Surabaya (beritajatim.com) – Perjalanan Persebaya Surabaya kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia tidak lepas dari perjuangan panjang yang berlangsung di luar lapangan. Salah satu sosok yang dikenang memiliki peran besar dalam masa-masa sulit tersebut adalah loyalis Bonek, Andie Peci.
Hal itu disampaikan gelandang senior Persebaya, Rendi Irwan, yang mengenang sosok Andie Peci sebagai figur yang selalu memberikan dukungan moral kepada tim saat Persebaya menghadapi masa sulit dan belum diakui oleh PSSI.
Setia Mendampingi Persebaya di Masa Sulit
Rendi mengingat kembali situasi sekitar 2013, ketika Persebaya berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Meski klub menghadapi berbagai persoalan, para pemain tetap menjalani latihan di Mes Karanggayam.
Di tengah situasi tersebut, Andie Peci rutin hadir memberikan semangat kepada para pemain.
“Di tahun 2013, saat Persebaya tidak diakui PSSI, kita masih berlatih di Mes Karanggayam. Cak Peci sering hadir saat kami latihan dan memberikan dukungan moral kepada kami waktu itu,” kenang Rendi Irwan saat dihubungi melalui telepon, Jumat (10/7/2026).
Menurut Rendi, Andie Peci bukan hanya dikenal sebagai salah satu tokoh Bonek di tribun stadion, tetapi juga sosok yang selalu berada di dekat tim ketika menghadapi masa-masa paling berat.

Perjuangan yang Tak Dilupakan
Rendi menilai kehadiran Andie Peci di pinggir lapangan latihan menjadi bukti nyata komitmen Bonek untuk terus mendampingi Persebaya, meski klub saat itu berada dalam situasi sulit.
Perjuangan yang dilakukan Andie Peci bersama elemen Bonek lainnya akhirnya membuahkan hasil ketika status keanggotaan Persebaya dipulihkan. Klub berjuluk Bajol Ijo itu kemudian kembali berkompetisi di sepak bola nasional pada 2017.
Bagi Rendi, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kebangkitan Persebaya tidak hanya dibangun oleh perjuangan pemain dan manajemen, tetapi juga oleh dukungan tanpa henti dari para suporter yang tetap setia mendampingi klub di masa-masa sulit. (way/but)






