Malang (beritajatim.com) – Dosen dan psikolog Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi., menyebut skizofrenia menjadi penyakit mental terberat yang dapat dialami calon legislatif (caleg) apabila gagal dalam kontestasi pemilu. Pengidap skizofrenia mengalami putus dengan realitas sehingga tidak bisa menerima realitas objektif.
“Orang skizofrenia itu orang gila di jalan yang ngomong sendiri. Mereka punya dunia sendiri yang berbeda dengan realitas objektif, punya dunia yang sangat subjektif,” ungkap Dr. Ika kepada beritajatim.com, Jumat (16/2/2024).
Selain itu, penyakit mental lain yang mungkin dialami caleg gagal ialah stress dan depresi. Bahkan untuk depresi dapat mengarah pada bunuh diri.
“Orang depresi itu karena hopeless, tidak punya harapan dan tidak berdaya dalam hidup. Jadi yang rentan itu ada tiga, stres, depresi, dan terberat skizofrenia,” ujar Ika Andrini.
Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UM tersebut menyebut dua hal yang perlu dipersiapkan caleg agar siap dan matang secara mental. Dengan persiapan itu, caleg yang gagal dapat melakukan self health atau kesehatan mental sendiri.
Pertama, kematangan kognitif dan intelektual. Kedua, emosional spiritual. Kematangan kognitif dan intelektual berkaitan dengan analisis strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang), dan threats (ancaman) atau SWOT pada dirinya sendiri.
“Ada yang sudah matang, ada yang belum. Setiap caleg ibaratnya mau perang. Mestinya, melakukan analisis SWOT pada dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangannya apa, kekuatan dan kelemahannya apa, sumber daya yang dimiliki seberapa,” katanya.
Di samping itu, kematangan emosional spiritual juga diperlukan. Caleg perlu memahami waktu untuk ikhtiar dan waktunya tawakal.
“Jika tidak tahu itu, maka bisa jadi tidak menerima hasilnya. Apalagi hasil itu bukan kita yang tentukan. Memang sudah ikhtiar, secara hasil harusnya tawakal,” ungkap dosen psikologi tersebut.
Menurutnya, jika memiliki analisis yang baik maka seseorang dapat memprediksi peluang untuk menang. Namun, menjadi problem apabila prediksinya tidak akurat.
“Misalkan prediksinya sekitar 50 persen, kemudian itu akurat, itu dia sudah dengan segala kemungkinan. Berbeda dengan caleg yang secara kognitif dan intelektual kurang sehingga tidak bisa berhitung dan memprediksi, apalagi over confident, itu yang secara mental bisa kacau,” ungkap Ika.
Bagi caleg yang gagal melakukan self health, Ika Andrini menyarankan agar pergi ke psikolog maupun Rumah Sakit yang sudah siap menampung. Selain itu, bagi caleg yang gagal dalam kontestasi pemilu hendaknya terbuka untuk konsultasi apabila mengalami masalah mental. [dan/beq]






