East Rutherford (beritajatim.com) – Noda Paris Saint-Germain di final Piala Dunia Antarklub dini hari tadi bukan sekadar kalah 0-3 dari Chelsea. Melainkan juga beberapa intrik yang “mendukung” antiklimaks PSG pada laga yang dimainkan di MetLife Stadium, East Rutherford, itu.
Dimulai dari kartu merah yang menimpa gelandang Joao Neves pada menit ke-85. Gelandang Portugal itu diusir wasit asal Iran Alireza Faghani lantaran menarik rambut bek Chelsea Marc Cucurella.
Sesaat setelah laga usai, beberapa personel PSG terlihat adu mulut dan sedikit adu fisik dengan personel Chelsea. Termasuk entraineur Luis Enrique. Tangan pelatih asal Spanyol itu tertangkap kamera mengarah ke wajah striker Chelsea Joao Pedro.
“Aku berusaha melerai. Dan aku juga melihat Enzo Maresca (tactician Chelsea, Red) di sana (lokasi ribut-ribut, Red). Semuanya terlibat,” papar Enrique dilansir ESPN.
Antiklimaks PSG belum berhenti di situ. Nirgol melawan Chelsea sekaligus jadi alarm bagi peluang wide attacker Ousmane Dembele memenangi Ballon d’Or September mendatang.
Padahal, sebelum final dini hari tadi, Dembele bisa dibilang jadi satu-satunya yang berhak meraih Ballon d’Or lantaran membawa PSG meraih 4 gelar. Dia juga mencetak 35 gol dan 16 assist dari 52 laga. Atau 51 kontribusi gol dalam 52 laga. Tetapi, di laga ke-53 yang sekaligus laga terakhir musim ini, performanya anjlok.
Bahkan, gelandang serang Chelsea Cole Palmer disebut-sebut kini juga masuk kandidat kuat. Bersamaan dengan Lamine Yamal (FC Barcelona) dan Mohamed Salah (Liverpool FC).
“Ballon d’Or harus dinilai berdasarkan performa pribadi (setelah itu prestasi klub jadi pertimbangan, Red). Bagiku, Dembele masih sangat layak mendapatkannya (meski PSG gagal juara Piala Dunia Antarklub, Red)” ujar mantan bek Arsenal dan Manchester City Gael Clichy. (dio)






