Di ruang Komisi C DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, seorang anggota parlemen iseng-iseng melontarkan pertanyaan dalam sebuah obrolan tentang sepak bola. “Adakah unsur magis dan klenik dalam sepak bola profesional?”
Saya memang pernah membaca sebuah majalah olahraga puluhan tahun silam, tentang pemain di Indonesia yang memasang susuk di kakinya. Saat kakinya berbenturan dengan kaki pemain lain, yang terdengar suara ‘tring’. Seperti suara tumbukan dengan besi.
Sementara itu, jika tim tuan rumah tak juga mencetak gol, tidak jarang seorang suporter turun ke lapangan untuk mengencingi gawang lawan. Air kencing dipercaya mengusir tuah magik yang dipakai tim lawan.
Bruce Grobbelaar pernah mencoba mengencingi empat sisi gawang di Stadion Anfield pada 2013 berdasarkan saran seorang dukun Zimbabwe. Mantan kiper Liverpool itu ingin memutus kutukan kegagalan The Reds menjadi juara Liga Inggris selama puluhan tahun. Namun dia hanya sukses mengencingi dua sisi, karena keburu ketahuan orang.
Dalam Piala Dunia 2026, seorang dukun bernama Stephen Osei Mensah alias Nana Kwaku Bonsam, melakukan ritual untuk mencegah striker Inggris Harry Kane membobol gawang Ghana. Pertandingan Inggris melawan Ghana di fase grup berakhir imbang tanpa gol. Namun Ghana tidak jadi juara dunia.
Di antara semua negara peserta Piala Dunia 2026, hanya Haiti yang memiliki sejarah resmi keterikatan dengan ilmu magik: Voodoo. Dan seorang pemimpin diktator bernama François ‘Papa Doc’ Duvalier dengan lihai memanfaatkannya untuk memperbesar pengaruhnya pada saat berkuasa.
Duvalier lahir pada tahun 1907 dan memimpin Haiti dengan tangan besi pada 1957 hingga menjelang mangkat pada 1971. Julukan Papa Doc diperolehnya dari para pasien yang ditanganinya saat bekerja sebagai dokter di sebuah perusahaan Amerika Serikat yang menangani penyebaran sejumlah penyakit tropis, termasuk tifus dan malaria, di Haiti.
Duvalier sempat bergabung dengan gerakan Négritude Haiti, yang berjuang melawan penindasan rasial dan menjabat sebagai menteri kesehatan masyarakat dan tenaga kerja di Haiti.
Tahun 1957 menjadi titik balik Duvalier. Dia menang telak dalam pemilihan presiden dengan dukungan 678.860 suara, sedangkan lawannya Louis Déjoie didukung 264.830 suara.
Warna asli Papa Doc terlihat setelah menjadi Presiden Haiti. Bendera nasional yang semula berwarna kombinasi merah dan biru diubah menjadi merah dan hitam, yang merupakan warna simbolik Voodoo.
Dia juga membentuk pasukan paramiliter, Tonton Macoutes, yang memburu, membunuh, dan menyiksa oposisi, serta memungut pajak tidak resmi. Dan dia menggunakan Voodoo, agama mayoritas di Haiti yang sering dikaitkan dengan magik dan klenik, untuk memperkuat mitos terhadap dirinya.
Berdasarkan temuan antropolog Wade Davis, dewa utama yang disembah jemaat Voodoo adalah Duvalier sendiri. Altar di kuil-kuil Voodoo rahasia didominasi oleh gambar sang presiden. Ritual ini membutuhkan perawan berkulit hitam, jantung yang ditusuk, botol rum, pedang, dan sekop untuk menggali kuburan.
“Musuh-musuhku tidak dapat menangkapku. Aku sudah menjadi makhluk tak berwujud,” kata Duvalier dalam sebuah pidato. Dengan kemampuan Voodoo-nya, dia mengklaim telah mengutuk Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang membekukan bantuan ekonomi untuk Haiti, sehingga Kennedy mati di tangan Lee Harvey Oswald pada 22 November 1963.
Duvalier resmi menjadi presiden seumur hidup Haiti setelah referendum pada 1964. Dua tahun kemudian, dia meyakinkan Vatikan untuk memberinya hak menunjuk para imam di Gereja Katolik Haiti, karena ingin mengendalikan agama Katolik setelah berhasil memanfaatkan Voodoo. Bahkan untuk kepentingan itu, ‘Doa Bapa Kami’ pun ditulis ulang untuk menyanjung Duvalier.
“Berikanlah kepada kami hari ini Haiti baru kami dan janganlah ampuni pelanggaran para penyusup anti-patriotik yang setiap hari meludahi tanah kami. Bawalah mereka ke dalam godaan, dan di bawah beban racun mereka, janganlah bebaskan mereka dari kejahatan.”
Tak hanya Voodoo, Duvalier memanfaatkan sepak bola untuk melanggengkan kekuasaan. Dia memilih menggelontorkan uang untuk pengembangan sepak bola pada dekade 1960-an ketimbang memperbaiki fasilitas Kesehatan pada saat angka buta huruf tinggi dan kelaparan terjadi di perdesaan.
