Bagi Jonathan Wilson, jurnalis dan penulis olah raga asal Inggris yang pada 9 Juli nanti akan genap berusia 50 tahun, dalam karyanya yang paling populer Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics (2008) telah menggagas bahwa sepak bola tidak pernah lepas dari politik; cara dan taktik kita bermain, menonton, dan menyelenggarakannya selalu dipengaruhi kekuasaan dan kepentingan.
Contoh paling baru, skandal pembatalan sanksi kartu merah penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun viral, menjadi bukti bermainnya intervensi politik yang memalukan di luar lapangan hijau. Media beritajatim.com mengulas pedas dalam rubrik Sorotan dengan tajuk “Folarin Balogun dan Hal-Hal Menjijikkan yang Dilakukan FIFA”.
Media ini mengkritik keras bagaimana Presiden FIFA Gianni Infantino, menempatkan moralitas hanya prioritas ke sekian. Sejak awal dia memang menempatkan diri sebagai penjilat Trump yang militan. Pria bekepala plontos asal Swiss itu menghadiahkan “FIFA Peace Prize – Football Unites the World” kepada Trump pada acara pengundian Piala Dunia 2026 di Washington DC, 5 Desember 2025.
Lebih lanjut diulas tajam, skandal ini akan menjadi preseden buruk, bahwa jargon untuk memisahkan intervensi politik dari sepak bola hanyalah omong kosong. Anda cukup bernama Amerika Serikat dan Donald Trump untuk meringkus dan menerabas semua aturan. FIFA tengah membahayakan masa depan dunia sepak bola.
Kemudian, beritajatim.com menutup sorotannya dengan mengatakan: Timnas Amerika Serikat memang tidak mencampuri urusan FIFA. Namun mereka menikmati keuntungan dari keputusan tersebut. Maka mengakhiri perjalanan timnas AS di Piala Dunia sama halnya dengan mengakhiri hal-hal menjijikkan yang dilakukan FIFA, dan menutup celah kemungkinan kejayaan mereka dipolitisasi untuk membilas semua kebusukan Trump.
Apa yang disorot terbukti jadi kenyataan. Perjalanan timnas Amerika Serikat di Piala Dunia resmi berakhir. Balogun, yang sebelumnya diusir keluar lapangan saat AS menang di babak 32 besar atas Bosnia-Herzegovina, tetap diturunkan sebagai pemain inti saat AS menghadapi Belgia di babak 16 besar, Selasa (07/07) pagi WIB. Akhirnya Belgia membungkam arogansi AS sebagai tuan rumah dengan skor akhir 1-4, setelah gol penutup dari penyerang Belgia, Lukaku menambah besar luka Amerika Serikat.
Media BBC News Indonesia juga menyoroti skandal itu. BBC melaporkan kalau UEFA, atau Uni Asosiasi Sepak Bola Eropa, mengkritik keras keputusan mengejutkan FIFA yang tidak memberlakukan sanksi larangan bertanding otomatis bagi Folarin Balogun. Pihak UEFA bahkan menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang “belum pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan.” UEFA, menyatakan bahwa intervensi yang berujung pada pembatalan sanksi larangan bertanding di sebuah turnamen telah “melewati batas”.
Warisan Hegemoni
Piala Dunia bukan sekadar turnamen pertandingan. Tetapi juga tentang sepak bola sebagai alat untuk proyeksi diri dan untuk memperdagangkan pengaruh, tentang peran yang dimainkan atau dipermainkan. Kepentingan nasional dan pembangunan bangsa, saling dinegosiasikan di percaturan dunia yang terglobalisasi. Terlebih lagi dalam ruang lansekap jejaring manusia yang terdisrupsi secara digital, algoritma arus informasi dan kecanggihan teknologi.
Buku terbaru Wilson, The Power and the Glory: A New History of the World Cup (2025) menegaskan ide sepak bola terutama di arena Piala Dunia menjadi instrumen untuk memperdagangkan pengaruh kekuasaan dan kepentingan politik. Negara-negara selalu menggunakan Piala Dunia untuk mempromosikan diri, untuk melancarkan perang proksi, untuk memproyeksikan citra persatuan dan kekuatan, untuk menegosiasikan posisi mereka di dunia.
