Ponorogo (beritajatim.com) – Kawanan monyet ekor panjang yang kembali memenuhi kawasan sekitar Telaga Ngebel, Ponorogo, memunculkan anggapan bahwa habitat satwa liar di lereng Gunung Wilis itu telah rusak. Namun, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memastikan fenomena tersebut bukan disebabkan kerusakan habitat. Lembaga tersebut memastikan fenomena itu merupakan siklus tahunan yang selalu muncul saat musim kemarau.
BBKSDA Jawa Timur menjelaskan, berkurangnya ketersediaan pakan alami di kawasan hutan lereng Gunung Wilis, menjadi penyebab utama satwa liar tersebut turun hingga ke kawasan permukiman dan pasar di Telaga Ngebel. Saat musim kemarau, jumlah buah-buahan serta sumber makanan alami di dalam hutan tidak sebanyak musim penghujan.
“Ini memang fenomena tahunan,” kata Kasi BKSDA Wilayah II BBKSDA Jawa Timur, Gatot Kuncoro Edy, ditulis Selasa (21/7/2026).
Gatot mengatakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) itu, secara alami akan berpindah mencari sumber makanan, ketika persediaan pakan di habitatnya menurun. Sehingga tidak terlalu mengherankan jika saat memasuki musim kemarau ini, kawanan monyet itu turun ke kawasan Telaga Ngebel.
“Bukan pakannya habis, tetapi saat kemarau jumlah buah-buahan dan sumber pakan alami di hutan berkurang. Sehingga mereka turun mencari makan,” ungkapnya.
Menurut Gatot, perilaku masyarakat yang kerap memberikan makanan kepada kawanan monyet justru membuat persoalan semakin sulit dikendalikan. Satwa liar itu lambat laun akan menganggap, pemukiman dan kawasan pasar sebagai lokasi yang mudah memperoleh makanan sehingga terus kembali.
Karena itu, BBKSDA Jawa Timur telah menurunkan petugas untuk memberikan edukasi kepada pedagang maupun warga. Yakni agar menghentikan kebiasaan memberi makan satwa liar. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan monyet terhadap makanan dari manusia.
“Kalau dibiasakan, mereka akan terus turun dan bergantung pada makanan dari manusia,” tegasnya.
Selain itu, BBKSDA Jawa Timur juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati ataupun memancing interaksi dengan kawanan monyet. Meski hingga kini belum ada laporan serangan terhadap warga, satwa liar tetap memiliki naluri mempertahankan diri apabila merasa terancam. Gatot menegaskan, tindakan paling aman adalah menjaga jarak dan tidak memberikan umpan kepada kawanan monyet. Dengan begitu, potensi konflik antara manusia dan satwa liar dapat diminimalkan.
“Kalau didekati atau rasa terganggu atau dipancing diprovokasi tentu bisa berbahaya,” pungkasnya. [end/aje]






