Iklan Banner Sukun
Ekbis

Marak Investasi Bodong, OJK Kediri Beri Pemahaman Masyarakat Melalui Peran Jurnalis

Kediri (beritajatim.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri bersama dengan jurnalis menyelenggarakan kegiatan Media Update, Senin (30/5/2022). Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kediri Bambang Supriyanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya OJK dalam mendukung akselerasi pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. “Kami menyampaikan kinerja industri perbankan di wilayah kerja OJK Kediri menunjukkan tren membaik,” kata Bambang mengawali sambutannya.

Industri perbankan membaik tercermin dari pertumbuhan total aset posisi Maret 2022 mencapai 11,00 persen yoy, yang didominasi oleh Bank Umum Konvensional maupun Bank Umum Syariah yang naik sebesar Rp 13.226 miliar (11,18 persen) menjadi Rp131.539 miliar, serta BPR dan BPRS yang tumbuh sebesar Rp191 miliar (5,25 persen) menjadi 3.831 miliar.

Masih kata Bambang, indikator kedua terlihat dari tingkat kepercayaan masyarakat cukup terjaga dengan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 5,95 persen yoy. Penghimpunan dana pihak ketiga pada bank umum konvensional maupun syariah tumbuh sebesar Rp 5.097 miliar (5,95 persen) menjadi Rp 90.738 miliar. Sedangkan pada BPR dan BPRS sebesar Rp132 miliar (5,51 persen) menjadi Rp2.527 miliar.

Indikator ketiga dapat diketahui dari, penyaluran kredit/pembiayaan pada sektor UMKM tumbuh sebesar 27,95 persen yoy, tertinggi terutama pada bank umum konvensional maupun syariah mencapai sebesar Rp8.009 miliar (30,09 persen) menjadi Rp 34.627 miliar, sedangkan pada BPR dan BPRS sebesar Rp138 Miliar (5,45 persen) menjadi Rp2.667 miliar.

“Untuk kinerja industri Keuangan Non Bank, yakni Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Bank Wakaf Mikro (BWM), terus tumbuh positif tercermin dari pertumbuhan total aset pada 2021 mencapai 4,31persen, dan penyaluran pembiayaan yang meningkat sebesar 7,04 persen,” tambahnya.

Selama masa pandemi Covid-19, lanjut Bambang, diketahui bahwa kondisi perekonomian mengalami penurunan signifikan. Kebijakan pembatasan kegiatan yang mengharuskan masyarakat beraktifitas dari rumah sebagai ikhtiar pencegahan penularan wabah, nyatanya juga berdampak terhadap keberlangsungan usaha masyarakat.

Situasi tersebut, tambah Bambang, mendorong masyarakat untuk berkreasi agar tetap dapat memperoleh penghasilan meski dari rumah. “Sebagai bentuk kreativitas dan solusi, pada akhirnya banyak aktivitas yang mulai beralih ke arah digital. Bukan hanya aktivitas perkantoran dan kegiatan belajar mengajar, melainkan juga kegiatan usaha, jual beli, bahkan investasi dilakukan dengan memanfaatkan layanan digital”, ujar Bambang Supriyanto.

Maraknya aktivitas berbasis digital, kata Bambang, diikuti pula dengan ragam perkembangan layanan jasa keuangan maupun instrumen investasi yang berbasis digital. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah aset kripto.

“Sejak ditetapkan sebagai instrumen investasi pada September 2018 hingga Februari 2022, transaksi aset kripto tercatat mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai Rp83,8 triliun dengan jumlah pembeli 12,4 juta investor,” imbuh Bambang Supriyanto.

Sementara itu, dengan semakin tingginya traffic transaksi aset kripto perlu diimbangi dengan pengenalan produk investasi secara komprehensif. Sejalan dengan hal tersebut, OJK menggandeng Bappebti selaku Otoritas yang melaksanakan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan kegiatan perdagangan berjangka untuk memberikan wawasan mengenai aset kripto.

Dalam acara tersebut, Bambang Supriyanto juga menyampaikan masih banyak bentuk instrumen investasi digital lainnya seperti security crowdfunding, maupun fintech peer to peer lending.

“Fenomena merebaknya penawaran investasi digital, mendorong OJK bersama 11 kementerian/lembaga yang tergabung dalam Satgas Waspada Investasi atau SWI tidak henti-hentinya menghimbau dan meminta masyarakat untuk senantiasa mewaspadai penawaran investasi illegal dengan tetap mengedepankan prinsip 2L, Legal
perusahaannya, dan Logis hasil yang ditawarkan,” lanjut Bambang Supriyanto.

Sejak tahun 2018 s.d. tahun 2022 jumlah pinjaman online ilegal yang telah ditutup mencapai 3.989 pinjol ilegal. Terbaru, SWI kembali menghentikan 7 entitas yang melakukan penawaran investasi tanpa izin dan 100 pinjaman online legal pada April 2022.

Mengakhiri acara tersebut, Bambang Supriyanto menyampaikan bahwa OJK akan terus menjaga konsistensi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dalam mengenali investasi ilegal agar tidak semakin merugikan masyarakat sehingga akselerasi pemulihan ekonomi dapat tercapai. [nm/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar