Mojokerto (beritajatim.com) – Sosok Ika Puspitasari, atau yang lebih akrab disapa Ning Ita, kembali menorehkan tinta emas dalam lembar sejarah pembangunan Kota Mojokerto.
Untuk kedua kalinya, Wali Kota perempuan pertama di kota tiga kecamatan ini menerima penghargaan sebagai Tokoh Penguat Ekonomi Kreatif dari media digital Beritajatim.com, dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-19 media tersebut.
Penghargaan ini bukan sekadar simbolis. Ia merupakan bentuk apresiasi terhadap kepala daerah yang dinilai mampu menciptakan inovasi strategis dan berdampak langsung bagi pembangunan daerah. Ning Ita tak sekadar menjabat, ia menggerakkan, membangun, dan memberi ruh pada geliat ekonomi lokal.
“Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh warga Kota Mojokerto. Karena tanpa dukungan masyarakat, mustahil semua capaian ini bisa terwujud,” ujar Ning Ita, dengan mata yang memancarkan keyakinan, usai menerima penghargaan tersebut.
Taman Bahari Majapahit: Simfoni Peradaban dan Alam
Salah satu maha karya Ning Ita adalah transformasi pariwisata melalui pembangunan Taman Bahari Majapahit (TBM), sebuah kawasan wisata tematik yang tak hanya menawarkan hiburan, tapi juga sarat nilai sejarah dan budaya.
Dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat senilai Rp57 miliar pada 2022, Pemkot Mojokerto membangun kawasan TBM di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp22,5 miliar dialokasikan khusus untuk infrastruktur wisata, termasuk 15 perahu bernuansa Majapahitan yang menyusuri Sungai Ngotok.
Di sepanjang bantaran sungai sejauh 1,9 kilometer, pengunjung disuguhi wisata petik jeruk, camping ground seluas 1 hektare, hingga amphitheater terbuka sebagai panggung seni. Tak jauh dari situ, berdiri Jung Majapahit, monumen kapal sepanjang 42 meter yang kini menjadi ikon wisata kuliner tepi sungai.
Membangun dari Akar: Infrastruktur dan Pluralisme
Visi Ning Ita tak berhenti pada pariwisata. Ia juga merancang kota sebagai ruang hidup yang inklusif. Sebuah lahan seluas 1 hektare disiapkan sebagai Kawasan Pluralisme, tempat ibadah enam agama akan berdiri berdampingan—sebuah pesan damai dari Mojokerto untuk Indonesia.
Tak lupa, akses menuju TBM pun dibenahi. Pemkot mengalokasikan Rp11 miliar dari DAK untuk merevitalisasi ruas Jalan Pulorejo dan Jalan Blooto. Bahkan, APBD pun digerakkan untuk membangun jalan penghubung baru dari Balongcangkring ke Jembatan Rejoto dengan nilai Rp7 miliar.
UMKM: Nadi Ekonomi Rakyat
Tak bisa dipungkiri, UMKM dan ekonomi kreatif adalah tulang punggung Kota Mojokerto. Lebih dari 10.000 pelaku usaha mikro telah tumbuh, dengan 3.300 di antaranya lahir dari program inkubasi wirausaha pasca-pandemi.
“Kami percaya, ketika ekonomi rakyat menguat, maka fondasi kota akan kokoh. Karena itulah kami bangun PLUT dan sentra IKM batik agar pelaku UMKM punya tempat berkembang,” jelas Ning Ita, merujuk pada dua fasilitas strategis yang dibangun di Kecamatan Prajurit Kulon dan Magersari.
Sebanyak Rp18 miliar DAK pun digelontorkan untuk mendukung fasilitas ini, memastikan UMKM tak hanya bertahan, tapi mampu bersaing.
Panca Cita: Lima Langkah Menuju Mojokerto Emas
Dalam periode keduanya, Ning Ita mengusung visi besar bertajuk Panca Cita—lima misi pembangunan yang mencakup peningkatan kualitas SDM, penguatan ketahanan sosial budaya, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tata kelola pemerintahan yang terintegrasi, serta pembangunan infrastruktur berwawasan lingkungan.
Langkah demi langkah ia tempuh, bukan hanya dengan pembangunan fisik, tapi juga dengan menanamkan nilai pada setiap kebijakan. Sebab bagi Ning Ita, menjadi pemimpin adalah tentang merawat harapan dan membentuk masa depan. (ted)






