Magetan (beritajatim.com) – Kelangkaan Minyakita yang terjadi selama beberapa bulan terakhir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, membuat masyarakat beralih ke minyak goreng curah. Meski harga minyak curah juga mengalami kenaikan, produk tersebut tetap menjadi pilihan karena lebih mudah diperoleh dan dinilai lebih terjangkau dibanding minyak goreng kemasan.
Fenomena tersebut terlihat di salah satu penjual minyak goreng curah di kawasan Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kepolorejo, Kabupaten Magetan, Sabtu (27/6/2026). Sejak Minyakita sulit ditemukan di pasaran, pembeli yang datang membawa jeriken maupun galon bekas air minum terus berdatangan untuk membeli minyak goreng curah.
Saat ini minyak goreng curah dijual seharga Rp19 ribu per kilogram. Harga tersebut naik Rp1.000 dibandingkan sebelumnya yang berada di angka Rp18 ribu per kilogram. Kendati demikian, permintaan tetap tinggi, terutama dari pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan yang membutuhkan pasokan minyak dalam jumlah besar setiap hari.
Selain lebih mudah didapat, minyak goreng curah dinilai memiliki kualitas yang cukup baik untuk kebutuhan usaha. Kondisi itu membuat banyak pelaku usaha memilih beralih dari Minyakita ke minyak curah demi menjaga biaya operasional tetap terkendali.
Heru, salah seorang pedagang gorengan di Magetan, mengaku terpaksa menggunakan minyak goreng curah karena Minyakita semakin sulit ditemukan dan harganya terus meningkat.
“Minyak goreng curah naik, kita sekarang pakai curah karena Minyakita langka, harganya juga mahal untuk pedagang gorengan,” ujar Heru.
Kelangkaan Minyakita juga terpantau di Pasar Sayur Magetan. Jika tersedia, harga Minyakita kini mencapai Rp22 ribu per liter, naik dari sebelumnya Rp20 ribu per liter. Namun stoknya sangat terbatas sehingga sulit diperoleh masyarakat.
Sebagian besar pedagang di pasar memilih menjual minyak goreng kemasan merek lain seperti Sunco dan Fortune. Kedua produk tersebut kini dijual sekitar Rp25 ribu per kemasan 800 mililiter, naik dari harga sebelumnya Rp23 ribu.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan minyak goreng curah turut dirasakan para penjual. Ira Wulandari, penjual minyak goreng curah di Jalan Yos Sudarso, mengatakan sebagian besar konsumennya merupakan warga yang sebelumnya membeli Minyakita.
“Minyakita langka, warga pindah ke curah. Harga Minyakita sudah lupa saya karena sudah lama tidak ada. Curah kita jual Rp19 ribu per kilogram,” kata Ira Wulandari.
Peralihan masyarakat ke minyak goreng curah menunjukkan bahwa ketersediaan barang menjadi pertimbangan utama di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Bagi pelaku usaha mikro, terutama pedagang makanan, selisih harga minyak goreng sangat memengaruhi biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh setiap hari.
Kondisi ini juga berdampak pada masyarakat berpenghasilan rendah yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga akibat naiknya harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan. Apabila pasokan Minyakita belum kembali normal, potensi kenaikan permintaan terhadap minyak goreng curah diperkirakan masih akan berlanjut.
Para penjual maupun pembeli berharap harga minyak goreng curah tidak kembali mengalami kenaikan. Mereka juga menantikan pasokan Minyakita kembali stabil agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dengan harga yang terjangkau serta aktivitas usaha kecil dapat berjalan tanpa terbebani lonjakan biaya produksi. [fiq/suf]