Hampir satu abad sejarah Piala Dunia sejak pertama 1930 di Uruguay hingga edisi ke-23 di 2026, gelar 22 juara Piala Dunia hanya berputar dan dihegemoni delapan negara saja dari dua benua: Brasil, Argentina, Uruguay di Amerika Selatan; Jerman, Italia, Prancis, Inggris, dan Spanyol di Eropa.
Fakta bahwa dari 211 anggota FIFA hanya delapan negara yang pernah merasakan dan mengangkat trofi Jules Rimet dan sekarang trofi Piala Dunia FIFA membuktikan betapa hegemoniknya “tim favorit” juara dunia. Struktur dan intrik kompetisi, ekonomi, dan politik soft power hingga sportwashing yang menguntungkan mereka.
Jumlah dan Prestasi Tim Lolos Piala Dunia dari 1930–2026 berdasarkan Zona
Tabel hasil olahan di atas menampilkan betapa hegemoniknya tim Eropa dan tim Amerika Selatan menjadi juara sepanjang sejarah piala dunia digelar. Sementara prestasi terbaik tim Afrika ditorehkan Maroko yang berhasil masuk babak semifinal (empat besar) pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Sedangkan wakil Asia diraih Korea Selatan, menembus babak semifinal dan finis di peringkat keempat Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.
Hegemoni “tim favorit” sejatinya juga diperkuat oleh ekosistem klub dan liga Eropa sebagai pusat kapital, industri sepak bola, teknologi taktik. Termasuk juga distribusi hak siar dan pendapatan iklan global yang menempatkan narasi Eropa–Amerika Selatan sebagai “norma dan kiblat” yang hebat, sementara Afrika dan Asia direduksi sebagai eksotika, bukan favorit, bukan kandidat utama juara.
Ruang gema linimasa juga turut memfabrikasi kesepakatan para penggemar dan penggila bola (manufacturing consent) bahwa idola juara adalah tim Eropa dan Amerika Selatan. Mimpi tim Afrika jadi juara Piala Dunia seolah dianggap hanya ilusi menghadapi tembok kokoh yang sulit ditembus.
Faktanya, Maroko di Qatar 2022 sudah meretakkan tembok itu. Menembus semifinal dan berakhir di peringkat empat. Maroko menjadi tim Afrika pertama yang mencapai fase empat besar, mengalahkan semua raksasa Eropa. Mereka memaksa dunia mengakui bahwa peta kekuatan sepak bola tidak lagi monopoli Eropa. Maroko mengejutkan dunia keluar sebagai juara Grup F dengan catatan tak terkalahkan.
Di fase grup, Maroko menahan imbang Kroasia (0-0) finalis Piala Dunia 2018. Berlanjut, Maroko menjebol gawang Belgia (2-0) dan Kanada (1-2) untuk memastikan diri lolos ke fase gugur. Di babak 16 Besar, Singa Atlas menyingkirkan raksasa Eropa, Spanyol dengan menang adu penalti 3-0 setelah full time dan extra time imbang 0-0. Perempat Final, Maroko menumbangkan Portugal (1-0). Baru di Semifinal, langkah ajaib Maroko disingkirkan juara bertahan Prancis 2-0 dan mengakhiri turnamen di peringkat empat setelah kalah tipis 1-2 dari Kroasia.
Prestasi Maroko itu membuat Piala Dunia 2026 bukan berdiri di ruang hampa. Justru bisa menjadi kelanjutan dari narasi Afrika yang bisa membisingkan dunia seperti kata Jonathan Wilson, menegosiasikan posisi mereka, sedang menolak sejarah seabad hegemoni sepak bola.
Dua tim Afrika yang tersisa sampai tulisan ini dibuat, sedang berubah menjadi panggung koreksi sejarah. Lewat Maroko dan Mesir—mencoba merobohkan tembok hegemoni Eropa dan Amerika Selatan. Dominasi dua benua itu tidak hanya soal trofi, melainkan struktur kekuasaan dalam politik global sepak bola dan industri yang berkelindan mengitarinya.
Maroko mengawali fase grup C Piala Dunia 2026 dengan menahan imbang raksasa Amerika Selatan, Brasil dengan skor 1-1. Mengalahkan Skotlandia 0-1 dan meringkus Haiti dengan skor 4-2. Kembali di fase gugur 16 besar, tim “favorit juara” Belanda terpaksa angkat koper karena dipaksa Maroko adu penalti 2-3 setelah pertandingan imbang 1-1.
