Jember (beritajatim.com) – Belum berakhirnya perang Iran melawan Amerika Serikat membuat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Glenmore menggelar konsolidasi di Rumah Makan Mangli Indah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).
Konsolidasi ini tak hanya diikuti pengurus dan anggota APTR PG Glenmore, tapi juga General Manager PG Glenmore Banyuwangi Agus Priambodo dan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember Muhammad Djamil.
Ketua APTR PG Glenmore Siswono mengatakan, kendati PG Glenmore berlokasi di Kabupaten Banyuwangi, mayoritas pemasok tebunya adalah petani Jember. “Jadi kesejahteraan dan kehidupan petani tebu butuh kebijakan Bupati Jember dan jajarannya,” katanya.
Menjelang musim giling tebu, Siswono menilai petani perlu berkonsolidasi dengan Pemerintah Kabupaten Jember dan PG Glenmora untuk mengantisipasi ketersediaan bahan bakar minyak solar.
“Perang Timur Tengah berakibat fatal terhadap BBM. Ketika hatga BBM naik dan langka, ini sangat mengganggu dan menggerus rencana kita untuk meningkatkan hasil panen,” kata Siswono.
Saat ini harga BBM non subsidi pun sudah melambung. “Saya biasanya beli Pertamax Dex Rp14.500 per liter, naik jadi Rp23.900 per liter,” kata Siswono.
Di tengah naiknya harga BBM non subsidi, Siswono berharap perang di Timur Tengah tiak membuat pasokan solar terputus. “Ketika kita sedang tebang tebu, pasokan solar macet, petani bisa menangis lagi,” katanya.
Selain memastikan pasokan solar cukup, Siswono berharap pemerintah memberikan bantuan alat mesin pertanian kepada petani tebu. Selama ini bantuan alat mesin pertanian selalu menyasar petani padi. “Awak iki sing petani tebu ngiler, nangis,” katanya.
Saat mengikuti rapat kerja dengan pemerintah pusat, Siswono selalu menyampaikan harapan agar petani tebu juga diperhatikan. “Kita ini juga bagian dari NKRI. Asasnya keadilan sosial yang merata. Harapannya petani tebu juga mendapatkan bantuan alat mesin pertanian,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Siswono berharap Dinas TPHP Jember memberikan solusi regulasi agar tidak ada persyaratan pembentukan kelompok tani untuk menerima bantuan alat mesin pertanian. “Di kalangan petani tebu tidak ada gabungan kelompok tani. Yang ada adalah APTR, asosiasi,” katanya.
Rencananya musim giling di PG Glenmore akan dimulai pada 5 Mei 2026. Namun karena ada perbaikan mesin, agenda giling diundur menjadi 9 Mei 2026. “Itu pun kalau tidak ada intervensi dari Dirut (PT Sinergi Gula Nusantara) karena di Situbondo dilakukan penggilingan percobaan,” kata Siswono.
Masalah jadwal giling ini sempat dipersoalkan petani tebu di Jember, menyusul adanya wacana penggilingan tebu di PG Glenmore dilaksanakan setelah lebaran. “Kalau pasca lebaran, maka akan mengganggu produktivitas kita sebagai petani rebu, karena saat ini tebu kita memungkinkan untuk panen di awal Mei,” kata Siswono.
Siswono berharap cuaca bersahabat dan hasil penggilingan menguntungkan petani. “Alhamdulillah tahun kemarin kualita terbaik dan termahal ada di PG Glenmore. Sekalipun memang tidak didukung oleh rendemen pada saat itu, katena faktor cuaca (hujan terus-menerus),” katanya.
Musim giling kali ini Siswono lebih optimistis. “Ramalan cuaca kali ini terjadi kemarau panjang. Kemarau ini adalah momentum untuk meningkatkan kadar gula atau rendemen,” katanya.
Namun Siswono juga berharap agar gula rafinasi yang diperuntukkan industtri makanan dan minuman tidak bocor ke pasar rumah tangga. “Harapan saya Satgas Pangan Kabupaten Jember melakukan operasi terhadap gula rafinasi sehingga tidak mengganggu harga gula milik petani,” katanya. [wir/suf]






