Jember (beritajatim.com) – Moch. Eksan, dosen mata kuliah Ahlussunah wal Jamaah Universitas PGRI Argopuro (Unpar) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung kandidat presiden Anies Rasyid Baswedan melalui buku.
Buku berjudul ‘Kerikil di Balik Sepatu Anies’ itu diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta tahun ini dengan tebal 196 halaman. Ada tiga tokoh akademisi dan jurnalis yang memberikan kata pengantar, yakni kolumnis Isa Ansori, dosen Universitas Jember Muhammad Iqbal, dan jurnalis senior Dhimam Abror Djuraid.
Buku itu sudah diserahkan langsung ke Anies oleh Eksan, pada 19 Maret 2023. Saat itu Anies sedang berkunjung ke Surabaya. “Buku ini bagian dari apresiasi saya terhadap gagasan, kebijakan, dan rekam jejak Anies Baswedan dalam memimpin DKI Jakarta. Gagasan, kebijakan, dan rekam jejak itu ditarik dalam konteks kontestasi Pemilihan Presiden 2024, sehingga arahnya ke sana. Bagian dari untuk melakukan analisis data dan seterusnya mengenai Anies,” kata Eksan, Selasa (11/4/2023).
Menurut Eksan, Anies banyak disalahpahami orang. “Buku itu menunjukkan bahwa proses pencalonan Pak Anies tidak mulus. Dia menghadapi kerikil-kerikil yang jadi batu sandungan, sejak memimpin DKI Jakarta, dideklarasikan Nasdem, sampai pembangunan koalisi,” katanya.
Dengan bukunya, Eksan ingin membantu publik lebih memahami gagasan, kebijakan, dan rekam jejak Anies. “Apakah benar yang dipersepsikan publik, misalnya politik identitas, bahwa yang bersangkutan dikendalikan ideologi tertentu. Misalnya yang bersangkutan tak akan melanjutkan proyek IKN (Ibu Kota Nusantara) Jokowi. Itu semua terjawab di buku itu,” katanya.
Buku Eksan tak hanya menjelaskan apa yang tampak, tapi juga yang tersembunyi di balik gagasan, kebijakan, dna rekam jejak Anies. Ia menelusuri alur filosofi yang jadi dasar pemikiran Anies. Itu semua dituangkan dalam buku tersebut: soal jalan keagamaan, jalan keadilan, jalan pendidikan, jalan kesejahteraan, jalan kekuasaan, jalan demokrasi, dan jalan perjuangan hak.
“Pahami Anies apa adanya, tidak perlu berlebihan dan tidak perlu berpura-pura. Baca buku itu sebagai sebuah fakta, dan fakta dibaca dengan obyektif dengan menggunakan nalar yang logis. Tidak melibatkan bias kepentingan cinta yang berlebih dari lovers maupun haters,”: kata Eksan. [wir]






