Blitar (beritajatim.com) – Tantangan besar masih membayangi sektor ketenagakerjaan di Kabupaten Blitar. Pasalnya hingga saat ini Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bumi Penataran berada di angka 4,49 persen.
Angka ini rupanya masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka Provinsi Jawa Timur yang mencapai 3,88 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar, Ivong Bettriyanto, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menyamakan persepsi publik mengenai apa itu pengangguran. Ivong menyoroti fenomena anak lulusan SMK yang setiap tahunnya langsung menyandang status pengangguran jika tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
“Kita harus sama persepsinya. Contoh paling gampang, anak lulus SMK. Begitu lulus, kalau tidak kuliah, ya dia jadi pengangguran. Inilah yang menjadi konsen kami,” ujar Ivong, Rabu (1/4/2026).
Untuk membendung ini, Disnaker mengoptimalkan peran Bursa Kerja Khusus (BKK) yang tersebar di SMK-SMK. Melalui BKK, para siswa yang ingin langsung bekerja dikoneksikan dengan perusahaan-perusahaan serta Balai Latihan Kerja (BLK), baik untuk penempatan dalam negeri maupun luar negeri.
Menariknya, Ivong secara blak-blakan mengakui adanya kerumitan dalam membaca data statistik yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Ia menyebut indikator yang digunakan BPS seringkali sulit dipahami secara teknis oleh instansi pelaksana.
“Masalah penghitungan riil itu ranahnya BPS. Sampai hari ini pun saya masih bingung datanya seperti apa. Indikatornya apa, kami belum paham betul. Tapi subtansi kami di Disnaker adalah pada aksi: bidang pelatihan untuk mencetak entrepreneur dan bidang penempatan,” tegasnya.
Selain melalui jalur formal, Disnaker menjagokan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan SPPG sebagai mesin penyerap tenaga kerja massal di tingkat akar rumput.
Meskipun belum berani memaparkan data serapan secara statistik (karena menunggu olahan BPS), Ivong memberikan gambaran matematis yang sangat optimistis dampak adanya KDMP dan SPPG.
Menurut Ivong KDMP berpotensi menyerap banyak tenaga kerja. Pasalnya di Kabupaten Blitar akan ada 248 KDMP. Jika satu KDMP saja membutuhkan 5 hingga 10 tenaga kerja, maka ribuan orang akan terserap secara otomatis.
Sementara untuk dapur makan bergizi gratis atau MBG, sudah jelas serapan tenaga kerjanya. Rata-rata 1 SPPG menyerap 40 pengangguran.
“Dampaknya luar biasa, Mas. SPPG itu membuka lapangan pekerjaan yang sangat besar. Meskipun saya belum hafal berapa yang sudah beroperasi saat ini, tapi secara signifikan ini akan sangat membantu menurunkan pengangguran,” pungkasnya.(owi/ted)






