Jember (beritajatim.com) – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan untuk memasukkan variabel sistem manajerial lembaga pendidikan yang adaptif, inovatif, dan berbasis digital, dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
“Dengan adanya sistem manajerial yang modern dan responsif terhadap perkembangan zaman, diharapkan lembaga pendidikan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif dan efisien,” kata Alfan Yusfi, juru bicara Fraksi PDIP, dalam sidang paripurna pembahasan dua rancangan peraturan daerah, di gedung DPRD Jember, Senin (17/2/2025).
PDIP percaya hal ini akan berkontribusi untuk melahirkan siswa-siswi yang berkualitas, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan globalisasi. “Ini bagian dari kewajiban untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas bagi generasi mendatang,” kata Alfan.
Alfan menyadari, pembangunan sarana maupun prasarana merupakan indikator penting dalam pendidikan. “Namun, yang tidak kalah penting adalah pengembangan sistem manajerial lembaga pendidikan yang bersifat adaptif, inovatif, dan berbasis digital,” kata Alfan.
Menurut Alfan, kelengkapan sarana dan prasarana lembaga pendidikan akan menjadi kurang optimal jika tidak didukung sistem manajerial yang baik. “Pendidikan perlu mendapatkan perhatian dan pembangunan yang serius dari pemerintah daerah, baik dalam aspek fisik maupun dalam pengelolaan manajerial lembaga pendidikan,” katanya.
Rancangan Perda Penyelenggaraan Pendidikan adalah satu dari dua rancangan perda yang dibahas DPRD Jember pada awal 2025. Selain perda tersebut, ada Perda Penyelenggaraan Pendidikan Wawasan Kebangsaan.
Sementara itu, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pendidikan. “Pendanaan pendidikan harus diarahkan untuk memastikan pemerataan akses dan peningkatan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Kabupaten Jember,” kata Susmiati, juru bicara Fraksi PPP.
Fraksi PPP mendorong agar pendidikan nonformal dan informal mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan pendidikan formal. “Pendidikan nonformal, seperti kursus keterampilan dan pelatihan, dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak memiliki akses ke pendidikan formal,” kata Susmiati.
Namun PPP mengingatkan perlunya keseimbangan antara iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi . “Visi PPP mengedepankan pendidikan yang holistik dan berorientasi pada pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan berdaya saing tinggi,” kata Susmiati.
“Kami menekankan pentingnya pendidikan agama sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama tidak hanya harus diarahkan pada pembentukan iman dan takwa, tapi juga pada penguatan karakter dan moral peserta didik,” kata Susmiati. [wir]






