Batu (beritajatim.com) – Penutupan total Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung akibat kelebihan kapasitas menjadi titik balik pengelolaan sampah di Kota Batu. Merespons krisis limbah domestik tersebut, Tim Pemuda Resik Jaga Lingkungan (Pradja), turun tangan mendampingi warga RW 10 Kelurahan Sisir.
Membawa semangat Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, tim mahasiswa ini berhasil menyulap lebih dari 1 ton limbah dapur menjadi cairan Eco Enzyme bernilai ekonomis. Langkah ini menjadi solusi konkret di tengah darurat sampah organik yang melanda kota wisata tersebut.
Tim Pradja terdiri dari tujuh mahasiswa lintas disiplin ilmu yang dipertemukan oleh Djarum Beasiswa Plus. Kekuatan mereka ada pada kolaborasi keilmuan. Syahdad Nabil Mudzaffar didapuk sebagai Ketua Tim Pradja sekaligus mahasiswa Bioteknologi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB).
Tim ini beranggotakan Jessica Anna Sallvia (Pendidikan Dokter – FK), Rizaldi Ade Prasetyo (Manajemen – FEB), Desta Safa Nur Akmalia (Akuntansi – FEB), Ahmad Irham Ramadhan (Sistem Informasi – FILKOM), Joselyn Karen (Statistika – FMIPA), dan satu-satunya anggota dari Universitas Muhammadiyah Malang, Moh. Faisal Aulafatah (Matematika dan Komputasi – FKIP).

Keresahan dan Krisis Kota Wisata
Krisis sampah di Kota Batu bukanlah sekadar isu lingkungan biasa, melainkan ancaman nyata bagi pariwisata maupun kesehatan. Syahdad Nabil Mudzaffar, Ketua Tim Pradja sekaligus mahasiswa Bioteknologi Fakultas Teknologi Pertanian UB, menceritakan awal mula kegelisahan ia dan tim.
Menurut Nabil, sapaannya, masalah sampah di Malang Raya ini seolah tidak pernah selesai. Di Kota Batu, kondisinya sangat mendesak. Sejak TPA Tlekung ditutup, kota ini praktis tidak lagi punya tempat pembuangan raksasa.
“Pemerintah memang mendorong pembentukan TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reuse, Reduce, Recycle), tapi realitanya di lapangan, fokus pengelola seringkali hanya pada sampah anorganik yang memiliki nilai jual cepat ke lapak rongsokan, seperti plastik dan kardus,” ungkap Nabil saat dikonfirmasi beritajatim.com, Jumat (9/1/2026).
Padahal, menurut Nabil, sampah organik adalah bom waktu. Jenis sampah ini menjadi penyumbang terbesar bau busuk, penyakit, dan gas metana yang berbahaya. Nabil dan timnya menemukan fakta saat melakukan survei lapangan di alun-alun Kota Batu yang lokasinya berdempetan langsung dengan pemukiman warga Kelurahan Sisir.
“Bayangkan, dari survei kami, hanya dari delapan penjual jus jeruk di alun-alun saja, bisa menghasilkan sampai satu ton sampah kulit jeruk per hari saat musim liburan. Itu jumlah yang masif, dan itu belum termasuk sampah rumah tangga dari dapur warga sekitar,” jelas Nabil dengan nada serius.
Sebenarnya, warga RW 10 Kelurahan Sisir bukannya tidak peduli. Mereka sudah pernah mencoba melakukan metode pengomposan. Namun, metode ini menemui jalan buntu dan akhirnya ditinggalkan.
“Lokasi permukiman di Sisir itu sangat padat di tengah kota. Metode kompos memerlukan lahan tanah untuk penimbunan. Ibu-ibu di sana bingung, hasil komposnya mau dibawa ke mana lagi? Lahan tidak ada, akhirnya semangat memilah sampah jadi kendor dan kembali mencampur sampah,” jelasnya.
Meskipun awalnya Tim Pradja bergerak di bawah payung program Community Empowerment (Bakti Pendidikan), Nabil mengakui bahwa jiwa dan nafas dari kegiatan mereka sangat selaras dengan visi lingkungan yayasan yang menaungi mereka. Ada titik balik di mana Nabil menyadari bahwa apa yang mereka kerjakan adalah bagian dari gerakan yang lebih besar.
“Saat kami berkunjung ke Kudus dan mendapatkan materi tentang Siap Darling dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, saya sadar. Ternyata apa yang kami lakukan di Batu ini satu frekuensi. Kami sama-sama ingin mengubah apatisme menjadi aksi nyata,” ujar Nabil merefleksikan perjalanannya.
Menjahit Asa Generasi Z
Kesadaran tim pradja memang sangat beralasan. Populasi Generasi Z di Indonesia kini cukup signifikan, mencapai sekitar 27 persen dari total penduduk. Potensi demografi ini ditangkap serius oleh PT Djarum melalui Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).
Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Jemmy Chayadi, menegaskan bahwa perusahaan memang spesifik menggarap anak muda dalam program Youth Empowerment. Pelibatan ini krusial karena upaya penyelamatan lingkungan membutuhkan nafas panjang.
”Enggak bisa cuma stop di generasi saya. Harus ada generasi muda yang tetap lanjutkan. Perjuangan ini masih panjang, makanya kenapa investasi ke generasi muda, khususnya untuk mahasiswa-mahasiswi di Indonesia, itu sangat penting,” kata Jemmy.
Sejak November 2018, BLDF meluncurkan gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan). Gerakan berbasis komunitas dan media sosial ini tidak hanya mengajak anak muda membawa tumbler, tetapi menantang mereka memahami isu yang lebih kompleks. Mulai dari menanam pohon, pelestarian situs sejarah lewat Candi Darling, hingga memahami keseimbangan ekosistem.
Menurutnya, Gen Z cenderung lebih sadar lingkungan dibanding generasi sebelumnya, namun perlu literasi yang tepat agar aksi mereka berdampak nyata seperti yang dilakukan Tim Pradja di Batu. Dengan slogan “Aku Siap Sadar Lingkungan, Kalian Juga Kan?”, komunitas ini menjadi rumah bagi anak muda untuk bergerak dengan cara mereka masing-masing.
Hal senada disampaikan oleh Mutiara Diah Asmara, Director Communications Djarum Foundation. Sejak 2019, katanya, gerakan Siap Darling menjadi wadah mahasiswa sebagai kolaborator dalam merancang aksi nyata untuk menyelamatkan bumi.
“Melalui karya serial web yang bertema lingkungan, yang saat ini sudah berjumlah 6 karya, kami menghadirkan edukasi dan sosialisasi yang dekat dengan keseharian kita,” ujar Diah Asmara.
Diah menyampaikan, pihaknya mendukung generasi muda mentransformasikan kepedulian dan inisiatif hijau menjadi gaya hidup berkelanjutan. Di tengah krisis iklim, kaum muda menjadi harapan untuk mewujudkan bumi yang lestari di masa yang akan datang.
“Maka itu, sejak 2018, BLDF menginisiasi gerakan berbasis digital Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) sebagai wadah bagi mahasiswa untuk melakukan kepedulian serta aksi lingkungan yang berkelanjutan,” kata Diah.
Infiltrasi Agen Hijau Tim Pradja
Untuk menerjemahkan visi besar tersebut menjadi aksi teknis di lapangan, Tim Pradja melakukan strategi infiltrasi agen hijau. Jessica Anna, anggota tim, menjelaskan alasan teknis mengapa Eco Enzyme dipilih sebagai solusi pamungkas. Menurutnya, eco enzyme dipilih karena prosesnya mudah dan lebih aplikatif di masyarakat
“Ini solusi baru yang tidak memakan tempat seperti kompos. Namun memiliki nilai guna tinggi bagi warga perkotaan padat seperti di Kelurahan Sisir,” ujarnya.
Rizaldi Ade Prasetyo, yang bertugas sebagai Humas Tim Pradja, menjelaskan detail pelaksanaan program yang memakan waktu cukup panjang ini. Kolaborasi dimulai sejak Mei 2025 dengan pendekatan yang personal alias door-to-door.
“Kami lakukan survei dan sosialisasi awal pada 18 Mei 2025. Saat itu sasarannya 18 ibu rumah tangga kunci. Kami menggandeng Bu Gung dan tim EcoLiving untuk memaparkan bahwa kulit buah dan sisa sayur mereka adalah ‘emas’ yang terbuang,” jelas Rizal, sapannya.

Kerja keras, keringat, dan waktu yang dikorbankan Tim Pradja selama kurang lebih delapan bulan (Mei hingga Desember 2025) akhirnya membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi paling optimis sekalipun. Rizal membeberkan data lapangan yang menunjukkan kesuksesan statistik program ini.
“Alhamdulillah, warga berhasil memproduksi lebih dari 1 Ton Eco Enzyme. Angka ini sangat fantastis karena 668% melampaui target awal kami sebagai mahasiswa. Kami tidak menyangka antusiasmenya sebesar ini,” ungkap Rizal.
Selain volume produksi, dampak lingkungannya pun terukur jelas. Rizal merinci, sebanyak 347,15 Kg sampah organik rumah tangga murni berhasil dicegah masuk ke TPA atau dibuang sembarangan ke lingkungan.
“Jika dihitung jejak karbonnya, pengurangan sampah tersebut setara dengan mencegah 163,16 Kg CO2e (emisi karbon ekuivalen) terlepas ke atmosfer. Ini sumbangsih nyata warga Batu untuk perubahan iklim,” tambahnya.
