Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) melatih para praktisi kehumasan lewat pelatihan bertajuk AI-Powered Public Relations: A Workshop on Social Media Listening with Big Data Analytics. Agenda ini diinisiasi sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) 2026 ini dihelat selama dua hari di Gedung C FISIP UB, Malang.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali praktisi Public Relations (PR) agar mampu mendeteksi isu lebih cepat, mengukur sentimen publik, dan merancang respons komunikasi yang presisi, etis, serta tetap berbasis data.
Ketua Tim Pelaksana PkM FISIP UB 2026, Maulina Pia Wulandari, Ph.D., mengungkapkan bahwa pemantauan media sosial secara manual sudah tidak lagi memadai untuk membendung masifnya volume percakapan digital dan potensi misinformasi saat ini. Meski begitu, dosen senior FISIP UB ini menegaskan pentingnya menempatkan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak.
”Teknologi dapat membantu kita membaca jutaan data dalam waktu singkat, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan keseluruhan pengalaman manusia,” ujar Pia pada beritajatim, Selasa (21/7/2026).
Pia menjelaskan, AI hendaknya tidak dipandang sebagai alat pemutus akhir atau pengganti akal budi manusia. Peran praktisi humas tetap vital dalam menyaring konteks, menangkap sarkasme, memahami bahasa lokal, hingga memastikan arah komunikasi tetap memiliki empati.
”Praktisi humas tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mengenali emosi publik, dan memastikan bahwa setiap keputusan komunikasi dilakukan secara akurat, etis, dan penuh empati,” tegas pakar komunikasi kehumasan tersebut.
Program PkM ini digarap oleh tim akademisi FISIP UB yang beranggotakan Sekar Arum Nuswantari, M.A., bersama jajaran mahasiswa. Demi menghadirkan perspektif industri yang aplikatif, FISIP UB menggandeng berbagai mitra strategis, mulai dari Perhumas BPC Malang Raya, Parimaya, hingga perusahaan teknologi Kazee Digital dan RVARE.
Dalam salah satu sesi praktikal, Direktur PT Reka Visi Aksara Relasi (RVARE), Andina Paramita Sari, M.IPR., membawakan materi bertajuk Mengubah Hasil Social Listening Menjadi Insight Strategis. Ia memandu peserta mengolah limpahan data digital menjadi rekomendasi nyata yang siap dieksekusi oleh manajemen.
Sepanjang lokakarya, para peserta diajak mensimulasikan situasi krisis nyata. Mereka belajar menyusun kata kunci pemantauan, mendeteksi influencer atau aktor pemantik isu, hingga menerapkan prompt engineering untuk mempercepat respons awal krisis. Aspek etika digital, seperti perlindungan privasi data, bias algoritma, dan transparansi teknologi, turut menjadi porsi pembahasan utama.
”Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat praktisi humas semakin mahir menggunakan teknologi. Kami ingin membantu mereka menjadi pendengar publik yang lebih baik, mampu menggunakan data secara bertanggung jawab, tetapi tetap melihat manusia di balik setiap percakapan,” tambah Pia.
FISIP UB juga memastikan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada sesi kelas pelatihan semata. Pihaknya telah merancang program pendampingan lanjutan (mentoring) bagi para peserta untuk menerapkan sistem pemantauan media sosial di instansi atau perusahaan masing-masing.
“Sebagai wujud keberlanjutan program, tim menerbitkan buku panduan praktis pemanfaatan AI untuk kehumasan, template analisis isu digital, serta rekomendasi tata kelola etika komunikasi digital. Program PkM 2026 ini sekaligus melanjutkan peta jalan Digital Public Relations FISIP UB yang konsisten digulirkan sejak 2024 guna mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” ungkap Pia menutup keterangan. (dan/but)






