Blitar (beritajatim.com) – Selama masa Hari Raya Idul Adha 2024 ini, transaksi hewan kurban di Kabupaten Blitar tembus mencapai Rp 100 miliar. Rincian jumlah transaksi tersebut adalah untuk sapi 2.189 ekor senilai sekitar 46 miliar
Sementara untuk kambing 14.692 ekor nilainya mencapai Rp 51 miliar. Untuk domba yang disembelih mencapai 335 ekor dengan nilai Rp 1.005 miliar dan kerbau 1 ekor Rp 30 juta.
Hal itu disampaikan oleh Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, Nanang Miftahudin. Menurutnya selama Hari Raya Idul Adha 1444 H/2024, ada 17.500 ekor hewan kurban yang disembelih.
“Sesuai rekap data terakhir yang masuk sampai 19 Juni 2024 jam 16.00 WIB, jumlah hewan kurban meningkat sekitar 5 persen dibanding 2023 lalu,” ucap Nanang, Kamis (20/06/2024).
Adapun rincian jumlah hewan kurban yang disembelih tersebut adalah sapi 2.189 ekor sapi, kambing 14.699 ekor kambing, 335 ekor domba dan 1 ekor kerbau.
Jumlah hewan kurban yang disembelih tahun ini meningkat 5 persen dari tahun sebelumnya. Sehingga perputaran uang pada momen Hari Raya Idul Adha ini juga lebih banyak.
“Hewan-hewan kurban tersebut disembelih tersebar di 3.245 titik potong, baik di RPH maupun lokasi lainnya yang diawasi oleh petugas gabungan yang dikoordinir Disnakkan Kabupaten Blitar.
Sedangkan daging kurban hasil penyembelihan, didistribusikan kepada sekitar 400.000 penerima,” bebernya
Meningkat jumlah hewan kurban tersebut, membuat petugas pengawas penyembelihan yang diterjunkan pada momen Idul Adha ini juga meningkat. Total ada 273 orang petugas yang diterjunkan untuk memantau kesehatan hewan kurban.
Hasilnya petugas menemukan penyakit cacing hati di 140 ekor sapi, kambing 107 ekor, domba 3 ekor dan pneumonia 1 ekor sapi.
“Jumlah temuan cacing hati pada hewan kurban ini menurun dibanding 2023, kalau tahun lalu sekitar 300 ekor. Meskipun jumlah hewan kurban tahun ini bertambah,” tegasnya
Penyebab masih ditemukannya penyakit cacing hati pada hewan kurban ini, karena normatif di daerah tropis dan kurangnya kesadaran masyarakat peternak untuk rutin memberi obat cacing tiap 4 bulan.
“Selain itu, untuk bisa diketahui kondisinya saat sebelum disembelih juga sulit dideteksi,” paparnya. (owi/ted)






