Surabaya (beritajatim.com) – Persada Indonesia mencetak sejarah baru dalam industri perjalanan umrah dengan biaya yang lebih transparan inovasi pelayanan penyelenggaraan ibadah umrah terbarunya. Inovasi ini menjanjikan transparansi penuh dalam setiap aspek perjalanan umrah, mulai dari rincian tujuan hingga pembiayaan.
“Kita akan transparansikan biaya dengan berbasis teknologi. Jadi semua masyarakat, semua jemaah akan tahu detail komponen biaya, HPP umrahnya yang akan dijalankan,” kata Syarif Hidayatullah, CEO Persada Indonesia, saat peluncuran aplikasi di Surabaya.
Lewat acara tema FOMO : Bring The Future of Umrah Journey Persada Indonesia memperkenalkan inovasi layanan terbarunya ini. Dan ini bagian dari dukungan Persada Indonesia terhadap upaya Kementerian Agama dalam memperbaiki tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah. Syarif berharap, inovasi dari Surabaya ini dapat menjadi penggerak perubahan bagi industri umrah di seluruh Indonesia.
Inovasi layanan ini dirancang untuk memberikan kemudahan dan transparansi bagi calon jemaah umrah. Dengan aplikasi ini, jemaah dapat mengakses informasi lengkap mengenai rincian biaya perjalanan umrah secara detail, jadwal keberangkatan dan kepulangan. Akomodasi dan transportasi selama di Tanah Suci dan program bimbingan ibadah hingga layanan pelanggan 24/7.
“Ini adalah sebuah inovasi terbaru dan ini merupakan komitmen dari Persada Indonesia untuk memberikan pelayanan umroh secara transparan, kemudian secara mudah dan berteknologi,” ujar Syarif.
Peluncuran ini juga dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang sering terjadi dalam industri umrah, seperti penipuan, penelantaran jemaah, dan layanan yang tidak sesuai. Data dari Statsme menunjukkan bahwa kasus penipuan umrah terus meningkat dari tahun 2023 hingga 2025.
“Ada ratusan aduan terkait penelantaran jemaah, gagal berangkat, dan layanan tidak sesuai diterima setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena kurangnya transparansi menjadi salah satu penyebab utama permasalahan,” beber Lussi Agustin, Direktur StatsMe.
Dikatakan hingga kini tercatat ada 172 kasus penelantaran. Ada 450 kasus gagal berangkat 450 hingga 136 kasus layanan yang tidak sesuai jadi yang dijanjikan di awal. Dan yang paling parah 154 aduan jamaah yang tak bisa dipulangkan.
Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji Umrah Kementerian Agama RI, Nugraha Setiawan, juga menyambut baik inovasi yang dihadirkan oleh Persada Indonesia.
“Sebagai salah satu inovasi penyelenggara ibadah umrah tentu dalam rangka memberikan kepastian dan jaminan bagi setiap calon jemaah ya kita sambut baik,” kata Nugraha.
Namun, Nugraha mengingatkan bahwa penyelenggaraan umrah harus tetap berlandaskan pada ketentuan dan regulasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama.
“Tentunya prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam aturan penyelenggaraan umrah itu tetap harus menjadi perhatian utama bagi penyelenggaraan umrah,” tambahnya.
Peluncuran inovasi ini diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi industri umrah di Indonesia. Dengan adanya transparansi dan kemudahan yang ditawarkan, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara perjalanan umrah.[rea]






