Lumajang (beritajatim.com) – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Lumajang kembali mengalami peningkatan. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga saat ini sudah ada 983 ekor sapi yang terjangkit virus ini. Meski begitu, angka ini lebih rendah dibandingkan lonjakan kasus pada bulan sebelumnya.
“Memang ada peningkatan kasus, tapi kalau kita bandingkan dengan bulan lalu, persentasenya turun,” ujar Endra Novianto, Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Jumat (17/01/2025).
Pada November hingga Desember 2024, Lumajang mengalami wabah PMK yang parah, dengan 900 ekor sapi dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, 70 ekor tidak dapat diselamatkan.
Pemerintah daerah terus mengambil langkah-langkah penanganan untuk meminimalkan dampak wabah PMK. Langkah-langkah tersebut meliputi vaksinasi massal, pembatasan mobilitas ternak, serta edukasi kepada masyarakat.
“Kami terus berupaya melakukan vaksinasi dan mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan kandang serta memberikan jamu tradisional seperti jahe, kunyit, dan bawang putih sebagai langkah pencegahan awal,” tambah Endra.
Hingga Januari 2025, sebanyak 766 ekor sapi telah dinyatakan sembuh berkat upaya intensif yang dilakukan pemerintah dan peternak setempat.
Endra menjelaskan bahwa penyebaran virus PMK yang cepat serta penanganan awal yang terlambat menjadi faktor utama tingginya angka kematian ternak. Untuk itu, DKPP Lumajang mengimbau seluruh peternak untuk lebih waspada dan segera melaporkan gejala PMK pada ternak mereka.
“Penyebaran virusnya sendiri cukup cepat, kemudian adanya penanganan yang terlambat. Kini 766 ekor sapi telah sembuh. Masyarakat juga dihimbau untuk menjaga kesehatan ternak dan memberikan jamu alternatif. Selain itu, kebersihan kandang juga harus diperhatikan,” pungkas Endra. [dav/beq]






