Jember (beritajatim.com) – Partai Amanat Nasional (PAN) menyesalkan tuduhan kecurangan yang dilontarkan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan adanya dugaan manipulasi suara pemilihan umum DPR RI di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Yang saya sayangkan, kita ini kan partai koalisi yang saya sendiri berjuang untuk Prabowo-Gibran mati-matian dalam pemilihan presiden. Bahkan partai mereka sendiri, yang sebenarnya mengusung, tidak sekeras kami berjuang. Tapi kenapa kok kami yang dikorbankan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional Jember Abdus Salam, Jumat (1/3/2024).
Hal serupa juga diontarkan Wakil Ketua DPD PAN Jember Alfian Zuhdi Pratama. “Kami hanya berharap setelah kemenangan presiden yang sama-sama dari hasil berjibaku antara PAN dan Gerindra, seyogyanya kita saling menguatkan. Bukannya saling menjatuhkan dengan adanya tuduhan yang berlebihan tersebut,” katanya.
Tuduhan DPC Gerindra Jember terhadap Salam dan PAN Jember memang serius. Ketua DPC Gerindra Jember Ahmad Halim dan calon legislator DPR RI Kawendra Lukistian mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Jember, Jalan Dewi Sartika, Kamis (29/2/2024). Mereka melaporkan dugaan penggelembungan kurang lebih delapan ribu suara PAN di 13 kecamatan di Jember.
Salam dan Kawendra memang bersaing untuk memperoleh satu dari delapan kursi DPR RI di Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang. Salam menegaskan keunggulan dukungan untuknya mencapai 6.000 – 8.000 suara melebihi Kawendra untuk memperoleh kursi kedua. “Saya lolos,” katanya.
Salam mengklaim unggul tipis atas Partai Keadilan Sejahtera dan berada di bawah caleg Partai Kebangkitan Bangsa. Sementara itu Partai Gerindra berpeluang mengejar kursi kedua, setelah kursi pertama DPR RI untuk Gerindra diperkirakan bakal diraih Bambang Haryadi, seorang caleg petahana.
“Maka itu, ada upaya mengejar dengan cara menambah suara, tapi menggerus suara milik kami. Kalau menambah, mereka kan bekerja keras tiga kali lipat dari yang dibutuhkan,” kata Salam.
Kehebohan dugaan manipulasi suara besar-besaran ini berawal dari Kecamatan Sumberbaru. Tim sukses calon legislator DPR RI dari Golkar, Muhamad Nur Purnamasidi, melaporkannya ke Bawaslu Jember. Bawaslu Jember pun mengeluarkan rekomendasi penghitungan suara ulang tingkat kecamatan di sana.
Salam melihat kehebohan di Sumberbaru ini kemudian dimanfaatkan Gerindra untuk menyerang PAN. “Dalam penghitungan ulang ini kan yang dibenahi sebenarnya perolehan suara Golkar. Lha ini kok yang diacak-acak punya PAN. Punya PAN berkurang, yang bertambah punya Gerindra dan PDI Perjuangan. Ini kan tidak fair. Kalau penghitungan ulang ya seadil-adilnya,” katanya.
Menurut Salam, ada perubahan data angka di D-Hasil Penghitungam Suara setelah penghitungan suara ulang sebagaimana dituntut caleg Golkar. PAN kehilangan suara dari 10.500 suara menjadi 4.500 suara. “Kemudian Gerindra yang tadinya 7.000 – 8.000 menjadi 10 ribu. Yang diambil dan diolah tetap suara dari PAN,” katanya.
PAN Jember menuntut agar persoalan data itu dibereskan sebelum rekapitulasi suara Kecamatan Sumberbaru dibawa ke rapat pleno tingkat kabupaten. “Suara kami harus dikembalilkan asal dulu sebagaimana awal. Katanya yang dibenahi kemarin cuma punya Golkar. Kenapa kami yang dihabisi? Kenapa kami kena dampak? Kami jadi korban isunya,” kata Salam.
Salam akan berjuang keras agar suara PAN dikembalikan. Ia sadar, PAN bakal kalah kalau membiarkan suara yang hilang itu tak dikembalikan. “Ini rawan. Kami bisa kalah tipis 100 suara atau 150 suara. Padahal mereka kalah telak dari PAN kurang lebih 6 ribu suara.,” katanya.
Salam menghormati keinginan Gerindra untuk memperoleh dua kursi DPR RI. “Tapi jangan seperti ini. Jangan curang. Kalau mereka menuntut keadilan, ya ayo dibuka semua yang mereka rekomendasikan. Silakan kita hitung ulang. Tapi sebelum dibawa (ke rapat pleno kabupaten), jumlah suara saya di Sumberbaru ya harus dikembalikan dulu,” katanya.
Salam menegaskan data C-Hasil Salinan di Kecamatan Sumberbaru yang dimilikinya lengkap. Itulah yang membuatnya optimistis. “Kami sudah siapkan langkah hukum. Tapi sebelum itu, secara hak saya sebagai warga negara Indonesia, dan apalagi saya berjuang untuk presiden kita mati-matian. saya minta agar jumlah suara yang diperoleh PAN dikembalikan dulu sebelum diproses di rekapitulasi tingkat kabupaten,” katanya.
“Ayo kita adu data di rekap tingkat kabupaten. Kita adu data seadil-adilnya. Kalau (permintaan pengembalian suara PAN) ini tidak direalisasikan, kami minta coblos ulang. Biar rame sekalian,” kata kata Salam. [wir]






