Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto mengingatkan warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk tidak mudah menerima panggilan video atau video call atau mengirimkan foto kepada orang yang tidak dikenal. Teknologi digital modern mudah memanipulasi gambar.
“Begitu video call dengan kita, lalu di-screen shoot, di situ yang mem-video call kita adalah orang yang tidak memakai busana. Di situ akan disebarluaskan, pakai ancaman. Bisa terjadi. Dan kita akan terbelenggu: ‘kalau Anda tidak mau menuruti kehendak saya, maka akan saya saya sebarkan’,” kata Hendy, ditulis sabtu (2/12/2023).
Korban takut bakal berurusan dengan hukum kalau video itu disebarkan. “Kalau tidak masuk penjara pun, nama saya sudah terbesar. Siapa yang memulihkan nama baik? Tidak ada jasa memulihkan nama baik. Konsultan jasa pemulihan nama baik, ada gak? Kalau ada, diusulkan ke Bapak Presiden, bagaimana memulihkan nama baik,” kata Hendy.
Pasalnya, jika itu sudah terjadi, menurut Hendy, hal itu sulit untuk dihapus dan menjadi catatan sejarah buruk yang bisa dibaca oleh anak dan cucu. “Menjadi sejarah keluarga, bahwa kakek berbuat maksiat di situ. Padahal (kakek) tidak melakukan apa-apa. Tapi foto sudah telanjur tersebar, padahal tidak berbuat mesum,” katanya.
“Jadi jangan mudah menerima telepon kalau tidak kenal. Jangan menerima video call kalau tidak kenal. Tidak menyebarkan hal bermacam-macam. Jangan memfoto. Karena teknologi terbaru bisa membuka baju kita (dalam foto). Ini bisa dibuiktikan dengan sistem yang canggih. Orang yang mengerti lebih sedikit, sedangkan orang yang tidak mengerti, jumlahnya lebih banyak,. Kalau disebarkan, dikira itu beneran,” kata Hendy.
Hendy berpesan kepada para orang tua untuk menjaga anak-anak gadis mereka untuk tidak terjebak dalam modus seperti itu. Ia siap memfasilitasi Komisi Nasional Perempuan untuk mengampanyekan untuk berhati-hati dan menimgkatkan akhlak.
“Kepedulian orang tua terhadap anak menjadi penting. Karena embrio awal anak-anak kita, yang berusia sekolah sampai dewasa, peran orang tua penting. Hand phone yang diberikan kepada anak, dilihat history-nya. Dia sendang menghubungi siapa, melihat apa. Kalau melihat hal bermacam-macam, tidak menutup kemungkinan, dia bakal melakukan hal yang tidak baik. Ini cikal-bakal terjadinya kekerasan (terhadap perempuan),” kata Hendy.
Pekerjaan rumah terpenting adalah mengantisipasi agar perbuatan negatif dan kekerasan terhadap perempuan tidak terjadi. “Kalau sudah terjadi, kita serahkan kepada regulasi. Selesai. Tapi yang kita harapkan adalah sosialisasi terus-menerus, karena kekerasan terhadap perempuan (berpotensi) terjadi terus-menerus,” kata Hendy.
Hendy meminta sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dilakukan bersama-sama dan melibatkan banyak pihak. “Jangan kita putus asa menggaungkan cara menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Banyaknya kekerasan berjalan seiring dengan kemajuan teknologi,” katanya. [wir]