Papa Doc melarang semua transfer pemain asing untuk menjaga semua pemain Haiti tetap bermain di dalam negeri. Dia membangun fasilitas mewah untuk sepak bola dan memberikan yang terbaik untuk tim nasional Haiti. Ini membuatnya dipahlawankan oleh para pemain sepak bola yang mayoritas berlatar belakang keluarga miskin.
“François Duvalier telah membawa cahaya ke dalam hidup kami. Bagi kami, dia adalah pemberi kehidupan, secercah harapan dan kami akan melakukan apa pun untuknya.” kata Roger Saint-Vil, seorang striker muda, yang kemudian tinggal di Amerika Serikat.
Tujuan Papa Doc jelas: lolos ke Piala Dunia. Dia rupanya tahu, bagaimana Piala Dunia menaikkan popularitas Mussolini di Italia. Dan untuk itu, Papa Doc tak segan-segan menyogok wasit.
Saat kualifikasi Piala Dunia 1970, seorang pemain Antilles Belanda mengaku melihat seorang pejabat utusan Duvalier menghilang ke ruang wasit sebelum pertandingan mereka melawan Haiti. Haiti menang 2-0.
Namun langkah Haiti terganjal dalam pertandingan play-off di Jamaika. Mereka kalah 0-1 dan gagal lolos ke Piala Dinia 1970. Rupanya ‘kesuksesan’ Papa Doc menyantet Kennedy tak berlaku di atas lapangan hijau.
Kendati gagal, Papa Doc berhasil menjadikan sepak bola mesin politik kebangsaan. “Saya sangat percaya bahwa tim sepak bola nasional adalah mercusuar – simbol – bagi apa yang seharusnya dicita-citakan rakyat Haiti,” kata Manno Sanon, bintang sepak bola Haiti era 1970-an.
Melihat keampuhan sepak bola dalam menciptakan siolidaritas massa, pemerintah berjanji membawa tim nasional Haiti menembus Piala Dunia 1974. “Presiden Duvalier akan terus memantau kemajuan timnya dan mendukung tim, para pemain, dan manajernya untuk memastikan mimpi ini menjadi kenyataan,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Papa Doc memenuhi janjinya. Haiti lolos ke Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Namun tiga tahun sebelum turnamen digelar, dia mangkat dan digantikan anak lelakinya, Jean-Claude Duvalier, yang berusia 19 tahun dan dijuluki Baby Doc.
Baby Doc membuka rekening bank khusus untuk Federasi Sepak Bola Haiti dan membiayai semua urusan sepak bola, termasuk renovasi Stadion Nasional Sylvio Cator untuk turnamen Concacaf 1973. Dia datang ke latihan dan secara teratur menelepon beberapa pemain untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja.
Keberhasilan timnas Haiti lolos ke Piala Dunia 1974 disambut dengan histeria. Para pemain baru bisa meninggalkan stadion setelah polisi membubarkan kerumunan massa seusai kemenangan 2-1 atas Guatemala.
Namun Piala Dunia 1974 tidak berjalan sesuai harapan. Haiti kebobolan 14 gol dan hanya mencetak dua gol, Mereka dikalahkan Italia 1-3, dicukur Polandia 0-7, dan dihajar Argentina 1-4 di fase grup.
Tidak hanya kekalahan di lapangan yang membuat pemerintah Haiti malu. Ernst Jean-Joseph, bek tengah timnas, yang gagal lolos tes doping dipukuli dan diseret keluar dari Pusat Olahraga Grunwald oleh petugas pemerintahan Haiti. Dia didorong ke dalam mobil dan dipulangkan ke Haiti. Semuanya dilakukan di depan wartawan.
Dan begitulah sepak bola Haiti mengakhiri kejayaannya.
Sabtu, 8 Februari 1986, Jean-Claude Duvalier kabur ke Prancis karena diburu rakyat Haiti yang memberontak. Setelah hidup di pengasingan, dia kembali ke Haiti pada 2011 dan meninggal dunia tiga tahun kemudian.
Kematian dinasti Duvalier tidak lantas membuat situasi politik stabil. Haiti mengalami tiga kali kudeta politik dan sejumlah bencana alam sejak saat itu. Gempa bumi 7,2 SR dan terbunuhnya Presiden Jovenel Moïse pada Juli 2021 membuat eskalasi politik meningkat.
Stadion Sylvio Cator diubah menjadi lokasi bantuan. Ratusan orang tinggal dalam tenda-tenda di lapangan. Sedikitnya 1,3 juta orang mengungsi, dan AS telah melarang semua penerbangan ke negara itu, setelah sejumlah pesawat menjadi sasaran tembakan.
Kondisi ini membuat tim nasional Haiti tidak bisa menggelar pertandingan di negara sendiri. Mereka harus menjamu tim lain dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 di Willemstad, Curaçao.
