Ponorogo (beritajatim.com) – Fenomena 4 sekolah dasar negeri (SDN) di Bumi Reog yang tidak mendapatkan murid baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027, menjadi alarm serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo.
Kondisi tersebut dinilai tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Selain berdampak pada keberlangsungan sekolah, situasi ini juga berpengaruh terhadap pemerataan layanan pendidikan. Karena itu, Pemkab Ponorogo mulai mengkaji berbagai solusi, termasuk opsi regrouping atau penggabungan sekolah.
Dalam SPMB 2026 sedikitnya ada 4 sekolah yang tercatat tidak memperoleh satu pun peserta didik baru. Yakni SDN Nailan, SDN Setono, SDN 3 Pomahan, dan SDN 4 Tempuran. Munculnya sekolah dengan nol murid baru ini, menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.
Namun, kebijakan regrouping dipastikan belum akan diputuskan dalam waktu dekat. Saat ini, proses yang dilakukan masih sebatas kajian dan pemetaan kondisi di lapangan.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, pemerintah ingin mengetahui lebih dulu akar persoalan yang menyebabkan sekolah-sekolah tersebut kehilangan peminat. Kajian dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Hasil pemetaan nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah yang paling tepat.
“Harus kami kaji bersama. Yang terlihat sekarang, masyarakat lebih banyak memilih sekolah swasta karena dianggap memiliki program yang lebih menarik,” kata Lisdyarita, Selasa (21/6/2026).
Menurut Bunda Rita sapaan akrabnya, sekolah negeri saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah keterbatasan dalam mengembangkan program unggulan.
Sebagian besar kegiatan sekolah masih bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kondisi tersebut membuat ruang inovasi di sejumlah sekolah menjadi lebih terbatas dibandingkan sekolah swasta.
Karena itu, Pemkab Ponorogo juga menyiapkan strategi agar sekolah negeri memiliki program yang lebih kompetitif. Pemkab Ponorogo berharap sekolah negeri mampu menghadirkan kegiatan yang menarik bagi peserta didik. Dengan begitu, kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri dapat kembali meningkat.
“Kami ingin sekolah negeri juga punya kegiatan yang mampu menarik minat masyarakat,” ungkapnya.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada sekolah yang dianggap favorit. Menurutnya, setiap sekolah memiliki potensi untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Faktor kenyamanan belajar dan jarak sekolah dengan tempat tinggal, juga layak menjadi pertimbangan orang tua.
“Semua sekolah punya potensi, harus jadi pertimbangan orang tua,” pungkasnya. (end/ian)






