Jombang (berijatim.com) – Choirul Anam atau Cak Anam, tokoh NU (Nahdlatul Ulama) Jawa Timur, tutup usia pada usia 69 tahun, Senin (9/10/2023) pukul 05.45 WIB. Dia dimakamkan di samping ibundanya, Hj Sofiyah Mansur, di Dusun Kemirigalih Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang.
Pemakaman keluarga itu berada di belakang rumah orangtuanya. Kepergian Cak Anam ke peristirahan terakhir dilepas dengan doa dan derai air mata. Pria kelahiran Jombang 30 September 1954 ini dikenal sebagai sosok yang multi dimensi.
Seorang organisatoris, politikus, wartawan, juga sejarawan. Cak Anam sangat rajin menulis buku yang bertema NU. Tentu saja buku babon tentang NU lahir dari tangannya, yakni ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU.
Buku babon itu pertama kali dicetak oleh Penerbit Jatayu, Solo pada 1984. Penerbitannya guna menyambut Muktamar ke-24 NU di Situbondo. Kemudian, diterbitkan berulang kali oleh penerbit yang berbeda. Termasuk pada 2010 yang diterbitkan oleh PT Duta Aksara Mulia.
Selain itu ada sederet buku karya anak ketiga dari delapan bersaudara ini. Di antaranya, Pemikiran KH Achmad Siddiq, Konflik Elit PBNU Seputar Muktamar, Gerak Langkah Pemuda Ansor, PMII Berbagai Visi dan Persepi, Dua Tahun PKB Jawa Timur, Seandainya Aku Jadi Matori, Jejak Langkah Sang Guru Bangsa: Suka Duka Mengikuti Gus Dur Sejak 1978, serta KH. Abdul Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya.
BACA JUGA:
Jurnalis Senior Cak Anam Wafat, Gubernur Khofifah Berduka
Buku tentang KH Wahab Chasbullah ditulis saat Cak Anam mulai didera sakit. “Alhamdulillah, buku biografi tentang Kiai Wahab bisa diselesaikan oleh Cak Anam,” ujar M Kaiyis, adik kandung Cak Anam, saat di rumah duka.
Meskipun dalam kondisi sakit, semangat menulis Cak Anam tidak pernah padam. Ia memiliki rencana untuk menyempurnakan buku ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’ serta menulis buku yang mengulas kejatuhan Gus Dur dari jabatannya sebagai presiden RI. Sayangnya, keinginan tersebut tidak sempat terwujud.
“Cak Anam ingin meluruskan sejarah kejatuhan Gus Dur tampuk kekuasaan. Kerangkanya sudah ada dalam pikiran. Tapi belum terlaksana, beliau sudah meninggal. Juga keinginan penyempurnaan ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’,” ujar Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat ini.
BACA JUGA:
Cak Anam Meninggal, PDIP Surabaya Sampaikan Duka Mendalam
Cak Anam merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Almarhum Suhaji dan Sofiyah Mansur. Meski menjadi tokoh nasional, mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur ini tetap dekat dengan warga di desa kecil tempatnya lahir, yaitu Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto. Cak Anam tetap egaliter.
Di desa itu pula Cak Anam menempuh pendidikan dasar, yakni di MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama) pada tahun 1967. Kemudian melanjutkan ke Mu’alimin Darul ‘Ulum Rejoso Kecamatan Peterongan sekaligus merangkap di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Jombang selama enam tahun, hingga tamat keduanya pada 1973. Setelah itu Cak Anam melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Surabaya hingga tahun 1978.
Sosok Demokratis

Kepergian Cak Anam dirasa sangat berat bagi keluarga. Karena masih banyak cita-cita dan perjuangannya yang belum selesai. Di antaranya, modernisasi museum NU. Cak Anam menginginkan digitalisasi museum. Kemudian membangun dan membesarkan kampus Tashwirul Afkar, serta membangun guest house untuk kiai.
“Sehingga kiai-kiai yang ada di Indonesia, ketika ke Surabaya tidak perlu menginap di hotel. Kiai-kiai bisa menginap secara gratis di guest house tersebut. Sudah (ada) guest house-nya. Lokasinya di belakang museum. Untuk museum sudah terealisasi, guest house sudah ada walaupun aplikasinya belum,” ujar Kaiyis.
Adik kandung Cak Anam lainnya, Abdul Kholiq menyampaikan hal serupa. Namun Kholiq lebih melihat sosok Cak Anam yang demokratis. Cak Anam tidak pernah mendoktrin adik-adiknya. Cak Anam memberikan kebebasan kepada saudarnya, terutama dalam bidang politik.
BACA JUGA:
PWI Jombang Membincang Perjuangan KH Wahab Chasbullah
Semisal pada pemilu pertama era Reformasi (tahun 1999). Cak Anam menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Timur. Namun Abdul Kholiq justru berlabuh ke PDIP. Bahkan Kholiq akhirnya menjadi anggota DPRD Jombang dari partai berlambang moncong putih itu.
“Beliau sangat demokratis. Cak Anam tidak mempermasalahkan saya di PDIP. Padahal saat itu beliau menjabat sebagai Ketua PKB Jawa Timur. Cak Anam tidak pernah mendoktrin. Semua diberi kebebasan,” ujar Abdul Kholiq. [suf]






