Blitar (beritajatim.com) – Aroma pekat kopi robusta bercampur dengan riuh antusiasme ratusan pencinta kafein memadati halaman Kantor Wali Kota Blitar. Perhelatan Soekarno Coffee Fest 2026 yang berlangsung sejak 26 Juni hingga 28 Juni 2026 resmi menjadi panggung pembuktian bahwa komoditas hijau dari lereng Blitar tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Mengusung jargon lawas nan bertenaga, “Jang Lokal, Jang Vokal”, festival tahun ini bukan sekadar ajang unjuk rasa kopi, melainkan sebuah maklumat bahwa pegiat kopi Blitar siap bersuara lantang di panggung dunia.
Ketua Pelaksana Soekarno Coffee Fest 2026, Toni Ahmad, mengungkapkan bahwa pemilihan tema tahun ini mengemban misi ideologis yang kuat yakni mengenalkan identitas kopi lokal sekaligus mengapresiasi para pahlawan di balik layar yang telah mengharumkan nama Blitar di kancah nasional maupun internasional.
“Melalui tema ‘Jang Lokal, Jang Vokal’, kami ingin memperkenalkan potensi kopi lokal dengan mengangkat teman-teman kopi yang sudah berprestasi di kancah nasional hingga internasional,” ujar Toni, Sabtu (27/06/2026).
0Salah satu magnet utama dalam festival ini adalah kehadiran Ahrian Festyananda, sosok yang sukses menyulap robusta lokal Blitar menjadi komoditas kompetisi kelas berat. Kiprahnya tercatat gemilang dengan menyabet Juara IV Nasional pada 2025, yang kemudian ia lampaui dengan merengkuh posisi Juara II Nasional pada 2026.
Tidak berhenti di sana, tahun ini Ahrian dipercaya mewakili bendera Indonesia dalam kompetisi green bean robusta tingkat ASEAN yang digelar di Vietnam.
Soekarno Coffee Fest 2026 juga menjadi ajang reuni para jawara lokal yang selama ini bergerak di balik mesin ekspreso nusantara. Pengunjung festival berkesempatan mengenal lebih dekat figur-figur inspiratif melalui sesi workshop dan talkshow, di antaranya:
1. Putri Ayu: Finalis Barista Innovation Challenge (BIRC) tingkat Nasional.
2. Firman Satriya: Finalis Indonesia Latte Art Competition (ILAC).
3. Ryno Pangkey: Barista lokal yang menembus batas internasional setelah ditunjuk oleh merek kopi legendaris asal Swiss untuk menyajikan kopi di ajang World Coffee Event Jakarta pada 2025.
“Kami ingin teman-teman kopi dan para penikmat kopi yang datang ke Soekarno Coffee Fest turut merasakan kebanggaan atas capaian mereka,” tambah Toni Ahmad.
Festival yang berlangsung selama tiga hari ini menyajikan ekosistem kopi yang lengkap. Sebanyak 32 tenant lokal dari Kota dan Kabupaten Blitar bersanding dengan 7 tenant undangan dari luar daerah untuk menyajikan racikan terbaik mereka. Guna menguji ketangkasan para peracik muda, panitia juga menggelar kompetisi latte art sengit yang diikuti oleh 32 peserta dari berbagai sudut Jawa Timur.
Sisi maskulin industri kopi kian dipermanis dengan sentuhan budaya. Penyelenggara memberikan ruang ekspresi yang luas bagi para seniman dan budayawan lokal untuk menginvasi panggung hiburan dengan pertunjukan musik serta seni khas Blitar saban malamnya.
Bagi Anda yang ingin menikmati helatan ini, pintu festival dibuka setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.
Namun, ada yang istimewa di hari penutupan, Minggu (28/6). Festival akan mencuri start lebih awal sejak pukul 06.00 WIB demi berkolaborasi langsung dengan momentum Car Free Day (CFD) Kota Blitar. Sebuah konsep ciamik untuk menyatukan kultur hidup sehat warga kota dengan ritual ngopi pagi.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsep penggabungan industri kreatif dan pariwisata mikro ini. Ia menilai ajang ini sebagai katalisator ekonomi yang mumpuni bagi daerah.
“Harapannya dengan acara ini dapat menjadi momentum bagi pecinta kopi untuk menikmati berbagai racikan kopi serta membantu perputaran ekonomi di Kota Blitar,” pungkas Wali Kota. (owi/aje)






