Pamekasan (beritajatim.com) – Siswa SD Negeri Tamberu 2 Batumarmar, Pamekasan, belajar di dalam tenda alternatif seiring dengan adanya aksi penyegelan terhadap sekolah yang dilakukan oleh ahli waris pemilik lahan sekolah.
Bahkan sejak disegel akibat sengketa lahan yang belum tuntas antara ahli waris dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Minggu (19/10/2025). Ratusan siswa hanya datang untuk mengambil menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para siswa gagal melaksanakan proses pembelajaran seiring adanya aksi penyegelan dari pemilik lahan. Beruntung wali siswa bersama para guru memiliki inisiatif untuk mendirikan tenda alternatif sebagai ruang kelas sementara, sekalipun hal tersebut ditetapkan dengan cara lesehan.
“Hal itu kita lakukan sebagai langkah alternatif agar para siswa tetap bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar sebagaimana mestinya,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan, Mohammad Alwi, Senin (27/10/2025).
Selain itu pihaknya juga mengaku intens menjalin koordinasi bersama pihak terkait untuk mencari opsi dan solusi dari persoalan tersebut. “Saat ini kita fokus untuk mencari solusi terbaik dengan melakukan koordinasi bersama pihak terkait, termasuk meminjam tenda ke BPBD Pamekasan untuk digunakan sebagai kelas alternatif,” ungkapnya.
“Dan kami berharap semoga persoalan ini segera clear (konkrit) dan menemukan solusi terbaik bagi semua pihak, sehingga anak-anak (siswa SD Negeri Tamberu 2 Batumarmar) dapat kembali melaksanakan aktivitas belajar secara normal,” pungkasnya.
Dari berbagai informasi yang dihimpun beritajatim.com, penyegelan tersebut merupakan kali kedua, sebab sebelumnya sempat terjadi pada tahun 2024 lalu. Di mana ahli waris, Ach Rosyidi sengaja melakukan penyegelan sebagai bentuk protes kepada Pemkab Pamekasan.
Bahkan ia juga mengaku jika lahan yang ditempati SD Negeri Tamberu 2 Batumarmar, merupakan lahan milik keluarganya yang hingga saat ini masih belum terjadi sengketa dengan Pemkab Pamekasan.
Tidak hanya itu, ahli waris juga menilai jika ada iktikad baik dari Pemkab Pamekasan, khususnya dalam menyelesaikan persoalan sengketa. Kondisi tersebut juga mengakibatkan siswa menjadi korban. [pin/kun]






