Pacitan (beritajatim.com) – Musim angin timur membawa tantangan bagi nelayan di Kabupaten Pacitan. Hasil tangkapan ikan di perairan selatan Jawa dilaporkan merosot hingga 50 persen akibat angin laut yang cukup kencang membuat gerombolan ikan menyebar dan sulit ditemukan.
Jika pada musim normal kapal slerek mampu membawa pulang sekitar 20 ton ikan dalam sekali melaut, kini hasil tangkapan rata-rata hanya berkisar 10 ton.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, nelayan mengandalkan rumpon, yakni alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut untuk menarik gerombolan ikan berkumpul di satu titik.
Nelayan menyiapkan pelepah daun kelapa yang kemudian dirakit menjadi bagian dari rumpon. “Pelepah tersebut berfungsi sebagai tempat berlindung sekaligus menarik ikan agar berkumpul di satu titik,” kata salah satu Anak buah kapal (ABK) asal Pekalongan, Yuyun, Selasa (21/7/2026)
Yuyun mengatakan rumpon dipasang sekitar tiga mil dari bibir pantai. Setelah ikan berkumpul di bawah rumpon, nelayan lebih mudah menebarkan jaring. “Pelepah daun kelapa dipasang pada rumpon yang ditempatkan sekitar tiga mil dari pantai. Saat ikan sudah berkumpul, nelayan lebih mudah melakukan penangkapan,” ujarnya.
Menurut Yuyun, rumpon tidak hanya dimanfaatkan saat musim kemarau. Ketika angin kencang melanda perairan selatan, alat tersebut juga tetap efektif membantu nelayan meningkatkan hasil tangkapan.
Rumpon merupakan alat bantu penangkapan ikan yang menyerupai terumbu buatan. Di bagian bawahnya dipasang pelepah daun kelapa sebagai atraktor agar ikan pelagis seperti tongkol, cakalang, kembung hingga tuna kecil berkumpul di satu lokasi.
”Setiap rumpon dilengkapi pelampung dan titik koordinat, agar lokasi tersebut tidak ditangkap nelayan lain,” pungkasnya (tri/ian)






