Banyuwangi (beritajatim.com) – Permintaan komoditas pangan di pasar mulai meningkat bahkan sebelum Ramadan 2025 tiba. Tren ini diprediksi terus berlanjut hingga mendekati Hari Raya Idul Fitri.
Namun, kondisi di Banyuwangi, Jawa Timur, masih terkendali, terutama untuk komoditas beras. Pemerintah telah menyiapkan strategi stabilisasi harga, salah satunya melalui operasi pasar dan optimalisasi serapan gabah oleh Perum Bulog.
Di tengah berlangsungnya masa panen, Bulog Cabang Banyuwangi mempercepat penyerapan gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai ketentuan pemerintah. Kepala Bulog Banyuwangi, Dwiana Puspitasari, menyebut bahwa hingga Februari 2025, Bulog telah menyerap 1.900 ton gabah, setara dengan 3,7 persen dari target tahunan. “Capaian serapan hingga kemarin sekitar 1.900 ton atau 3,7 persen setara beras,” ungkapnya.
Tahun ini, Bulog menargetkan serapan gabah sebanyak 18.000 ton gabah kering panen guna memastikan stok tetap terjaga. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, serapan Bulog hanya mencapai 5.300 ton setara beras dari target awal 14.000 ton.
Untuk Ramadan hingga April 2025, Bulog berupaya meningkatkan serapan hingga 52.800 ton setara beras. “Target serapan hingga April 2025 sebesar 52.800 ton setara beras untuk memastikan stok tetap aman,” jelas Dwiana.
Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, Bulog menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Pertanian, TNI, Polri, serta kelompok tani. “Kerja sama ini penting untuk mendukung produksi dan distribusi gabah, sehingga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar tetap terjaga,” pungkasnya. [alr/suf]






