Mojokerto (beritajatim.com) – Pejabat (Pj) Wali Kota Mojokerto Moh Ali Kuncoro memaparkan Kinerja Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Stunting di Kota Mojokerto Tahun 2023 secara daring di Sabha Mandala Madya, Balai Kota Mojokerto. Pemaparan tersebut dalam rangka Penilaian Kinerja Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi di Kota Mojokerto.
Di hadapan tim panelis yang terdiri dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Provinsi Jawa Timur, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Timur.
Serta United Nations Children’s Fund (UNICEF) Jawa Timur, Mas Pj (sapaan akrab, red) memaparkan substansi dari 8 Aksi Konvergensi Stunting yang dimaksud. Yakni Aksi 1 Analisa Situasi Stunting, Aksi 2 Rencana Kegiatan, Aksi 3 Rembug Stunting, Aksi 4 Regulasi Tentang Stunting, Aksi 5 Pembinaan Unsur Pelaku, Aksi 6 Sistem Manajemen Data, Aksi 7 Data Cakupan Sasaran dan Publikasi Data, dan Aksi 8 Review Kerja.
“Penurunan stunting memang menjadi salah satu persoalan yang kami sangat concern. Kami betul-betul kerahkan upaya maksimal dengan melibatkan 17 OPD dan sinergi kolaborasi Pentahelix,” ungkap orang nomor satu di lingkup Pemkot Mojokerto ini.
Diantara beragam kegiatan dalam Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Stunting di Kota Mojokerto tahun 2023, Pemkot Mojokertp memiliki salah satu inovasi andalan yaitu Canting Gula Mojo. Canting Gulo Mojo akronim dari Cegah Stunting, Gerak Unggul Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto ini merupakan strategi pencegahan stunting dari hulu ke hilir.
“Jadi mulai dari remaja putri sudah kami edukasi dan dilakukan pemantauan TTD oleh KKR/PIK-R. Lalu, calon pengantin juga mendapatkan edukasi dan pemeriksaan pra nikah di Poli Laduni yang bisa di akses di tiap puskesmas. Sasaran program dan kegiatan dari inovasi Canting Gula Mojo berlanjut untuk para ibu hamil, ibu pasca salin dan anak usia 0-59 bulan (balita),” jelasnya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur ini menjelaskan, jika inovasi tersebut memiliki peran signifikan dalam penurunan angka stunting di Kota Mojokerto. Terbukti, berdasarkan data EPPGBM prevalensi stunting pada April 2024 berada di persentase 1,95 persen, turun dibanding tahun sebelumnya yaknu di angka 2,04 persen.
“Data-data ini coba terus kami update dan bisa dipantau secara mudah, bahkan by name by address, melalui aplikasi Gayatri, Gerbang Layanan Informasi Terpadu dan Terintegrasi. Ini juga sudah terintegrasi dengan SATU SEHAT Kementerian Kesehatan,” tambahnya. [tin/but]