Bermain di negara lain yang berjarak 500 mil dari Haiti, hanya segelintir orang yang datang menyaksikan pertandingan timnas Haiti. Pertandingan mereka melawan St. Lucia di sebuah kompleks olahraga di Barbados hanya disaksikan 88 orang.
Namun bagi pelatih asal Prancis Sebastien Migne, ketidakhadiran suporter meningkatkan motivasi mereka. Ini juga mempermudahnya menyusun taktik yang koheren dan hampir identik sepanjang kualifikasi, tanpa terpengaruh faktor kandang dan tandang.
Timnas Haiti sendiri dibentuk Migne berdasarkan informasi dari federasi, televisi, dan internet. Terkadang dia menghadiri pertandingan para pemainnya yang bermain di Eropa. Dia kemudian memanggil sejumlah pemain diaspora, membentuk kombinasi pemain lokal yang bermain di luar negeri dan pemain kelahiran Prancis, AS, dan Kanada.
Hasilnya tidak mengecewakan untuk timnas sebuah negara yang terseok-seok karena politik. Dari 11 pertandingan kompetitif pada 2025, Haiti berhasil meraih empat kemenangan: melawan Aruba, Nikaragua (dua kali), dan Kosta Rika.
Kejutan terjadi karena Haiti berhasil lolos ke Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Nikaragua 2-0. Sejumlah pemain yang bermain di Eropa seperti Wilson Isidor (Sunderland), Jean-Ricner Bellegarde (Wolvehampton Wanderers), Hannes Delcroix (Lugano), Josue Casimir (Auxerre), dan Martin Experience (Nancy) menjadi tulang punggung tim.
Jurnalis David-Richard Leblanc menyebut keberhasilan timnas lolos ke Piala Dunia adalah segalanya bagi rakyat Haiti. “Ini tentang ketahanan dan kebanggaan. Anda melihat pemain datang dari seluruh dunia, memilih untuk mewakili Haiti, berjuang untuk lambang, untuk rakyat. Ini lebih besar dari sepak bola,” katanya.
Simbol semangat perjuangan itulah yang kemudian coba dituangkan Saeta, perusahaan olahraga Kolombia, pada jersey resmi Haiti yang akan dipakai dalam Piala Dunia. Ada gambar adegan perjuangan kemerdekaan Haiti di atas jersey berwarna biru itu.
Larangan muncul dari FIFA yang menilai jersey itu mengandung politik. Saeta menyatakan tidak ada maksud politik di balik tampilan jersey tersebut.
“Desain visual perjuangan yang tergambar pada bagian bawah jersey dimaksudkan untuk menunjukkan kebanggaan, ketahanan, serta semangat rakyat Haiti,” demikian pernyataan resminya.
Namun Saeta akhirnya mengubah desain tersebut. “Kami sepenuhnya mendukung Federasi Sepak Bola Haiti dan mendoakan tim tersebut sukses dalam perjalanan bersejarah Piala Dunia ini.”
Doa Saeta terkabul. Haiti membuat kerepotan Skotlandia dalam pertandingan perdana Grup C dengan melepaskan 13 kali tembakan, tiga di antaranya tepat sasaran. Sama dengan tembakan akurat yang dilesatkan Skotlandia. Jumlah operan mereka lebih banyak (391 berbanding 373), dengan akurasi lebih baik (89 persen berbanding 81 persen).
Namun gol tunggal John McGinn pada menit ke-29 tidak mampu mereka balas.
Setelah kalah 0-3 dari Brasil pada pertandingan kedua, Haiti sempat membuat dunia terkejut dengan unggul lebih dulu atas Maroko pada menit 10 melalui gol bunuh diri penjaga gawang Yassine Bounou.
Setelah bek Maroko Achraf Hakimi menyamakan kedudukan pada menit 39, Wilson Isidor kembali membuat Haiti unggul empat menit kemudian. Namun tiga gol yang dicetak Ismael Saibari, Soufiane Rahimi, dan Gessime Yassine mengakhiri perjalanan Haiti.
Dalam tiga pertandingan fase grup, Haiti kebobolan delapan gol dan mencetak dua gol. Mereka mencatatkan 27 tembakan ke gawang, sembilan di antaranya tepat sasaran. Penguasaan bola rata-rata mencapai 41 persen dan memiliki akurasi operan 85 persen.
Sebelum turnamen digelar, Migne menyampaikan harapan agar penampilan mereka membuat orang membicarakan Haiti secara positf. “Jauh dari citra yang baru-baru ini digambarkan karena bencana alam atau ketidakstabilan keamanan,” katanya.
Haiti memang menjadi juru kunci Grup C. Namun penampilan Johny Placide dan kawan-kawan mengonfirmasi harapan Migne.
Mereka jelas jauh lebih baik daripada para pendahulu mereka di Jerman Barat 52 tahun sebelumnya. Dunia kini akan mengingat semangat juang tim sepak bola Haiti, tanpa dibayangi tuduhan skandal pengaturan skor dan santet Voodoo terhadap Kennedy. [wir/ian]






