Ringkasan Berita:
- Kementerian Ekraf menegaskan komitmen menghadirkan ruang kreatif yang aman dan ramah anak pada Hari Anak Nasional 2026.
- Penguatan ekosistem kreatif dilakukan melalui kolaborasi heksaheliks dengan berbagai pemangku kepentingan.
- Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menilai anak merupakan talenta kreatif masa depan menuju Indonesia Emas 2045.
- Program ini sejalan dengan Gerakan Nasional #RamahAmanNyamanAnak (GERNAS #RANA).
Jakarta (beritajatim.com) – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya memperkuat ruang-ruang kreatif yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak Indonesia. Langkah tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, sekaligus memperkuat strategi ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth yang berjalan beriringan dengan pemenuhan hak, perlindungan, dan partisipasi aktif anak dalam membangun ekosistem kreatif nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, investasi terbaik bagi bangsa adalah memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar, berkarya, dan mengembangkan potensinya sejak dini sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Hari Anak Nasional mengingatkan bahwa salah satu investasi bagi bangsa yaitu memastikan setiap anak dapat belajar dan berkarya menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Ekraf senantiasa berkomitmen menghadirkan kreatif hub yang ramah anak sehingga talenta-talenta muda Indonesia dapat berkembang menjadi generasi inovatif dari local champion menuju national champion hingga berdaya saing go global,” kata Teuku Riefky Harsya.
Menurutnya, anak merupakan sumber inspirasi sekaligus calon pelaku ekonomi kreatif masa depan yang perlu mendapatkan ruang untuk belajar, berekspresi, serta berinovasi melalui lingkungan yang aman, nyaman, dan kolaboratif.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Ekraf mengedepankan pendekatan kolaborasi heksaheliks dengan melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, serta lembaga keuangan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ruang kreatif yang bebas dari diskriminasi maupun eksploitasi terhadap anak.
Inisiatif tersebut juga selaras dengan semangat Gerakan Nasional #RamahAmanNyamanAnak (GERNAS #RANA) yang mendorong seluruh elemen masyarakat berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak di berbagai daerah.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menambahkan, ekonomi kreatif tidak hanya berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial yang berkelanjutan melalui edukasi, kolaborasi lintas sektor, hingga pembukaan peluang baru bagi para pelaku ekonomi kreatif.
“Kementerian Ekraf senantiasa memastikan ekosistem kreatif tumbuh dalam mendorong kreativitas, menghargai keberagaman, serta membangun karakter anak yang siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Melalui penguatan ruang kreatif yang inklusif dan ramah anak, Kementerian Ekraf berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang mampu berkembang menjadi pelaku ekonomi kreatif yang inovatif, berdaya saing, dan siap mengharumkan nama Indonesia di tingkat global. [hen/beq]






