Hukum & Kriminal

500 Anggota Koperasi NMSI Ajukan Gugatan PKPU

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 500 anggota koperasi NMSI mengajukan gugatan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Gugatan ini dilakukan lantaran uang Rp 5,2 miliar dibawa lari oleh sang ketua. Dalam proses PKPU ini, para pemohon menyerahkan data-data ke kurator diantaranya adalah daftar keanggotaan dan juga perjanjian dengan pihak koperasi.

Dari 500 orang yang datang, ada yang sudah menjadi agen, ada yang masih menjadi mitra Koperasi NMSI. Mereka ini berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Nganjuk, Madura, Trenggalek, Madiun. Bahkan, ada yang berasal dari luar Jawa Timur.

Agus Tri, warga Surabaya namun mempunyai keanggotaan koperasi dari Nganjuk menuturkan, ratusan anggota Koperasi NMSI terpaksa mengambil upaya hukum di pengadilan. Karena laporan di pihak kepolisian yang sudah mereka lakukan, menemui jalan buntu dan tak kunjung diproses hukum.

Lebih lanjut Agus Tri menuturkan, awalnya keberadaan Koperasi NMSI ini sangat membantu perekonomian masyarakat sekitar. “Koperasi ini membina anggotanya untuk beternak madu lanceng. Tiap 3 bulan, anggota akan panen. Hasil panennya akan diganti oleh koperasi,” ujar Agus Tri, Rabu (21/4/2021).

Hitungannya, lanjut Agus Tri, kalau anggota itu beli stuf senilai Rp 25 juta maka tiga bulan kemudian akan menerima Rp 6,3 juta. Stuf itu adalah rumah tawon. Jika ada anggota yang membutuhkan, stuf itu ada.

“Uang Rp 6,3 juta ini dianggap sebagai keuntungan untuk anggota yang sudah merawat atau beternak lebah madu lanceng hingga menjadi madu lanceng selama tiga bulan,” kata Agus Tri.

Untuk ukuran stufnya ada small (S), medium (M), large (L) dan harganya berbeda-beda tiap ukuran. Harganya pun berbeda-beda. Untuk ukuran S, harganya Rp 250 ribu, M harganya Rp 500 ribu dan L harganya Rp 1 juta untuk per satu stuf-nya.

“Seiring dengan berjalannya waktu, Christian Anton Hadrianto selaku Ketua Koperasi NMSI tiba-tiba menghilang dan dikabarkan melarikan diri dan membawa uang koperasi sebanyak Rp 5,2 miliar. Uang sebanyak itu adalah uang para anggota koperasi yang terkumpul dari 8800 anggota,” ungkap Agus Tri.

Atas tindakan Christian Anton Hadrianto ini, sambung Agus Tri, kegiatan Koperasi NMSI jadi terhenti. Lalu, ada sebagian anggota koperasi NMSI yang menuntut PKPU.

Masih menurut Agus Tri, yang sangat disayangkan para anggota koperasi NMSI ini, meski sudah dilaporkan ke Polres Kediri tanggal 5 Februari 2021 bahkan juga ada laporan ke Polda Jatim sekitar bulan Maret 2021, kasus ini cenderung mandek dan tidak ada tanggapan apa-apa.

Sementara itu, Purwantoro, anggota Koperasi NMSI yang lain menambahkan, ia dan dua anggota Koperasi NMSI yang lain, sudah pernah dimintai keterangan di Polda Jatim.

“Untuk laporan di Polda Jatim, ada 28 anggota Koperasi NMSI sebagai pelapornya. Perkembangannya hingga saat ini, baru dua orang anggota yang sudah dimintai keterangan selain saya,” ungkap Purwantoro.

Purwantoro sendiri mengaku mengalami kerugian hingga Rp 1,028 miliar. Kalau akumulasi dengan mitra sebesar Rp 2,6 miliar. Purwanto mengaku sudah bergabung menjadi anggota koperasi sejak Oktober 2019. Tentu saja dia sudah pernah panen.

“Ketika awal bergabung, saya langsung membeli 100 stuf dengan ukuran S seharga Rp 250 ribu per stuf sehingga uang yang dikeluarkan Rp 25 juta. Pertimbangan saya menekuni usaha ini adalah, masa kerja saya yang kurang satu tahun, sehingga usaha ini akan dipakai untuk kegiatan sehari-hari di masa pensiun,” ungkap Purwantoro.

Untuk menjadi anggota Koperasi NMSI, lanjut Purwantoro, harus menyerahkan KTP, membayar uang pendaftaran sebesar Rp 250 ribu, membeli stuf yang jumlahnya terserah anggota. Masih menurut Purwantoro, jika nanti panen, maka keuntungan yang dibagikan adalah Rp 130 ribu per stuf untuk ukuran S, Rp. 260 ribu per stuf untuk ukuran M.

Untuk Koperasi NMSI sendiri, mempunyai 11 cabang yang tersebar di Indonesia, seperti di Kota Kediri, Kota Madiun, Jember, Semarang, Bandung, Bangkalan Madura, Banjar Baru Kalimantan Selatan, Samarinda-Kalimantan Timur, Berau-Kalimantan Timur dan Sungai Lilin Sumatera Selatan. [uci/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar