Jember (beritajatim.com) – Bupati Muhammad Fawait memberikan waktu dua pekan kepada direksi Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Pandalungan untuk menunjukkan terobosan kinerja. Semua badan usaha milik daerah harus bisa berkontribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Karena ini sudah lengkap, saya beri waktu dua minggu untuk membuat gebrakan-gebrakan kebijakan yang baru yang out of the box tentunya,” kata Fawait, usai pelantikan direksi dan dewan pengawas Perumdam Tirta Pandalungan serta dewan pengawas (dewas) Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Kahyangan, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (20/7/2026).
Direksi Perumdam yang dilantika adalah Ardani Yusuf sebagai Direktur Utama, Rofiih sebagai Direktur Umum, dan Rendra Wirawan sebagai Direktur Teknis. “Saya berharap bahwa jajaran direksi dan dewas bisa bisa bahu-membahu untuk membuat pembaharuan di PDP dan PDAM,” kata Fawait.
Fawait menyebut komposisi direksi PDP Kahyangan dan Perumdam Tirta Pndalungan sangat ideal, karena terdiri atas tenaga profesional dan aktivis yang berpengalaman di bidang masing-masing,.
Hal ini mendongkrak optimisme Fawait untuk bersinergi dengan semua pihak, termasuk jajaran direksi dan dewas baru. “Profesional saya yakin pasti memahami kebijakan-kebijakan dan arah kebijakan, khususnya terkait masalah teknis-teknisnya. Aktivis biasanya pantang menyerah dan selalu berpikir out of the box,” katanya.
Bupati Fawait mendorong jajaran direksi BUMD untuk tidak takut membuat kebijakan di luar kelaziman. “Di awal mungkin ada sedikit pertentangan atau kontroversi. Saya pikir enggak usah takut, enggak apa-apa. Bismillah, biasa. Enggak mungkin kita bisa menyenangkan orang dengan kebijakan kita seluruh orang 100 persen. Iimpossible,” katanya.
Fawait mencontohkan gebrakan kopi organik yang dilakukan PDP Kahyangan. “Enggak perlu saya bahas detail di sini. Yang jelas itu adalah cara berpikir out of the box,” katanya.
Fawait mengingatkan filosofi BUMD sebagai pengungkit ekonomi, dan salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah). Dia memberikan kesempatan kepada jajaran direksi untuk membuktikan pesimisme banyak orang bahwa BUMD tidak mungkin berbuat banyak sebagai pengungkit ekonomi dan penyumbang PAD.
Tak ingin terburu-buru, Bupati Fawait memberikan kesempatan kepada direksi dua BUMD Jember itu untuk menggunakan tahun 2026 sebagai masa transisi. “Saya beri waktu bikin kebijakan, dan kita sebagai orang ekonomi, bisa melihat optimisme itu dari kebijakan-kebijakan yang disusun,” katanya.
Dalam waktu dekat, Bupati Fawait akan mengundang jajaran direksi dan dewas dua BUMD untuk mendengarkan penjelasan dan paparan langkah-langkah yang akan dilakukan ke depan. “Saya dulu aktivis. Kita beberapa bulan harus bikin gebrakan-gebrakan,” katanya.
“Gebrakan-gebrakan yang luar biasa adalah ketika tidak membebani terlalu banyak pada APBD. Kalau bikin terobosan-terobosan tapi anggarannya minta penyertaan modal besar dari APBD, ya enggak perlu profesional. Semua orang bisa,” kata Fawait.
Tugas direksi adalah membuat program seminimal mungkin tanpa meminta penyertaan miodal dari APBD Jember. “Bikin gebrakan yang luar biasa dengan sumber-sumber dari luar APBD, ini baru jagoan,” kata Fawait.
“Saya tunggu gebrakan-gebrakan kebijakanya dan ketika ada keterbatasan ruang fiskal, dari mana sumber-sumber keuangan untuk membuat gebrakan itu,” kata Fawait.
“Saya di awal jadi bupati, banyak sekali keraguan. Kita tidak perlu bermain kata-kata. Kita buktikan dengan kerja, kerja, dan kerja. Hari ini kita jawab dengan indikator-indikator (keberhasilan ekonomi), termasuk dari BPS (Badan Pusat Statistik),” kaya Bupati Fawait.
Salah satu keberhasilan itu adalah PAD yang menembus Rp 1 triliun pada 2025. “Memang masih belum sepenuhnya kekuatan fiskal kita diperoleh dari PAD kita. Tapi paling tidak naik 32 persen sebelum satu tahun selama 2025 dari angka Rp 700 miliar menjadi salah satu yang tercepat di Jawa Timur,” kata Fawait. [wir/ian]






