Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Pdt. Rio Pattiselanno mengingatkan penggalangan dana untuk peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat RT dan RW harus mengedepankan asas sukarela.
Dia menegaskan tradisi gotong royong tidak boleh berubah menjadi pungutan yang bersifat memaksa atau membebani masyarakat.
“Memberikan sumbangan secara sukarela untuk perayaan 17 Agustus tidak bertentangan dengan semangat gotong royong,” kata Rio di Surabaya, Selasa (21/7/2026).
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini mengatakan setiap tahun polemik iuran Agustusan kembali muncul karena adanya penetapan nominal tertentu hingga dugaan ancaman penundaan pelayanan administrasi bagi warga yang tidak membayar. Menurutnya, praktik seperti itu harus dihentikan karena bertentangan dengan prinsip kebersamaan yang menjadi ruh peringatan Hari Kemerdekaan.
“Perlu diperjelas perbedaan antara pungli dan iuran sukarela. Harus ditegaskan bahwa tidak ada unsur paksaan di dalamnya,” ujar politisi kawakan ini.
Dia menilai transparansi dalam pengelolaan dana juga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Oleh sebab itu, dia meminta pengurus RT dan RW menyampaikan penggunaan anggaran secara terbuka agar tidak memunculkan kecurigaan maupun konflik di lingkungan warga.
“Yang perlu dijaga adalah agar setiap iuran benar-benar bersifat sukarela, dikelola secara transparan, akuntabel, dan tanpa tekanan sehingga nilai kebersamaan tetap terpelihara sekaligus melindungi masyarakat dari praktik pungutan yang tidak semestinya,” tegas Rio.
Rio menambahkan partisipasi warga dalam memeriahkan peringatan kemerdekaan tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk uang. Menurutnya, kontribusi berupa tenaga, ide, maupun kreativitas memiliki nilai yang sama pentingnya dalam membangun semangat kebersamaan di lingkungan masyarakat.
“Kita senantiasa mendorong musyawarah dan transparansi, mengutamakan partisipasi dalam berbagai bentuk kontribusi warga selain berupa uang, serta harus memperkuat RT/RW sebagai fasilitator,” katanya.
Dia berharap seluruh pengurus lingkungan dapat menjalankan perannya sebagai pengayom masyarakat tanpa membedakan kondisi ekonomi warganya. Rio menegaskan peringatan Hari Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum mempererat persaudaraan, bukan justru memunculkan persoalan akibat pungutan yang memberatkan.
“Mari sukseskan acara 17 Agustus sebagai momen untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan kebangsaan masyarakat Kota Surabaya,” pungkasnya.[asg/ted]






