Malang (beritajatim.com) – Kopi Selo Parang menjelma menjadi identitas baru bagi Kecamatan Ngantang, sebuah daerah yang berada di barat Kabupaten Malang. Kehadiran Selo Parang juga menambah khasanah perkopian tanah air.
Siapa sangka, kopi Selo Parang diproduksi di sebuah rumah sederhana di daerah Ngantang, lokasinya sekitar 9 kilometer dari Bendungan Selorejo. Aroma khas kopi Selo Parang begitu kental terasa saat menginjakan kaki di rumah Siswanto dan Yetik Ratnaningsih. Kedua orang ini adalah sosok dibalik kesuksesan kopi Selo Parang.
Kisahnya dimulai pada 2019 lalu di rumah mereka Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Siswanto mulanya adalah seorang dengan pekerjaan serabutan. Tekadnya yang bulat membawanya untuk berani menyewa 2 hektare lahan milik perhutani. Dari sinilah, Kopi Selo Parang diproduksi. Dia menanam bibit kopi di lahan ini.
BACA JUGA:
Rayakan Hari Kopi Nasional dengan Ratusan Gelas Arjuna Robusta
Lahan yang dia sewa berada di tebing bebatuan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Berawal dari ini, munculah nama Selo Parang yang berarti batu tebing. Selo adalah batu, dan parang adalah tebing.
Di luar dugaan Siswanto dan Yetik Ratnaningsih. Kopi yang mereka tanam di tebing bebatuan ini justru menciptakan rasa kopi yang khas. Seiring berjalannya waktu pemasaran kopi Selo Parang tidak hanya di Malang Raya, namun telah menginvasi Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, hingga Bali.
“Usaha saya ini sempat macet saat pandemi melanda. Tapi untung saja ada uluran tangan dari Perum Jasa Tirta (PJT) I. Kami mendapat bantuan permodalan lewat Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kami sekarang menjadi salah satu UMKM binaan PJT I,” kata Siswanto, Kamis (15/6/2023).
Siswanto kini terus berusaha mengembangkan bisnis kopinya. Mimpinya adalah produk kopi Selo Parang mendunia mampu menembus pasar ekspor. Perlahan dia mulai menata. Meski berskala UMKM dia tidak gentar mewujudkan mimpinya itu.
BACA JUGA:
Dua Jenis Kopi Lokal Asal Lawang Malang Jadi Primadona Pecinta Kopi
Apalagi dengan alat bantuan produksi kopi dari PJT I dia mampu menghasilkan 12 ton biji kopi dengan cita rasa khas yang tetap terjaga. Dalam satu jam dia bisa menghasilkan 9 kilogam kopi.
Dia memproduksi kopi dengan segmen menengah ke atas. Produk yang dihasilkan, kopi robusta, kopi robusta fermentasi, kopi lanang, kopi arabica dan kopi excelso. Harga yang dibandrol mulai Rp12 ribu hingga Rp155 ribu tergantung ukuran kopi.
“Dari kopi saya mampu memulihkan perekonomian. Omzet kotor sebulan mencapai Rp12 juta. Intinya, dari semua kendala itu, kita harus memiliki tekad terus berjuang, jangan putus asa, sabar dan konsisten jadi kunci. Saya juga ingin mewujudkan visi misi kopi asal Desa Tulungrejo, Ngantang mendunia,” ujar Siswanto.
Sementara itu, Direktur Operasional PJT I, Ir Milfan Rantawi adalah salah satu penggemar kopi Selo Parang. Dia mengatakan sektor UMKM memiliki prospek yang cerah. Katanya, BUMN wajib hadir dan berkomitmen mensejahterakan masyarakat melalui program TJSL.
BACA JUGA:
Tak Hanya Durian, Poncol Magetan Juga Terkenal dengan Kopi Lokal
“Jadi kami ingin hadir dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, terpenting bagaimana BUMN bisa berkontribusi membangun ekonomi berkelanjutan serta membantu UMKM binaan pasca pandemi, menjadi semakin hebat,” kata Milfan.
Milfan ingin memperkuat dan meningkatan daya saing UMKM dan mendorong UMKM semakin naik kelas. Sejalan dengan visi Siswanto dengan Kopi Selo Parang mendunia. PJT I juga ingin kopi asal Ngantang ini mampu menembus pasar ekspor. Vietnam dan Timor Leste menjadi negara yang dia bidik.
“Kami bantu UMKM bertahan, bangkit dan maju bersama, dengan memberikan bantuan program kemitraan. Soal itu naik kelas nanti akan jadi tugas kami. Nanti mulai dari tahapan hulu hingga hilir akan kami kawal. Tujuan kami kepada UMKM binaan itu bisa sampai level yang tinggi, Kalau bisa, ekspor ke Vietnam atau Timor Leste,” pungkas Milfan. [luc/suf]






