Ringkasan Berita
- Kekeringan akibat musim kemarau menyebabkan tanaman padi di Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Pacitan, mengalami puso.
- Petani terpaksa memanen lebih awal untuk mengurangi kerugian meski gabah tidak layak dipanen.
- Seluruh tanaman padi yang gagal panen dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
- Petani berharap pemerintah memberikan bantuan pengairan dan dukungan bagi lahan terdampak kekeringan.
Pacitan (beritajatim.com) – Musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pacitan. Tanaman padi milik petani di Dusun Duren, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, mengalami puso akibat kekeringan yang berkepanjangan sehingga gagal memasuki masa panen.
Salah seorang petani, Tupani, mengatakan tanaman padi yang ditanam sekitar tiga bulan lalu sempat tumbuh subur. Namun, pasokan air yang terus berkurang membuat tanaman mengering sebelum menghasilkan gabah yang siap dipanen.
“Awalnya padinya tumbuh lebat, tetapi karena kekurangan air, jeraminya tiba-tiba mengering dan roboh,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, Tupani akhirnya memutuskan melakukan panen lebih awal. Namun, hasil panen tidak sesuai harapan karena gabah tidak berkembang dengan baik dan tidak layak dipanen.
Akibatnya, seluruh tanaman padi yang mengering dimanfaatkan sebagai pakan ternak agar masih memiliki nilai manfaat meski gagal menghasilkan gabah.
Menurut Tupani, penggunaan pompa air sebenarnya dapat membantu menyelamatkan tanaman dari kekeringan. Namun, tingginya biaya operasional, terutama untuk membeli bahan bakar solar, membuat upaya tersebut sulit dilakukan.
“Kalau memakai pompa air, biaya solar sangat mahal. Kami tidak sanggup,” katanya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian kepada petani yang terdampak kekeringan, baik melalui bantuan sarana pengairan, pompa air, maupun bentuk dukungan lainnya agar kerugian yang dialami petani tidak semakin besar jika musim kemarau masih berlangsung.
“Semoga ada solusi,” pungkasnya. [tri/beq]






