Ringkasan Berita:
- Femas Yani Arianto, pemuda asal Kabupaten Madiun, dilaporkan hilang saat berada di Seoul, Korea Selatan.
- Informasi tersebut viral di media sosial setelah diunggah akun Threads @sarjanabackpacker.
- Sang ibu mengaku tidak mengetahui anaknya berangkat ke Korea Selatan maupun sumber biaya perjalanannya.
- Keluarga berharap Femas segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Madiun (beritajatim.com) – Seorang pemuda asal Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Femas Yani Arianto (22), dilaporkan hilang saat berada di Seoul, Korea Selatan. Informasi mengenai hilangnya Femas ramai diperbincangkan di media sosial setelah diunggah akun Threads @sarjanabackpacker pada Jumat (17/7/2026).
Berdasarkan informasi yang beredar, Femas diketahui berada bersama rombongan wisata di kawasan Myeongdong, Seoul. Saat itu, ia berpamitan kepada rombongan untuk melihat-lihat sepatu. Namun, setelah itu ia tidak kembali dan hingga kini keberadaannya belum diketahui.
Di kediamannya di Desa Bantengan, sang ibu, Muatin, mengaku tidak mengetahui putranya pergi ke Korea Selatan. Menurutnya, Femas tidak pernah menyampaikan rencana bepergian ke luar negeri.
“Saya tidak tahu kalau dia berangkat ke Korea,” ujar Muatin saat ditemui di rumahnya, Minggu (19/7/2026).
Muatin mengatakan, anak keduanya tersebut selama ini tidak memiliki pekerjaan tetap maupun sedang menempuh pendidikan. Aktivitas sehari-harinya lebih banyak berada di rumah dan membantu mengantar serta menjemput adiknya yang masih bersekolah di PAUD.
“Sehari-harinya cuma di rumah, tidak kuliah dan tidak bekerja,” katanya.
Kondisi itu membuat Muatin heran sekaligus bingung mengenai sumber biaya yang digunakan putranya untuk melakukan perjalanan ke Korea Selatan. Ia menegaskan tidak pernah memberikan uang dalam jumlah besar kepada Femas.
“Saya juga bingung dapat uang dari mana. Saya tidak memberi uang untuk berangkat ke sana,” ungkapnya.
Sejak suaminya meninggal dunia sekitar empat hingga lima tahun lalu, Muatin mengaku menjalani kehidupan secara sederhana. Usaha jual beli pupuk yang sebelumnya dirintis almarhum suaminya juga tidak lagi berjalan seperti dahulu sehingga kondisi ekonomi keluarga cukup terbatas.
Hingga kini, Muatin mengaku belum menerima kabar apa pun mengenai keberadaan putranya. Nomor telepon Femas juga sudah tidak dapat dihubungi sejak keberangkatannya ke luar negeri.
Di tengah ketidakpastian tersebut, ia hanya berharap anaknya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
“Saya cuma berdoa semoga anak saya diberi umur panjang, selalu sehat, dan segera bisa pulang,” tutupnya.
Hingga berita ini ditulis, informasi mengenai hilangnya Femas Yani Arianto masih berdasarkan keterangan keluarga dan unggahan yang beredar di media sosial. Belum ada keterangan resmi dari otoritas Korea Selatan maupun instansi pemerintah Indonesia mengenai status pencarian atau kronologi lengkap kejadian tersebut. [rbr/beq]






