Magetan (beritajatim.com) – Biaya listrik Alat Penerangan Jalan (APJ) di Magetan diperkirakan masih di angka miliaran rupiah. Biaya tersebut baru untuk sekitar 5.000 unit APJ.
Padahal, kebutuhan untuk seluruh Magetan ada 13 ribu APJ. Baik untuk jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, maupun jalan desa.
Untuk mengurangi biaya listrik, pemuda asli Magetan satu ini punya tawaran solusi. Ide dari pemuda bernama Suhargo ini bisa diadopsi sehingga pemerintah tak sibuk melakukan pemeliharaan, pun bisa lebih ekonomis dalam membayar listrik.
“Jadi kami sebenarnya menawarkan agar pemerintah bisa melakukan penghematan dalam membayar listrik. Ditambah, upaya konservasi energi ini bisa mendukung program pemerintah pusat dalam mengurangi gas karbon dioksida,” kata Suhargo, Inovator Metode Efisiensi Energi, sekaligus pemilik perusahaan Energy Savings Company (ESCO) di Resto Kang Ethes, Desa Cepoko, Panekan, Magetan, Jumat (10/5/2024).
Pria yang tinggal di Kelurahan Tawanganom, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan itu memiliki perusahaan yang bergerak dalam efisiensi energi. Mereka menawarkan sistem yang efisien dalam penggunaan listrik khususnya untuk penerangan jalan.
Upayanya sudah berjalan di empat kabupaten. Yakni Tulungagung di tahun 2004, Kabupaten Magetan 2005, Kabupaten Kendal pada 2006, dan Kabupaten Pati pada 2007.
“Di Magetan dulu kami sampai melakukan efisiensi mencapai sekitar Rp120 juta per bulan,” katanya.
Untuk Kabupaten Kendal, efisiensinya mencapai Rp500 juta dan Kabupaten Pati Rp1,1 miliar per bulan. Padahal sebelum menggunakan sistem efisiensi energi, tagihan mencapai Rp1,3 miliar per bulan.
“Jika tagihan dari PLN tidak turun atau tidak ada efisiensi maka kami bersedia tidak dibayar,” katanya.
Suhargo mengatakan, untuk wilayah Magetan saat ini masih belum bisa diperkirakan kemungkinan efisiensinya sampai seberapa. Karena perlu tahapan terlebih dulu, mulai dari mapping atau pemetaan, kajian potensi efisiensi, desain sistem, sampai nanti bisa ditentukan seberapa tingkat efisiensi yang bisa diperoleh.
“Nah, kami mengharapkan ide kami ini bisa diterima oleh pemerintah. Namun, tidak bisa dipungkiri jika perlu penyesuaian terlebih dulu. Utamanya dalam hal administrasi agar pemerintah tidak merasa kesulitan baik pembayaran sampai menyampaikan bukti bayar berupa catatan keuangannya,” katanya.
Kepala Bidang Prasarana Dinas Perhubungan Magetan Achmad Fauzi Ichsan mengatakan pihaknya sebagai bagian dari dinas teknis mengaku menyambut baik adanya ide tersebut. Apalagi Dinas Perhubungan hanya memiliki sembilan orang personel untuk memelihara sekitar 5.000 APJ ditambah traffic light hingga warning lamp.
“Adanya efisiensi energi ini perlu. Ditambah kami kekurangan tenaga untuk memelihara ribuan APJ. Namun, kembali lagi ke pimpinan, apakah nanti bisa menggandeng ESCO untuk pengelolaan APJ atau bagaimana. Tentunya, kami akan sampaikan ke pimpinan, keputusan di tangan pimpinan,” kata Fauzi. [fiq/beq]






