarik Bareskrim Polri
Budyo sempat ikut kerjasama kemitraan budidaya lebah madu klanceng koperasi NMSI selama kurang lebih satu tahun. Sempat merasakan empat kali panen namun akhirnya Budyo Sutrisno harus kehilangan uang sebesar Rp1,8 miliar.
Parahnya, keluarga Budyo juga jadi korban. Mulai anak, adik, maupun kakaknya.
“Saya korban yang juga lumayan secara pribadi mencapai Rp1,8 miliar. Belum anak saya, belum adik saya dan juga kakak saya,” aku Budyo Sutrisno kepada beritajatim.com.
Budyo bercerita awal mula dia sampai tergiur dengan bisnis budidaya lebah madu klanceng dengan sistem kemitraan. Dia memutuskan untuk ikut menjadi anggota koperasi setelah melihat promosi iklan di televisi lokal Kediri.
BACA JUGA : 500 Anggota Koperasi NMSI Ajukan Gugatan PKPU
“Awal masuknya dulu dari televisi. Ada promosi di TV yang selalu mengadakan live sekitar 1 jam setiap hari Selasa,” kata Budyo.
Seringnya melihat promosi dari usaha kemitraan budidaya madu klanceng itu membuat Budyo tertarik. Betapa tidak? Koperasi menjanjikan keuntungan hingga 26 persen bagi mitra. Angka yang cukup besar.
Caranya pun cukup gampang. Mitra koperasi hanya ikut serta membudidayakan lebah madu klanceng dengan cara beli stup (rumah lebah klanceng) pada koperasi.
Lebah madu klanceng kemudian akan dipanen setiap tiga bulan sekali. Hasil panen bakal dibeli oleh koperasi dengan keuntungan tersebut.
BACA JUGA : Gejolak Investasi Madu Klanceng, Puluhan Mitra di Kediri Tagih Tanggung Jawab
Pada mulanya Budyo menginvestasikan uangnya sebesar Rp300 juta untuk modal awal. Dari modal tersebut, kemudian terus bertambah setiap tiga bulan masa panen.
“Saya pelajari dan saya masuk ke situ karena kelihatannya menjanjikan. Kemudian saya ikut selama 1 tahun. Hasil dari situ, saya belikan lagi, lagi, akhirnya total Rp1,8 miliar,” terang Budyo.
Budyo tidak mengambil uang hasil panen namun dia belikan stup lagi. Bahkan, dia juga menambah modalnya dari hasil panen padi.
“Akhirnya titik terakhir dengan jeblosnya perkara itu. Saya totalnya seperti itu sebesar Rp1,8 miliar,” keluh Budyo.
BACA JUGA : Kasus Mandeg Setahun, Korban Investasi Bodong Madu Klanceng Demo Mapolres Kediri Kota
Tepat setahun setelah Budyo ikut dalam kemitraan, panen madu klanceng macet. Pengurus koperasi NMSI awalnya beralasan karena bisnis terhambat oleh pandemi Covid-19.
Tetapi belakangan, pengurus mengaku gagal bayar panen madu klanceng karena dana koperasi dibawa kabur Christian Anton Hadrianto, sang Ketua Koperasi NMSI.
Akibat gagal bayar itu, ekonomi Budyo terhantam. Kolaps. Kondisi itu membuat Budyo kebingungan. Sampai-sampai, dia terpaksa pinjam uang ke bank.
“Dampak secara ekonomi pastinya kolaps, Pak. Seharusnya saya tidak menanggung utang di BRI. sekarang harus nanggung utang,” ungkap Budyo.
BACA JUGA : Gejolak Investasi Madu Klanceng, Puluhan Mitra di Kediri Tagih Tanggung Jawab
Awal Februari 2021 lalu, Christian Anton Hadrianto dilaporkan oleh pengurus koperasi ke Polres Kediri Kota. Dia dituduh telah membawa kabur dana koperasi hingga menyebabkan gagal bayar.
Tetapi persoalan tidak serta merta selesai. Laporan terhadap Anton tidak mengembalikan uang mitra yang jumlahnya mencapai ratusan miliar rupiah.
Budyo menyebut, dari catatannya jumlah korban mencapai 8.000 orang. Sedangkan total uangnya mencapai Rp498 miliar.
Data ini sedikit berbeda dari yang diutarakan oleh Sri Hartiningsih, perempuan yang sempat berteriak histeris dalam rapat Komisi III DPR RI dengan Kapolri Jendral Listyo Sigit beberapa hari lalu.
BACA JUGA : Pencari Madu Klanceng di Probolinggo Kaget Temukan Mayat Tanpa Busana
Sri Hartiningsih menyebut total korban mencapai 30 ribu orang dengan jumlah kerugian mencapai Rp1 triliun. Berkah teriakan Sri Hartiningsih ini, akhirnya kasus ditangani Bareskrim Polri.
Dengan diambil alihnya kasus investasi bodong Koperasi NMSI dari Polda Jatim ke Bareskrim Polri ini, para korban punya harapan baru. Sebab, selama dua tahun terakhir kasus mandek tanpa ada progres berarti.
Sri Hartingsih merupakan korban lain yang berasal dari Madiun, Jawa Timur. Mengalami kerugian hingga miliaran rupiah, perempuan yang belakangan tampil di sejumlah media massa itu sebelumnya menjadi orator demo di Polres Kediri Kota pada awal Juli 2022 lalu.
BACA JUGA : Marak Investasi Bodong, OJK Kediri Beri Pemahaman Masyarakat Melalui Peran Jurnalis
Investasi bodong madu klanceng mencuat pada 2021 lalu. Pandemi Covid-19 menjadi alasan awal NMSI tidak membeli hasil panen madu klanceng anggotanya.
Gagal bayar Koperasi NMSI sendiri terjadi sejak 4 Februari 2021. Gagal bayar terjadi akibat ketua Koperasi Christian Anton Hadrianto (Anton) melarikan diri dengan membawa sejumlah aset milik mitra koperasi.
Sementara itu, setelah digeruduk oleh para korban akhirnya penyidik Polres Kediri Kota menetapkan Anton masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO. Meskipun sampai hari ini belum ada kejelasan pelaku.
BACA JUGA : Dinas Kominfo Kota Kediri Siap Bantu SWI Basmi Investasi Bodong
Untuk diketahui, Koperasi NMSI berpusat di Jl. Patiunus, Kota Kediri. Koperasi ini memiliki cakupan wilayah di seluruh Indonesia.
Koperasi NMSI juga punya cabang di sejumlah provinsi serta kabupaten dan kota. Kantor koperasi yang menyewa sebuah ruko, saat ini jejak kantornya sudah tidak ada. [nm/ted]






