Blitar (beritajatim.com) – Bersembunyi di belakang rumah warga, Mushala At-Taqwa ternyata menyimpan nilai sejarah perjuangan islam. Mushala At-Taqwa di Dusun Darungan, Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok ini konon sudah berdiri sejak 1860 silam.
Saat melalui mushala tersebut akan terlihat plakat berwarna hijau dengan tulisan Mushala At-Taqwa. Mushala ini juga dikelilingi pepohonan yang rimbun yang akan membawa kita bernostalgia dengan masa kecil dulu.
“Saya termasuk keturunan nomor empat dari pengurus musala ini sejak berdiri di pertengahan 1800-an lampau,” kata Syaiful Rizal, pengurus Mushala At-Taqwa.
Menurut sejarah pendiri mushala At-Taqwa ini dikenal dengan sebutan Mbah Haji Usman yang berasal dari wilayah Madiun. Sang pendiri ini merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang melakukan pelarian.
“Dulu di sini kayak ada semacam komplek rumah-rumah besar. Selatan sawo besar itu ada tembok setinggi tiga meter. Mengelilingi tanah seluas sekitar 40-50 meter dan ada pintu gerbang juga, dimungkinkan beliau juga termasuk salah satu prajurit Diponegoro,” jelasnya pada Senin (18/3).
Bangunan Mushala At-Taqwa di Desa Jiwut Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar terlihat klasik. Tidak ada sentuhan kaligrafi di bangunan mushala. Tempat imam juga masih sangat klasik.
Dulu, di belakang mushala ada kolam pemandian yang biasa digunakan untuk berwudhu dan mandi dengan aliran air dari sungai utara. Masih tersisa dari peninggalan para pendiri mushola ada pohon salak yang tingginya melebihi tembok yang tingginya hampir 2 meter.
“Mungkin saat pasukan Belanda melalui tempat tersebut, tidak bisa melihat aktifitas yang dilakukan di sekitar mushala,” bebernya.
Di balik keantikannya, Mushala At-Taqwa pernah terbengkalai hingga 5-6 tahun. Saat itu, saudaranya yang menjadi pengelola. Dan kemudian ketika saudaranya ini meninggal, posisi tidak memiliki anak. Maka status pengurus mushola dikembalikan ke keluarga. Berdasarkan musyawarah akhirnya mushala ini diwaqafkan.
Usai itu Mushala At-Taqwa kemudian mulai dibersihkan dan dirawat kembali. Ada pergantian pada tiang teras, yang awalnya kayu jati, diganti dengan kayu balau. Dikarenakan ada pembusukan pada kayu yang lama.
Selain itu, renovasi mushala hanya di bagian plafon, pengecatan ulang, pembelian pengeras suara, pembuatan sumur dan tempat wudhu, serta kamar mandi. Untuk alas diganti keramik yang sebelumnya hanya semen plester.

Rutinitas mushala At-Taqwa seperti mushala pada umumnya. Masih menggelar jamaah untuk shalat lima waktu, ditambah rutinan khotmil quran sebulan sekali. Begitu juga dalam bulan Ramadhan. Ada tarawih dan tadarus Al-Quran pada malam hari.
“Imamnya ya saya sendiri karena sudah tidak ada yang lain,” pungkasnya.
Untuk ke depannya, Syaiful berencana membangun pagar, itu agar kondisi musala bisa lebih terjaga dan bisa menjadi salah satu destinasi wisata religi. [owi/but]