Secara partisipasi, acara ini melibatkan total 417 orang partisipan dari berbagai elemen dan berhasil mencetak 107 warga terlatih. Bahkan kini mereka mampu memproduksi Eco Enzyme secara mandiri tanpa pendampingan mahasiswa lagi.
Puncak keberhasilan ini dirayakan pada momen Panen Raya, 15 Agustus 2025 lalu. Di Pos Bank Sampah RW 10, botol-botol berisi cairan coklat tua berjejer rapi bak piala kemenangan.
Setiap kelompok warga difasilitasi tong berkapasitas 60 liter. Isinya campuran rumus baku molase, air, dan lima varian limbah organik yang kami kumpulkan seperti kulit jeruk, pisang, nanas, semangka, kangkung, dan sawi.
“Saat panen, hasilnya langsung kami manfaatkan untuk kegiatan sosial, salah satunya fogging ramah lingkungan di sekitar RW untuk mengusir nyamuk dan menyegarkan udara,” cerita Rizal.
Tak hanya disimpan, cairan ini memiliki nilai ekonomi sirkular. Warga RW 10 kini mampu memproduksi produk turunan bernilai jual seperti sabun padat, sabun cair, sampo, hingga hand sanitizer berbahan dasar Eco Enzyme.

“Mereka sudah bisa jualan, Mas. Ada yang jual langsung, bahkan ada ibu-ibu yang inisiatif jualan lewat live TikTok. Omzet awal tercatat Rp1,6 juta dari penjualan 185 produk. Ini bukti nyata bahwa sampah bisa jadi berkah finansial,” ujar Rizal bangga.
Manfaat lingkungan pun dirasakan secara langsung oleh ekosistem sekitar. Sebagian hasil panen Eco Enzyme sebanyak 825 liter dituangkan ramai-ramai ke Kali Kebo dan parit desa yang sebelumnya keruh dan tercemar limbah industri tahu. Enzim dalam cairan tersebut membantu mengurai polutan organik di sungai, sebuah upaya rehabilitasi ekosistem air yang nyata.
Namun, bagi Rizal, hal yang paling membekas bukanlah angka-angka tersebut. Di balik data statistik, terselip kisah human interest yang mengharukan. Hubungan antara mahasiswa Tim Pradja dan ibu-ibu RW 10 berkembang lebih dari sekadar fasilitator dan peserta.
“Kami sudah dianggap seperti anak sendiri oleh warga. Saat kami harus begadang persiapan acara di balai RW, ibu-ibu itu secara sukarela membuatkan teh hangat, membawakan camilan, bahkan menawari kami selimut karena udara Batu yang dingin. Tidak ada jarak lagi. Saat program berakhir dan kami harus pamit kembali ke kampus, air mata haru yang tumpah. Ikatan emosional inilah yang membuat program ini berhasil,” kenang Rizal dengan mata berbinar.
Apresiasi Warga dan Pegiat Lingkungan
Kesuksesan Tim Pradja tak lepas dari tangan dingin Gung Endah Tuti Rahayu. Sebagai perintis komunitas Eco Enzyme di Kota Batu Gung Endah tidak hanya berperan sebagai mentor teknis, tetapi juga jembatan kultural yang menghubungkan idealisme mahasiswa dengan kearifan lokal warga.
Gung Endah mengapresiasi langkah taktis mahasiswa UB dan UMM ini. Ia melihat adanya regenerasi pegiat lingkungan yang mau turun ke akar rumput. Menurutnya, gerakan yang dibawa Tim Pradja mampu menyentuh kesadaran warga secara langsung dan mampu mengubah perilaku.
“Berkat inisiatif adik-adik mahasiswa ini, dampaknya kini meluas. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu mulai melirik serius dan memberikan dukungan konkret berupa bantuan tong pengolahan sampah. Bahkan, kini tercatat sudah ada 24 desa di Kota Batu yang mulai bergerak mereplikasi pembuatan eco enzyme secara mandiri,” ungkap Gung Endah dengan bangga.
Di sisi penerima manfaat, ketelatenan mahasiswa ini disambut oleh Atik, Ketua RW 10 Kelurahan Sisir. Awalnya mungkin ada keraguan, namun melihat kesungguhan mahasiswa yang rutin datang warga akhirnya luluh.

“Kami sangat berterima kasih atas pendampingan dari Tim Pradja. Kalau demi kebaikan warga dan lingkungan, tentu saya mendukung penuh. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut supaya warga semakin terampil menjaga lingkungan,” tuturnya.
Kini, RW 10 Sisir telah bertransformasi. Kampung ini pun kini menjadi rujukan nasional. Wilayah ini kerap menerima kunjungan studi banding dari desa lain, bahkan sempat menerima kunjungan resmi dari perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup yang ingin melihat model pengelolaan sampah berbasis komunitas ini.
