Jember (beritajatim.com) – Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditargetkan memiliki layanan home care atau pelayanan langsung ke rumah pasien.
Kabupaten Jember memiliki 50 puskesmas berstatus badan layanan umum daerah (BLUD) yang beroperasi di 31 kecamatan. Mereka diharapkan memiliki sarana pendukung mobilitas layanan kesehatan untuk proaktif ke masyarakat.
“Jadi ke depan kita cek kesehatan para lansia sampai ke rumahnya. Tidak menunggu mereka datang ke puskesmas. Istilahnya home care,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Jupriono, ditulis Sabtu (5/7/2025).
Dengan demikian, puskesmas diharapkan memiliki mobil khusus untuk layanan rumah tersebut. “Jadi petugas datang tidak pakai ambulans. Mereka pakai mobil kesehatan, mobil home care. Dan ini terafiliasi BPJS. kesehatan,” kata Jupriono.
Mengawali itu, saat ini, Pemkab Jember tengah mengevaluasi 53 badan layanan umum daerah (BLUD) yang terdiri atas tiga rumah sakit daerah dan 50 puskesmas. “Kita audit secara internal, bukan dengan maksud menghakimi,” kata Jupriono.
Melalui evaluasi tersebut, Pemkab Jember ingin mendalami kondisi 53 BLUD. “Dengan harapan di situ ada SOP (Prosedur Operasional Standar) pelayanan, SOP keuangan, bagaimana tata kelola keuangannya, bagaimana tata kelola manajemennya, bagaimana tata kelola sumber daya manusianya,” kata Juptiono.
Menurut Jupriono, Pemkab Jember ingin BLUD mandiri tidak hanya dari aspek keuangan, tapi juga sarana prasarana. “Masyarakat harus dimuliakan. Semua ruangan puskesmas harus ber-AC. Jadi, sampai lapisan masyarakat terbawah harus menikmati AC ketika dilayani dan harus bersih,” katanya.
Peningkatan layanan kesehatan ini tak lepas dari besarnya sumber PAD dari BLUD. “Mayoritas BLUD kita di situ,” kata Jupriono.
Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat DPRD Jember David Handoko Seto sepakat dengan adanya layanan home care oleh puskesmas. Namun dia mengingatkan agar jenis mobil disesuaikan dengan kondisi bentang alam di masing-masing kawasan.
David tak ingin kekeliruan pengadaan ambulans terulang kembali. “Penempatan ambulans di beberapa wilayah kurang pas. Contoh di kawasan Bandealit, semestinya mendapatkan ambulans 4×4 (four wheels drive), bukan Luxio. Tapi justru yang di kota mendapat ambulans 4×4. Ini salah,” katanya.
David meminta ada tinjauan kembali terhadap kendaraan operasional puskesmas oleh Dinas Kesehatan Jember. “Jadi dipetakan kondisi geografis wilayah yang memang membutuhkan kendaraan-kendaraan tertentu,” katanya. [wir]