Kini, Maroko peringkat 6 dunia FIFA bersiap kembali dengan misi revans menghadapi Prancis di perempat final di Stadion Boston, Amerika Serikat pada 9 Juli (atau 10 Juli jam 03:00 WIB). Empat tahun lalu, Les Bleus peringkat pertama FIFA ini keluar jadi pemenang. Bisakah Atlas Lions mengubah sejarah. Bola masih bergulir, taktik terus mengalir dan sejarah baru bisa terukir.
Bagaimana dengan Mesir?
Perlawanan “The Pharaohs” dalam menghadapi hegemon Amerika Selatan, Argentina di babak 16 besar ini bisa punya daya magis tersendiri untuk mengubah narasi sejarah, “La Albiceleste, Si Putih-Biru Langit” diubah oleh Para Firaun menjadi kelabu.
Apalagi di babak 32 besar, Argentina sangat kewalahan menghadapi tim Afrika debutan pertama yang sampai sebelum kick-off piala dunia dimulai, banyak orang belum atau tidak pernah tahu ada nama negara Cape Verde atau Tanjung Verde. Di pertandingan itu, Argentina harus menguras keringat sebelum mengakhirinya dengan skor 3-2.
Mesir peringkat 24 FIFA siap berikan amanah kepada Mohamed Salah untuk mengukir sejarah menghadapi Argentina yang kini peringkat dua FIFA. Di fase grup, Mesir menahan peringkat 8 FIFA, Belgia dengan skor 1-1. Mengalahkan Selandia Baru 1-3 dan bermain imbang 1-1 dengan Iran.
Jurnalis The Guardian Osasu Obayiuwana tiga hari menjelang Pembukaan Piala Dunia 2026 mewartakan kesiapan 10 tim Afrika menargetkan kejayaan Piala Dunia. Obayiuwana mengulas keberhasilan Maroko mencapai semifinal di Qatar 2022. Prestasi Maroko telah meningkatkan kemungkinan tim Afrika mencapai final, tetapi siapa yang paling berpeluang untuk melakukannya? Apakah ada yang dapat melangkah lebih jauh? Pertanyaan Obayiuwana terjawab sudah. Maroko dan Mesir menjadi tumpuan harapan Afrika wujudkan mimpi melaju ke partai final.
Memang, Tunisia jadi tim pertama dari 10 wakil Afrika yang gagal melaju ke babak 32 besar. Tunisia tiga kali main tanpa poin jadi juru kunci Grup F Bersama Belanda, Jepang dan Swedia. Tetapi, tercatat 9 tim Afrika mengukir sejarah baru lolos fase grup. Ada 5 tim lolos sebagai runner-up grup: Afrika Selatan, Maroko, Pantai Gading, Mesir, Tanjung Verde. Sedangkan 4 tim lolos menjadi terbaik ketiga: Senegal, Aljazair, RD Kongo, Ghana. Kesembilan tim Afrika tampil dengan determinasi tinggi yang memaksa tim-tim hegemon Eropa dan Amerika Selatan sangat kewalahan, kalaupun menang tapi sangat tidak mudah. Kini, memang tersisa cuma Maroko dan Mesir.
Penting untuk dimengerti Maroko dan Mesir tidak lagi datang sebagai “penggembira” atau “penghibur” Afrika, melainkan sebagai proyek politik antihegemonik dan sosial kultural sekaligus.
Banyak ulasan media dan portal olahraga, Maroko digambarkan sebagai “Singa Atlas” yang membawa pengalaman besar dari Qatar 2022 dan generasi pemain yang matang yang ditempa di klub-klub top Eropa namun tetap membawa identitas Afrika yang kuat. Julukan “Singa Atlas” bukan sekadar branding, ia simbol ambisi melawan gunung sejarah dan geografi yang selama ini menempatkan Afrika di pinggiran, sedangkan Eropa dan Amerika Selatan adalah sentral kekuatan.
