Ngawi (beritajatim.com) – Sajian makan siang berupa nasi dengan lauk asem-asem buncis, telur rebus, tahu balado, dan buah pisang yang dibagikan dalam program Menu Bergizi Gratis (MBG), diduga kuat menjadi pemicu keracunan massal yang dialami puluhan siswa di Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (4/12/2025).
Para korban yang terdiri dari siswa TK, SD, SMP, hingga santri pondok pesantren tersebut mulai berjatuhan sakit usai menyantap paket makanan yang didistribusikan pada Rabu (3/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIB.
Gejala klinis seperti mual hebat, muntah, dan pusing dirasakan para siswa dalam rentang waktu berbeda. Sebagian mengeluh sakit setibanya di rumah, sementara lainnya baru merasakan efek samping saat kembali masuk sekolah keesokan paginya. Akibatnya, fasilitas kesehatan setempat dibanjiri pasien pelajar.
Kepala Puskesmas Mantingan, dr. Muh El Riza, mengonfirmasi lonjakan pasien akibat insiden ini. Berdasarkan data yang dihimpun, puluhan anak harus mendapatkan penanganan medis intensif.
“Yang masuk sini ada 30 pasien setelah mengonsumsi MBG. Lainnya dirawat di RSUD,” jelas dr. Muh El Riza.
Informasi lapangan menyebutkan total 36 siswa lainnya juga harus dilarikan ke RSUD Mantingan karena kondisi yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Bahaudin, salah satu siswa SMP yang menjadi korban, menceritakan betapa cepat reaksi tubuhnya menolak makanan tersebut.
“Habis makan MBG kemarin langsung mual, pusing, muntah. Banyak teman saya yang keracunan,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Puji Lestari, orang tua siswa yang kedua anaknya turut menjadi korban. Ia menyebut insiden ini berdampak luas pada pelajar di berbagai jenjang pendidikan di wilayah tersebut.
“Sampai di rumah, dua anak saya sakit semua. Banyak siswa dari TK, SD, SMP sampai pondok pesantren yang keracunan setelah makan MBG,” ujarnya cemas.
Guna memastikan penyebab keracunan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi langsung turun tangan. Petugas Dinkes, Dina Handayani, menyatakan telah mengamankan sampel makanan dari menu yang dicurigai untuk diuji di laboratorium.
“Kami ambil sampel seperti nasi liwet dan telur rebus untuk dibawa ke laboratorium,” tegas Dina.
Diketahui, menu MBG tersebut diproduksi oleh dapur SPPG di Desa Mantingan. Proses investigasi petugas kesehatan di lokasi dapur sempat diwarnai insiden ketegangan, di mana seorang penjaga dapur mengamuk dan berupaya menyerang awak media yang sedang meliput pengambilan sampel.
Saat ini, sebagian siswa yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang, namun Dinas Kesehatan masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengungkap kandungan berbahaya dalam menu tersebut. [fiq/beq]






