Malang (beritajatim.com) – Industri Garmen mengeluhkan kenaikan sejumlah bahan baku produksi pakaian jadi. Salah satunya adalah Kaiko Garmen yang berada di Jalan Raya Bamban, Pakis, Malang.
General Manager Kaiko Garmen, M Faisol mengatakan bahwa kenaikan bahan baku mempengaruhi harga jual ke konsumen. Kenaikan ini mulai dirasakan sejak Maret 2026 pasca perang AS – Israel dan Iran di Timur Tengah.
“Lalu dipicu kenaikan nilai tukar rupiah. Ini memperparah kenaikan sejumlah bahan baku yang kita beli impor dari luar negeri,” kata Faisol di Malang, Kamis (30/4/2026).
Kenaikan yang terjadi mulai dari harga kain, harga benang, harga plastik, harga cat sablon, termasuk mesin pendukung produksi yang dibeli impor. Pengusaha pun dipaksa untuk memutar otak di tengah situasi ekonomi yang sulit.
Sebab, kenaikan harga bahan baku turut mempengaruhi nilai jual produk ke konsumen. Kenaikan bahan baku mencapai 20 hingga 30 persen. Sementara nilai jual akhirnya juga dinaikan namun tidak terlalu tinggi agar menjaga pelanggan tetap memesan.
“Naiknya bahan baku sampai 30 persen, kita akhirnya menaikan harga tapi tidak signifikan. Bahkan tidak sampai 10 persen kita naikan harga jual. Mau gimana lagi kalau kita naikan nanti tidak ada yang beli,” ujar Faisol.
Para pengusaha garmen berharap harga bahan baku bisa dikontrol oleh pemerintah agar mereka tetap bisa eksis. Sebab, sektor padat karya seperti Kaiko Garmen juga menjadi tumpuan para pekerja yang menggantungkan hidup pada industri garmen.
“Kami memiliki 250 karyawan. Kami berharap pemerintah punya solusi karena kami juga memiliki ratusan orang karyawan yang bergantung pada industri ini. Bagaimana pun juga padat karya berpengaruh pada tingkat pengangguran di wilayah Malang,” kata Faisol. (luc/but)






