Jakarta (beritajatim.com) – Memasuki usia 40 tahun, banyak perempuan mulai merasakan perubahan pada tubuhnya.
Mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur, sulit tidur, suasana hati yang mudah berubah, tubuh cepat lelah hingga kenaikan berat badan.
Sayangnya, gejala tersebut kerap dianggap sebagai hal biasa akibat kesibukan menjalankan berbagai peran dalam keluarga maupun pekerjaan.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal perimenopause, yakni fase transisi menuju menopause yang memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga kualitas hidup perempuan.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Primaya Hospital menggelar seminar bertajuk “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause” bersama Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli di Jakarta.
Seminar tersebut menghadirkan dokter spesialis dari berbagai bidang untuk memberikan edukasi mengenai perubahan tubuh perempuan secara menyeluruh.
CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali menegaskan bahwa perempuan membutuhkan pendampingan kesehatan yang komprehensif selama memasuki masa perimenopause.
“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman. Yang terpenting adalah memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis sehingga perempuan tetap sehat, percaya diri, dan produktif,” ujarnya.
Perimenopause Bisa Dimulai Sebelum Menopause
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Martina Hutabarat, Sp.OG menjelaskan bahwa perimenopause merupakan masa transisi yang ditandai dengan fluktuasi hormon estrogen dan progesteron.
Secara rata-rata, perempuan mulai memasuki fase ini pada usia 47,5 tahun, sedangkan menopause terjadi sekitar usia 51,3 tahun.
Perubahan hormon tersebut tidak hanya memengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga berdampak pada kesehatan tulang, metabolisme, kualitas tidur, kandung kemih, kondisi kulit, rambut, hingga kesehatan mental.
Dengan harapan hidup perempuan yang kini mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga kehidupannya akan dijalani setelah memasuki fase klimakterik. Karena itu, edukasi sejak dini dinilai sangat penting.
Bukan Sekadar Masalah Hormon
Seminar tersebut juga mengulas bahwa perimenopause bukan hanya persoalan reproduksi.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang guna menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, sekaligus mengurangi risiko penyakit kronis.
Sementara Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Komang Ardi Wahyuningsih menjelaskan bahwa penurunan hormon estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang.
Akibatnya, kulit menjadi lebih tipis, kering, kehilangan elastisitas, bahkan sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause.
Rambut pun cenderung menjadi lebih tipis akibat perubahan siklus pertumbuhan rambut.
Aktivitas Fisik dan Mental Tak Boleh Diabaikan
Selain perubahan fisik, kesehatan mental menjadi perhatian utama selama masa perimenopause.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Leonita Ariesti Putri menjelaskan bahwa perubahan suasana hati merupakan respons biologis akibat perubahan hormon yang sering kali bertepatan dengan tekanan pekerjaan, keluarga, hingga perubahan sosial.
“Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit. Jika gejalanya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional,” katanya.
Ia juga menyarankan metode sederhana STOP (Stop, Tarik Napas, Observasi, Pilih Respons) sebagai cara mengelola stres sehari-hari.
Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dr. Gustiawaty Army mengingatkan pentingnya olahraga rutin untuk menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, sekaligus mengurangi berbagai keluhan yang muncul selama perimenopause.
Edukasi Agar Perempuan Tidak Merasa Sendiri
CEO sekaligus Co-Founder Yoona Women, Susanna Angraini, menilai masih banyak perempuan yang enggan membicarakan perimenopause karena dianggap tabu.
Menurutnya, keterbukaan sangat penting agar perempuan memahami bahwa perubahan tersebut merupakan proses alami yang dialami banyak orang.
Semangat serupa juga disampaikan COO & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo, yang menilai perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan.
Menurutnya, dengan pemahaman yang baik, dukungan keluarga, lingkungan kerja, serta pendampingan medis yang tepat, perempuan tetap dapat berkarya dan memimpin di berbagai bidang.
Melalui seminar ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak perempuan berani mengenali tanda-tanda perimenopause sejak dini sehingga dapat menjalani setiap fase kehidupan dengan sehat, nyaman, dan penuh percaya diri. (ted)






