Probolinggo (beritajatim.com) – Pagi baru saja merekah di Kelurahan Jrebeng Lor, Kota Probolinggo. Dari balik deretan kandang sederhana, suara riuh burung puyuh bersahutan. Di sanalah, Ismi Buchori (34) memulai harinya—menyapa ribuan unggas kecil yang telah mengubah jalan hidupnya.
Bagi sebagian orang, puyuh mungkin hanya ternak biasa. Namun di tangan Ismi, komoditas mungil ini menjelma menjadi sumber penghidupan, bahkan harapan bagi banyak keluarga.
Perjalanan itu tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Tahun 2015, Ismi hanya seorang pembelajar yang mencoba peruntungan. Ia lalu berkelana ke berbagai sentra peternakan di Jawa Timur—Tulungagung, Blitar, hingga Kediri—mencari ilmu dari para peternak yang lebih dulu berpengalaman. “Puyuh itu unik, tidak bisa dipelihara sembarangan. Harus telaten,” begitu prinsip yang ia pegang sejak awal.
Kesabaran itu terbayar. Tiga tahun berselang, Ismi sudah mampu mengelola sekitar 2.800 ekor puyuh secara mandiri. Setiap hari, puluhan kilogram telur dihasilkan dari kandang-kandangnya—sebuah capaian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namun bagi Ismi, keberhasilan bukan sekadar soal jumlah ternak atau omzet. Ada kepuasan tersendiri ketika ilmunya bisa dibagikan.
Kini, langkahnya meluas. Ia tak lagi berjalan sendiri. Dari Triwung hingga Paiton, dari Leces hingga Situbondo, jaringan peternak binaannya terus bertumbuh. Bahkan, lewat dunia digital, ilmunya menyeberang hingga ke Pulau Sulawesi.
Di balik geliat itu, tersimpan peluang besar yang belum tergarap sepenuhnya. Permintaan telur puyuh di Probolinggo masih jauh melampaui kemampuan produksi lokal. “Permintaan bisa sampai 1.000, tapi yang terpenuhi baru sekitar 200,” kata Ismi.
Kesenjangan itu menjadi peluang sekaligus tantangan. Untuk menjaga pasokan, ia harus mendatangkan telur dari Pasuruan dan Lumajang. Dalam sepekan, ratusan kilogram telur berputar dalam jaringan usahanya.
Tak berhenti di situ, Ismi mulai merancang kemandirian dari hulu. Ia mengembangkan metode penetasan bibit sendiri, mencoba lepas dari ketergantungan pasokan luar daerah. Meski terkendala modal, langkah itu terus ia jalankan perlahan.
Di sisi lain, inovasi juga lahir dari dapur usahanya. Sejak 2017, ia merintis produk daging puyuh beku. Usaha kecil ini tak hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Kepercayaan pun datang. Pernah suatu waktu, ia diminta memasok ratusan kilogram telur untuk program Makan Bergizi Gratis di Kota Probolinggo. Sebuah bukti bahwa usaha kecil pun mampu menjawab kebutuhan besar.
Meski begitu, jalan yang ditempuh tak selalu mulus. Harga pasar yang fluktuatif dan persoalan limbah menjadi pekerjaan rumah yang terus dihadapi. Namun bagi Ismi, tantangan adalah bagian dari proses.
Di tengah kesibukannya, ia tetap kembali ke kandang setiap hari—tempat semua bermula. Di sana, di antara suara riuh puyuh, ia merawat lebih dari sekadar ternak. Ia sedang menumbuhkan harapan—bahwa dari usaha kecil, kemandirian bisa lahir dan menyebar ke banyak orang. (rap/kun)






