Surabaya (beritajatim.com) – Di balik tampilan buket balon yang terlihat sederhana, ternyata ada tantangan tersendiri yang kerap dihadapi para pemula. Hal ini diungkap langsung oleh Intan Manullang saat menggelar workshop bulanan Balonnina yang berkolaborasi dengan ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya, di One Deck Gastropub, dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Workshop yang terbuka untuk umum ini menghadirkan pengalaman belajar yang lengkap, mulai dari penyediaan alat dan bahan hingga sesi praktik langsung, termasuk fasilitas coffee break. Pada sesi kali ini, peserta diajak membuat buket bunga daisy dari balon—model yang dipilih karena dinilai ramah bagi pemula dengan teknik dasar yang relatif sederhana dan waktu pengerjaan yang lebih singkat.
Namun, di balik kesederhanaan tersebut, Intan mengungkapkan ada tantangan mendasar yang hampir selalu dialami peserta baru, yakni rasa takut balon meletus. Menurutnya, kekhawatiran tersebut justru menjadi penghambat utama dalam proses belajar.
“Balon itu memang bisa meletus kapan saja, bisa karena teknik atau faktor cuaca. Tapi kalau dari awal sudah takut, justru itu yang bikin kita tidak berani mencoba,” ujarnya.
Selain itu, tantangan lain yang kerap muncul adalah soal konsistensi bentuk, khususnya saat membuat mahkota bunga daisy. Intan menjelaskan bahwa menyamakan ukuran setiap bagian membutuhkan ketelitian dan jam terbang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemampuan tersebut bisa terasah seiring latihan.
Tak hanya fokus pada buket bunga, Balonnina Surabaya juga mengembangkan kreasi buket karakter yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Intan mencontohkan karakter dari Sanrio seperti Hello Kitty, Kuromi, hingga My Melody yang membutuhkan teknik pembentukan berbeda di setiap detailnya, sehingga waktu pengerjaannya pun lebih panjang.

Pengalaman tersebut turut dirasakan oleh salah satu peserta, Jessica Klasyca (27), yang untuk pertama kalinya mengikuti workshop buket balon. Ia mengaku sempat merasa khawatir saat mulai mencoba, terutama karena belum terbiasa dengan teknik dasar.
“Awalnya takut juga kalau balonnya pecah, karena belum tahu tekniknya. Tapi ternyata seru, dan hasilnya juga bagus. Jadi puas banget,” ujarnya.
Jessica menilai tingkat kesulitan pembuatan bunga daisy berada di level sedang, sehingga masih bisa diikuti oleh pemula. Ia juga mengungkapkan ketertarikannya mengikuti workshop ini karena berkaitan dengan pekerjaannya ada kaitannya dengan dekorasi.
“Kebetulan saya bekerja dan berhubungan dengan dekoran gitu. Jadi, mau belajar membuat buket balon ini, nanti kalau sudah bisa dan ada photoshoot apa, jadi bisa saya bikin sendiri gitu,” pungkasnya.
Melihat banyaknya variasi model yang bisa dikembangkan, Jessica mengaku tertarik untuk kembali mengikuti workshop serupa di masa mendatang, terutama untuk mempelajari pembuatan buket karakter.
Sementara itu,General Manager ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya, Teddy Patrick, menilai kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan kegiatan kreatif, tetapi juga membawa dampak positif, khususnya dalam mendorong pemberdayaan perempuan.
“Semangat Kartini tidak hanya diperingati, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang mendorong perempuan untuk terus belajar dan berkarya. Kami berharap workshop ini bisa memberikan pengalaman bermakna sekaligus inspiratif,” ujarnya.
Melalui workshop ini, Balonnina Surabaya tidak hanya berbagi keterampilan, tetapi juga membuka perspektif baru bahwa proses belajar kreatif selalu dimulai dari keberanian mengatasi rasa takut. (fyi/but)