Analisis Ilmiah Pakar Lingkungan
Bagi masyarakat awam, Eco Enzyme mungkin terlihat hanya sebagai cairan fermentasi biasa yang berbau asam segar. Namun, dari kacamata sains, apa yang dilakukan mahasiswa pada warga RW 10 adalah sebuah rekayasa biokimia yang krusial bagi keselamatan bumi.
Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN. Eng, pakar lingkungan dan dosen dari Universitas Brawijaya, memberikan validasi ilmiah terhadap metode yang dibawa oleh mahasiswa bimbingannya ini. Ia menjelaskan mekanisme kerja di balik cairan tersebut agar masyarakat paham bahwa ini bukan sekadar mitos.
Secara prinsip biokimia, Eco Enzyme bekerja melalui proses hidrolisis enzimatik. Selama 90 hari fermentasi, mikroorganisme seperti bakteri asam laktat dan ragi menghasilkan enzim ekstraseluler (amilase, protease, dan lipase).
“Enzim ini bertindak sebagai katalisator hayati yang memutus ikatan polimer kompleks pada limbah organik menjadi monomer yang lebih sederhana,” papar Dr. Rita secara ilmiah.
Mengapa metode ini lebih unggul dibanding kompos untuk kasus perkotaan seperti Batu? Dr. Rita menjelaskan bahwa Eco Enzyme adalah solusi rendah lahan (low land requirement).
“Kompos memerlukan wadah fisik besar dan pembalikan rutin yang melelahkan. Sedangkan Eco Enzyme hanya perlu botol atau wadah tertutup yang bisa ditaruh di pojok dapur. Jika rasionya benar (1 bagian gula : 3 bagian sampah : 10 bagian air), tidak akan ada bau busuk. Terlebih lagi, cairan ini memiliki pH di bawah 4,0 yang aman dari bakteri patogen jika sesuai SOP,” tambahnya.
Lebih jauh, Dr. Rita menekankan bahwa inisiatif ini secara langsung berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global. Isu yang juga menjadi fokus utama dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation.
“Tumpukan sampah organik di TPA mengalami degradasi anaerobik tak terkendali yang menghasilkan gas metana. Gas metana ini 25 hingga 28 kali lebih kuat dalam memerangkap panas matahari dibandingkan CO2. Dengan memfermentasi sampah di rumah (hulu), warga RW 10 memutus jalur pembentukan metana di hilir (TPA). Ini adalah aksi nyata menuju target Net Zero Emission Indonesia,” tegas Dr. Rita.
Sebagai akademisi, Dr. Rita turut mengapresiasi model gerakan mahasiswa ini. Menurutnya, pelibatan mahasiswa adalah kunci keberhasilan program lingkungan di era modern.
Menurutnya, model pemberdayaan oleh Beswan Djarum ini sangat tepat dan strategis. Mahasiswa Generasi Z memiliki literasi digital untuk memviralkan gerakan, sekaligus berperan sebagai technical assistance yang menjaga kualitas metode ilmiahnya agar tidak melenceng. “Ini sejalan dengan semangat Siap Darling, di mana anak muda menjadi ujung tombak perubahan perilaku masyarakat,” analisisnya.
Menatap masa depan agar program terus berkembang, Dr. Rita menyarankan agar inisiatif ini diperkuat dengan penerapan model Triple Helix. Menurut dosen UB ini, agar nafas gerakan ini panjang dan berkelanjutan perlu kolaborasi tiga pihak yang solid.
“Kampus (UB) berperan sebagai pusat riset dan standarisasi kualitas produk, Pihak Swasta seperti Djarum Foundation berperan sebagai katalisator pendanaan dan pembuka jejaring pasar, serta Pemerintah atau Warga sebagai pelaksana harian dan pembuat kebijakan lokal. Sinergi inilah yang akan menciptakan ekosistem lingkungan yang kokoh,” saran Dr. Rita menutup analisisnya.
Bagi Nabil dan anggotanya di tim Pradja, pengalaman ini mengajarkan satu hal penting tentang kepedulian. Sementara itu, dari sudut RW 10 Kelurahan Sisir, aroma fermentasi itu kini menjadi simbol harapan. Harapan bahwa ketika anak muda bergerak bersama masyarakat dengan dukungan visi yang tepat, bumi yang lestari bukan lagi sekadar mimpi.
“Jangan pernah takut untuk memulai. Isu lingkungan tidak selalu harus diselesaikan dengan aksi raksasa yang wah. Langkah kecil seperti mengolah kulit jeruk di dapur sendiri, jika dilakukan konsisten, punya dampak yang luar biasa. Mulailah dari yang terdekat,” pesan Nabil penuh harap pada sesama Generasi Z. (dan/kun)






