Gresik (beritajatim.com)- Raut wajah Irfan Hidayat (16), siswa Sekolah Rakyat tingkat SMA di Kabupaten Gresik, tampak sumringah. Mengenakan baju olahraga biru, Irfan tampak sangat bersemangat melakukan yel-yel di hadapan Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul di UPT SMPN 30.
Irfan merupakan salah satu dari 75 siswa Sekolah Rakyat yang difasilitasi Kementerian Sosial. Pelajar asal Desa Bongso Wetan, Kecamatan Menganti, ini memiliki cita-cita besar: menjadi miliarder demi membahagiakan kedua orang tuanya.
Cita-cita tersebut ia ungkapkan dengan polos. Ayahnya, M. Haryadi, hanya seorang penjual pentol keliling, sementara ibunya, Lika, adalah ibu rumah tangga biasa.
“Setelah lulus dari Sekolah Rakyat SMA, saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi di jurusan manajemen supaya bisa menjadi miliader,” katanya, Selasa (5/8/2025).
Demi impiannya itu, Irfan rela tinggal jauh dari orang tua dan adik kesayangannya. Sebelum menjadi siswa Sekolah Rakyat, ia selalu berkumpul bersama keluarga. Kini, ia harus menetap di asrama bersama siswa lainnya.
“Rasa kangen itu tetap ada, tapi hal ini sudah biasa karena sebelumnya pernah di Ponpes Al Furqon Menganti dan harus tinggal di pondok,” ujarnya.
Selama tinggal di asrama, Irfan terbiasa bergantian dengan siswa lain membersihkan ruang tidur maupun ruang kelas.
“Kalau disuruh bersih-bersih sudah biasa saya lakukan sama halnya sewaktu menempuh pendidikan agama di pondok pesantren,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Amelia (16), siswi asal Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Gresik. Ia yakin Sekolah Rakyat bisa menjadi jalan untuk menggapai cita-citanya sebagai dokter.
“Saya ingin setelah lulus mau melanjutkan ke perguruan tinggi ambil kedokteran supaya bisa mengobati ayah dan ibu gratis,” urainya sambil tersenyum.
Amelia yang berasal dari keluarga tidak mampu sangat bersyukur bisa bersekolah di Sekolah Rakyat. Ayahnya bekerja serabutan, ibunya ibu rumah tangga. Mereka sangat berharap sang buah hati bisa meraih impian masa kecilnya.
Irfan dan Amelia adalah cerminan semangat siswa Sekolah Rakyat yang ingin keluar dari jerat kemiskinan. Seperti yang disampaikan Mensos Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), bahwa kemiskinan ekstrem tidak seharusnya menjadi penghalang untuk sukses.
“Miskin ekstrim hanya istilah saja yang penting mendapat kesempatan belajar, dan menjadi anak yang sukses di masa datang,” paparnya.
Mantan Wakil Gubernur Jatim itu menambahkan, tahun ini Kemensos menargetkan 150 titik Sekolah Rakyat sudah beroperasi dengan menampung lebih dari 15 ribu siswa.
“Keberadaan Sekolah Rakyat ini memuliakan wong cilik. Ini sekolah bagi orang tidak mampu tapi fasilitasnya unggulan. Tidak ada tes akademik yang ada hanya tes administrasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyatakan, Sekolah Rakyat yang menempati UPT SMPN 30 berjalan tanpa kendala. Ia menyebut proses belajar mengajar memang masih dalam tahap penyesuaian karena baru berjalan dua hari.
“Sebelum diterima, sebanyak 75 siswa Sekolah Rakyat menjalani tes kesehatan. Setelah itu, ditangani oleh unit Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pemberdayaan orang tua siswa diberi bantuan modal usaha agar bisa membuka usaha sendiri,” pungkasnya. [dny/ian]






