Ringkasan Berita
* Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) bersama Yayasan Harapan Lingkungan Hidup (YHLH) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat di Kalurahan Banyuraden, Sleman, pada Juni dan Juli 2026.
* Program ini memberikan solusi atas permasalahan lele over-size hasil budidaya pakan mikrobial melalui pelatihan diversifikasi olahan pangan berbasis zero waste (nugget, sempol, telur gabus tulang, dan keripik kulit lele) bagi Kelompok Dasawisma.
* Selain edukasi pengolahan dan kemasan, peserta juga mendapatkan pelatihan branding digital serta dilibatkan dalam FGD penjaminan rantai pasok lokal demi mewujudkan UMKM pangan yang berkelanjutan.
————————————————————————
Sleman (beritajatim.com) – Tim Pengabdian Masyarakat Program Dosen Berkarya (DOKAR) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan Yayasan Harapan Lingkungan Hidup (YHLH) menggelar program pemberdayaan ekonomi di Kalurahan Banyuraden, Sleman. Mengusung pendekatan zero waste, kolaborasi ini sukses menyulap lele over-size menjadi jajaran produk olahan bernilai jual tinggi.
Rangkaian kegiatan diawali pada 16–18 Juni 2026 melalui pelatihan pengolahan pangan berbasis whole fish utilization (pemanfaatan seluruh bagian ikan). Inisiatif ini digagas untuk menjawab masalah nyata peternak lele lokal. Penggunaan pakan sehat berbasis mikrobial dari YHLH memang menghasilkan lele yang tumbuh sangat cepat dan berkualitas. Namun, pertumbuhan cepat ini sering membuat lele melewati batas ukuran standar pedagang pengumpul (tengkulak) jika jadwal panen meleset.
“Kami melihat ukuran lele yang melebihi standar pasar bukan sekadar hambatan pemasaran, melainkan peluang hilirisasi. Dengan pendekatan zero waste, seluruh bagian ikan dapat diolah tanpa menyisakan limbah sehingga bernilai ekonomis tinggi,” terang Ketua Tim Pengabdian FTAB UB, Dr.nat.techn. Sudarma Dita Wijayanti, S.TP., M.Sc., MP.
Dalam pelatihan tersebut, Kelompok Dasawisma Kalurahan Banyuraden diajarkan mengolah lele secara utuh menjadi nugget lele, sempol lele, telur gabus tulang lele, hingga keripik kulit lele. Selain olahan pangan, warga juga dibekali materi sertifikasi produk, pelabelan, hingga teknologi pengemasan. Evaluasi mencatat adanya peningkatan pemahaman peserta hingga 89%.
Untuk menyempurnakan kesiapan pasar, program berlanjut pada 15–18 Juli 2026 dengan pelatihan “Branding dan Pemanfaatan Platform Digital untuk Promosi Produk UMKM” yang dibawakan oleh Dr. Nur Ida Panca Nugrahini, STP, MP. Warga diajarkan membuat identitas merek, konten promosi menarik, serta strategi pemasaran digital di media sosial.
Perwakilan Kelompok Peternak Lele, Yossi, menyambut positif program ini.
“Kami tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pedagang pengumpul. Lele berukuran besar yang tadinya sulit dijual kini punya nilai tambah,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Kelompok Dasawisma Banyuraden, Hayati, optimistis keterampilan baru ini mampu menjadi unit usaha bersama untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Kegiatan diakhiri dengan Focus Group Discussion (FGD) antara kelompok peternak dan kelompok Dasawisma untuk membentuk rantai nilai (value chain) yang berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan dapat menjadikan Kalurahan Banyuraden sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular dan UMKM pangan lokal terpadu.[rea]






