Ringkasan Berita:
- BPOM Jember melatih kader pengawas keamanan pangan di delapan sekolah dan 12 posyandu.
- Program bertujuan meningkatkan kemampuan penerima manfaat MBG dalam mengenali pangan yang
- aman sebelum dikonsumsi.
- BPOM akan melakukan pemantauan dan evaluasi setelah program berjalan dua hingga tiga bulan.
- Pemkab Jember menilai program ini menjadi sistem peringatan dini untuk mencegah risiko keracunan
- pada penerima manfaat MBG.
Jember (beritajatim.com) – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kabupaten Jember mulai memperkuat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pelatihan kader keamanan pangan di sekolah dan pos pelayanan terpadu (posyandu). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali makanan yang aman sebelum dikonsumsi.
Sebagai tahap awal, BPOM Jember melatih masing-masing dua kader pengawas dari delapan sekolah dan 12 posyandu. Para kader tersebut nantinya bertugas menyosialisasikan pentingnya keamanan pangan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Kepala BPOM Jember Benny Hendrawan Prabowo mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan keamanan pangan bagi penerima manfaat MBG.
“Jadi, sebelum makanan itu dikonsumsi oleh penerima yaitu sekolah dan posyandu, mereka dapat memilah dengan cerdas. Sebelum dikonsumsi mereka harus bisa melakukan penilaian,” kata Benny saat kegiatan advokasi program pembudayaan keamanan pangan bagi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis di Gedung PLUT Kabupaten Jember, Kamis (23/7/2026).
Menurut Benny, BPOM akan melakukan pemantauan dan evaluasi setelah program berjalan selama dua hingga tiga bulan. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman para penerima manfaat dalam menilai keamanan pangan sekaligus membandingkannya dengan sekolah yang belum mendapatkan intervensi program.
“Nanti akan juga kita kontrol sekolah yang tidak kita intervensi,” katanya.
Ia berharap peningkatan pengetahuan mengenai keamanan pangan mampu membentuk kemandirian masyarakat dalam memilih makanan yang memenuhi standar kesehatan dan menghindari pangan yang tidak sesuai ketentuan.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Jember sekaligus Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis Jember, Achmad Imam Fauzi, mengapresiasi langkah BPOM yang melakukan advokasi kepada para penerima manfaat program.
Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi bagian dari sistem peringatan dini atau early warning system untuk meminimalkan risiko gangguan keamanan pangan di lapangan.
“BPOM melakukan early warning system terhadap titik-titik sasaran. Fokusnya adalah penerima manfaat, sehingga ketika di hulu ada masalah, belum tentu mengenai penerima manfaat seperti keracunan dan sebagainya,” katanya.
Fauzi menilai program tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keamanan pangan, tetapi juga membangun budaya baru dalam mengonsumsi makanan yang aman dan sehat.
“Menurut Fauzi, dengan program ini, BPOM membiasakan dan mendidik masyarakat Jember untuk mengenali keamanan pangan yang kemudian menjadi budaya. Dan budaya itu harus memunculkan gerakan,” katanya.
Ia menambahkan, meski jumlah kader yang dilatih masih terbatas, mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menularkan budaya keamanan pangan kepada masyarakat di sekitarnya.
“Namun kader memiliki visi, memiliki budaya bersama, memiliki budaya hidup. Maka suatu kehormatan ketika disematkan kata kader,” kata Fauzi.
Lebih lanjut, Fauzi menegaskan Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar penyediaan makanan bagi anak-anak, tetapi juga bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun karakter bangsa melalui pemenuhan gizi yang berkualitas.
“Di sana adalah kompilasi bermacam kebijakan, kebijakan politik, kebijakan kesehatan, dan kebijakan ekonomi. MBG adalah rekayasa budaya konsumsi terbesar di Indonesia. Memang betul di sini ada masalah pada sisi implementasi, tapi jangan merusak visi besarnya,” katanya. [wir/beq]






