Magetan (beritajatim.com) – Kopi lokal asal Desa Plangkrongan dan Kelurahan Alastuwo ternyata digemari banyak pemilik kedai. Kebunnya terletak di satu lokasi, yakni perkebunan yang bernama Gunung Tambal, letaknya berada di wilayah desa dan kelurahan tersebut.
Yosep Cahyo Wibawanto, salah satu barista asal Magetan yang aktif dalam mengedukasi petani kopi menerangkan, sejauh ini petani kopi Gunung Tambal yang memproduksi kopi robusta sudah dapat pesanan sebanyak 3 ton. Meski belum panen.
“Sudah sekitar tiga tahun para petani konsisten petik merah dan merawat tanaman kopi yang ada di kebun seluas 5,5 hektar. Produktivitasnya mencapai 10 ton. Namun, kali ini belum bisa maksimal dalam melayani seluruh buyer. Peminatnya banyak sekali,” kata pria yang akrab disapa Bang Yos itu, Rabu (15/3/2023).
BACA JUGA:
Petani Kopi Alastuwo Magetan Kenalkan Kampung Kopi Gunung Tambal
Bang Yos menyebut, buyer atau pembeli memang belum ada yang berasal dari luar negeri. Namun, biji kopi yang diolah dari gunung tambal sudah beredar di seluruh Indonesia. Khususnya ibu kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
“Jadi, buyer ini kami ajak untuk langsung ke kebunnya. Bertemu para petani, mereka akan menyepakati harga sendiri. Saya hanya membantu petani agar mereka dikenal buyer. Pun, sebelum itu saya beri edukasi pada petani bagaimana mengolah kopi agar cita rasa kopi ini konsisten sampai ke konsumen,” lanjut Bang Yos.

Bang Yos bercerita, beberapa tahun silam potensi kopi di Gunung Tambal belum ditemukan. Bahkan, petani setempat masih pakai petik campur dan kopi hanya dikeringkan dan dibuang kulit buahnya. Setelah itu langsung dijual ke tengkulak. Otomatis harganya tak terdongkrak, produktivitas juga tak maksimal.
“Nah, setelah adanya edukasi, berangsur petani jadi mendapatkan manfaat. Edukasi berupa pengolahan pasca panen serta untuk perawatan tanaman kopi tentu dibina langsung oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan,” lanjut Bang Yos.
Menurut Bang Yos pengolahan pasca panen penting untuk menjaga kualitas rasa kopi. Karena, kopi.memiliki sifat absorbsi atau menyerap apa yang ada di sekitarnya. Jika perlakuannya tidak tepat, rasa bisa jadi campur aduk.
BACA JUGA:
10 Jenis Kopi yang Wajib Diketahui, Panduan Sederhana Belajar Kopi
“Makanya saat pengeringan biji kopi, harus di tempat yang jaraknya minimal 80 cm dari tanah. Menjemurnya pun sebenarnya harus di green house yang pakai plastik anti ultraviolet. Hasilnya bisa maksimal,” katanya.
Harganya pun bisa terdongkrak, yang tadinya hanya seharga Rp19.000 per kilogram dan dibeli oleh tengkulak, kini bisa sampai Rp35.000 per kilogram. Yang membeli bukan lagi tengkulak melainkan komunitas kopi dan pemilik kedai.
“Yang kopi lanang, atau yang dalam satu buah itu hanya ada satu biji utuh lebih mahal lagi, per kilogramnya Rp45.000. Tentu dengan hasil yang lebih maksimal, beberapa petani akhirnya mulai belajar bagaimana memanen kopi dan pengolahan pasca panennya,” pungkas Bang Yos.
Kecamatan Penghasil Kopi Robusta di Magetan
Catatan dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan tahun 2021 ada 6 kecamatan penghasil kopi robusta di Magetan. Terbanyak adalah kecamatan Panekan yakni dengan 148 hektar lahan, produktivitasnya mencapai 7,96 kuintal per hektar. Disusul kecamatan Sidorejo dengan luas lahan 54 hektar produktivitasnya mencapai 7,85 kuintal per hektar.
Kemudian, Kecamatan Parang dan Plaosan memiliki produktivitas yang sama yakni 7,75 kuintal per hektar dengan luas lahan masing-masing 7 hektar dan 42 hektar. Kemudian, ada Kecamatan Poncol dengan produktivitas 6,51 kuintal per hektar dengan luas lahan 118 hektar.
BACA JUGA:
Durian Saman Asli Magetan, Warna Dagingnya Kuning Keemasan
“Total produksi di tahun 2021 mencapai 1.629 kuintal. Untuk kopi robusta, di tahun 2021 mayoritas masih pakai cara panen konvensional dan dijual ke tengkulak. Kemudian, di akhir 2021 sudah mulai kami edukasi agar produktivitas bisa meningkat dan hasilnya lebih maksimal untuk petani,” kata Agustin Nurul, Kabid Hortikultura dan Perkebunan, DTPHPKP Magetan. [fiq/suf]






