Ringkasan Berita:
- Pemkab Gresik membangun Sentra IKM Logam senilai Rp14 miliar di Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian.
- Proyek yang dikerjakan selama 150 hari itu akan menjadi pusat produksi dan pelatihan bagi pelaku industri logam.
- Sebanyak 42 pelaku IKM logam menjadi sasaran utama program untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.
- Sentra IKM Logam diharapkan mampu menghubungkan UMKM dengan kawasan industri besar di Gresik hingga pasar ekspor.
Gresik (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik membangun Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Logam senilai sekitar Rp14 miliar di Desa Hulaan, Kecamatan Menganti. Proyek yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian itu ditargetkan menjadi pusat produksi sekaligus pelatihan guna meningkatkan daya saing pelaku industri logam di Gresik.
Pembangunan sentra tersebut dijadwalkan berlangsung selama 150 hari. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri logam lokal sekaligus membuka peluang kemitraan antara pelaku UMKM dengan industri berskala besar.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, pembangunan Sentra IKM Logam bertujuan mengatasi berbagai kendala yang selama ini dihadapi pelaku usaha, terutama keterbatasan akses terhadap peralatan produksi modern dan jaringan industri.
“Keberadaan sentra IKM logam ini akan meningkatkan kemampuan produksi para pelaku usaha sekaligus menyediakan sarana permesinan yang lebih modern. Harapannya, pelaku IKM dapat bersinergi dan membangun kemitraan dengan kawasan industri yang ada di Gresik,” katanya, Selasa (21/7/2026).
Lokasi pembangunan dipilih di Desa Hulaan karena berada di dekat dua sentra IKM logam, yakni Desa Laban dan Desa Pelemwatu. Kedua desa tersebut selama ini dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas industri logam yang cukup berkembang serta memiliki komunitas pelaku usaha yang aktif.
Sebanyak 42 pelaku IKM logam menjadi sasaran utama dalam program ini. Menurut Yani, Gresik memiliki potensi besar sebagai salah satu kawasan industri logam nasional dengan keberadaan sejumlah industri besar, termasuk smelter, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan PT Smelting.
Ia menjelaskan, potensi tersebut menjadi perhatian Kementerian Perindustrian sehingga pemerintah pusat mendorong penguatan industri kecil sektor logam agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri manufaktur.
“Dengan banyaknya kawasan industri logam di Gresik, pemerintah ingin pelaku IKM tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi mitra industri yang memasok kebutuhan manufaktur,” ungkapnya.
Selama ini, pelaku usaha logam di Desa Laban dan Desa Pelemwatu masih menghadapi kendala keterbatasan mesin produksi. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat ketika menerima pesanan dalam jumlah besar karena harus menggunakan jasa permesinan dari pihak lain.
Melalui Sentra IKM Logam, pemerintah berharap pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitas produksi bersama sehingga biaya operasional menjadi lebih efisien, kualitas produk meningkat, serta kapasitas produksi semakin besar.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Gresik Choirul Rizal mengatakan, 42 pelaku IKM logam di wilayah tersebut rata-rata memproduksi berbagai peralatan pertanian seperti mesin perontok padi, mesin pencacah bawang, mesin parut, hingga mesin pencacah rumput dengan kapasitas penggunaan besi plat baja berkisar antara 1 hingga 3 ton.
“Ke depan, sentra IKM Logam juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi antara pelaku UMKM, industri besar, dan pemerintah. Melalui sinergi tersebut, UMKM logam lokal diharapkan mampu naik kelas serta menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun ekspor,” pungkasnya. [dny/beq]






