Surabaya (beritajatim.com) – Pendakian ke Puncak Carstensz Pyramid, Papua, berakhir tragis setelah dua pendaki asal Indonesia meninggal dunia akibat hipotermia. Cuaca ekstrem yang melanda jalur pendakian menjadi faktor utama yang menyebabkan tragedi ini. Dari lima pendaki WNI yang berjuang di medan berat tersebut, tiga di antaranya berhasil selamat setelah bermalam di Summit Ridge menunggu pertolongan.
Dua korban meninggal dunia, yakni Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono, ditemukan di Teras 2 saat perjalanan turun dari puncak. Mereka mengalami kondisi hipotermia parah akibat hujan salju, hujan deras, serta angin kencang yang mengguyur kawasan tersebut.
Tiga pendaki lainnya, yaitu Indira Alaika, Alvin Reggy, dan Saroni, berhasil bertahan di Summit Ridge hingga tim penyelamat datang mengevakuasi mereka ke Base Camp Yellow Valley.
Salah satu pendaki yang selamat asal Tuban, Jawa Timur, Indira Alaika, mengisahkan perjuangan hidupnya menghadapi badai yang tak terduga. Ia bersama Alvin dan Saroni terpaksa bertahan di ketinggian tanpa perlindungan memadai selama satu malam penuh.
“Kami tidak bisa bergerak turun karena kondisi benar-benar buruk. Angin kencang, hujan salju, dan dingin yang menusuk membuat tubuh kami nyaris tidak bisa bergerak. Kami hanya bisa bertahan dengan apa yang ada sambil berharap pertolongan datang,” ungkap Indira dikutip dari instagram pribadinya, Minggu (2/3/2025).
Menurutnya, tim penyelamat mengalami kesulitan besar dalam proses evakuasi. Beberapa upaya yang dilakukan para guide terhambat oleh cuaca ekstrem. Salah satu guide, Yustinus Sondegau, bahkan harus kembali ke Base Camp setelah terhenti di Teras Besar karena badai semakin menggila.
Indira bercerita rombongan pendaki berangkat dari Bandara Moses Kilangin, Timika, menggunakan helikopter menuju Base Camp Yellow Valley. Setelah menjalani aklimatisasi selama dua hari dan latihan teknis, mereka mulai mendaki ke puncak pada pukul 04.00 WIT. Tim ini terdiri dari 20 orang, termasuk 5 guide, 7 pendaki WNI, 6 pendaki asing, serta 2 pendaki dari Taman Nasional Lorentz.
Ketika badai melanda, situasi menjadi tidak terkendali. Sekitar pukul 20.45 WIT, salah satu guide, Nurhuda, kembali ke Base Camp dalam kondisi hipotermia dan segera meminta bantuan.
“Upaya penyelamatan dilakukan oleh beberapa tim secara bertahap, tetapi medan yang berat dan cuaca yang semakin memburuk menghambat mereka mencapai lokasi para pendaki yang terjebak,” tulis alumnus FISIP Unair ini.
Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan para pendaki yang terjebak di ketinggian. Guide lokal, Yustinus Sondegau, mencoba membawa bantuan berupa sleeping bag, fly sheet, air panas, dan radio, namun terpaksa berhenti di Teras Besar. Sementara itu, guide asal Nepal, Dawa Gyalje Sherpa, mencapai Teras 2 dan menemukan Lilie serta Elsa dalam kondisi kritis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Tim penyelamat internasional yang terdiri dari Garret Madison, Tashi Sherpa, dan Ben Jones akhirnya berhasil mencapai Summit Ridge dan menemukan Indira, Alvin, serta Saroni dalam kondisi kritis.
Mereka segera diberikan perawatan darurat, termasuk mengganti pakaian basah, memberikan makanan, minuman isotonik, serta obat-obatan untuk membantu pemulihan sebelum akhirnya dievakuasi ke Base Camp Yellow Valley.
“Begitu tim penyelamat tiba, rasanya seperti keajaiban. Kami sudah hampir kehilangan harapan. Mereka membantu kami bertahan dan membawa kami turun dengan selamat,” ujar Indira.
Kini, proses pemulangan jenazah Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono masih dalam koordinasi dengan pihak terkait. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pendakian ke Puncak Carstensz bukan sekadar petualangan, tetapi juga menuntut kesiapan fisik, mental, serta kewaspadaan tinggi terhadap kondisi cuaca yang bisa berubah sewaktu-waktu. [asg/aje]