Anak asuh pelatih Mohamed Ouahbi sebut saja, Bilal El Khannouss jadi andalan klub Bundesliga VfB Stuttgart; Ismael Saibari gelandang serang Bayern Munchen, kini mengoleksi 3 gol di Piala Dunia 2026. Ada juga Soufiane Rahimi penyerang andalan Al Ain klub elit Uni Emirat Arab yang sudah mencetak 2 gol 1 assis. Azzedine Ounahi yang merumput di liga Spanyol bersama klub Girona juga mengoleksi 2 gol. Tumpuan Maroko juga ada pada Brahim Díaz gelandang serang Real Madrid ini sudah torehkan 4 assis yang membawa Maroko melaju ke perempat final.
Sedangkan Mesir datang di Piala Dunia 2026 dengan modal sejarah panjang di Afrika. Pemain ikonik global seperti Mohamed Salah penyerang Liverpool FC menjadi representasi pemain dari Global South yang menguasai panggung klub Eropa. Sebutan “The Pharaohs” mengikat warisan peradaban tua yang selama ini dipandang sebagai masa lalu. Tapi tidak kali di piala dunia 2026 ini. “Para Firaun” punya daya magis yang menggeser pendulum menjadi metafora kebangkitan: peradaban yang dulu menguasai sungai dan dagang, kini mencoba menguasai ruang hijau bernama sepak bola dan membisingkan ruang gema di dunia maya.
Perspektif politik komunikasi dan media sangat penting untuk membaca Piala Dunia 2026 sebagai momentum Afrika merobohkan hegemoni. Media Eropa dan Amerika Selatan selama puluhan tahun memproduksi narasi dominan: “final ideal, laga klasik, dan bintang utama” hampir selalu diproyeksikan dari dua benua tersebut. Tim Afrika dan Asia kerap dikemas sebagai “kuda hitam”, “underdog” “tim kejutan”, atau “tim yang bermain penuh semangat tapi kurang organisasi” dan banyak lagi narasi yang menggambarkan mereka sebagai sekadar cerita sampingan.
Qatar 2022 mengganggu pola itu, ketika Maroko menyingkirkan tim-tim besar dan memaksa media global sibuk mencari kosa kata baru untuk menjelaskan keberhasilan mereka. Di 2026, kebiasaan lama masih terlihat, tetapi tekanan publik jauh lebih besar: keriuhan media sosial, jurnalisme warga, dan kanal-kanal digital di Afrika dan Asia memproduksi narasi tandingan. Menolak framing yang merendahkan dan mengangkat kisah Maroko dan Mesir juga sebagai bagian ekosistem sejarah global utama, sarat esensi, bukan catatan kaki.
Seperti pernah dianalisis oleh banyak penulis sejarah sepak bola, termasuk Jonathan Wilson, cara media membincang taktik, kultur, dan kekalahan seringkali menggambarkan bias kultural yang mengakar. Dalam tradisi penulisan sejarah Piala Dunia, bab besar hampir selalu milik Eropa dan Amerika Selatan. Kini, dengan Afrika semakin menonjol, media dipaksa memutar kamera: dari stadion di Amerika Utara ke kamp-kamp suporter di Rabat dan Kairo, dari studio analis di London ke linimasa media sosial di Casablanca dan Alexandria.
Dalam perspektif ilmu hubungan internasional, ini adalah perebutan narasi: siapa yang berhak menulis sejarah; dalam perspektif politik komunikasi, ini adalah pertarungan framing: apakah Maroko dan Mesir akan direkam sebagai “anomali” atau sebagai awal normal baru yang meruntuhkan tembok hegemoni.
Ketika Maroko dan Mesir mampu mengalahkan tim-tim dari Eropa dan Amerika Selatan di fase-fase krusial, mereka tidak hanya meraih kemenangan pertandingan. Mereka mematahkan asumsi struktural bahwa juara dunia harus datang hanya dari dua benua tersebut. Di titik itulah Piala Dunia 2026 menjadi momentum sejarah: robohnya hegemoni sepak bola Eropa dan Amerika. Trofi bukan lagi monopoli, melainkan medan tawar ulang politik kekuasaan antihegemoni. Maroko dan Mesir sedang memasak rekonfigurasi hegemoni sepak Bola melalui Inverting the Pyramid membalikkan piramida dan menulis ulang The Power and the Glory.
[Muhammad Iqbal, Penikmat sepak bola, Dosen FISIP Universitas Jember]







