Surabaya (beritajatim.com) – Pertemuan Norwegia melawan Inggris pada babak perempat final Piala Dunia 2026 pada Minggu (12/7/2026) pagi WIB, dipastikan menghadirkan duel menarik antara dua gelandang Arsenal, Martin Odegaard dan Declan Rice.
Setelah bersama-sama membawa The Gunners meraih gelar Liga Inggris, keduanya kini harus saling menjegal demi membawa negaranya melangkah ke semifinal.
Odegaard dan Rice datang ke Piala Dunia dengan kepercayaan diri tinggi usai mengantarkan Arsenal menjuarai Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Mereka bahkan hampir melengkapi musim dengan trofi Liga Champions sebelum kalah melalui adu penalti dari Paris Saint-Germain di partai final.
Kini, target yang jauh lebih besar berada di depan mata. Sabtu nanti di Miami, keduanya akan menjadi lawan di lapangan saat Norwegia dan Inggris memperebutkan tiket menuju empat besar Piala Dunia.
Sebagai kapten tim nasional Norwegia, Odegaard kembali menunjukkan peran sentral dalam perjalanan timnya hingga perempat final, pencapaian terbaik sepanjang sejarah negara tersebut di ajang Piala Dunia.
Gelandang berusia 27 tahun itu menjadi motor permainan Norwegia lewat visi bermain, kreativitas, dan akurasi umpannya. Hingga babak delapan besar, Odegaard telah mencatatkan tiga assist. Hanya Michael Olise, Brahim Diaz, dan Bruno Guimaraes yang memiliki jumlah assist lebih banyak di turnamen ini.
Kontribusi Odegaard tidak hanya terlihat saat menguasai bola. Ia juga menjadi pemain Norwegia dengan jumlah sprint terbanyak, yakni 229 kali. Sementara dari sisi jarak tempuh, ia telah berlari sejauh 47.542 meter, hanya kalah dari Sander Berge.
Perannya sebagai pemimpin juga terlihat di luar pertandingan. Odegaard menjadi sosok yang memimpin selebrasi khas “Viking Row” setiap kali Norwegia meraih kemenangan dengan menabuh drum Nordik sebagai simbol kebersamaan tim.
Namun setelah Erling Haaland mencetak dua gol saat menyingkirkan Brasil di babak 16 besar, Odegaard menyerahkan kehormatan tersebut kepada sang striker sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya membawa Norwegia menciptakan kejutan besar.
Kepemimpinan Odegaard juga mendapat pengakuan dari Declan Rice, rekan setimnya di Arsenal.
“Dia adalah salah satu sosok terbaik yang pernah saya lihat dalam menjalani kehidupan di luar lapangan. Dia mendapat rasa hormat penuh dari ruang ganti Arsenal, baik lewat tuntutannya, cara memimpin tim, maupun saat berbicara kepada pemain lain. Dia luar biasa bagi kami dan saya tidak ingin orang lain menjadi kapten Arsenal,” kata Rice.
Meski mengagumi Odegaard, Rice kini memiliki tugas berbeda. Gelandang Timnas Inggris itu harus berupaya membatasi kreativitas rekan setimnya tersebut agar tidak menjadi ancaman bagi The Three Lions.
Sepanjang Piala Dunia 2026, Rice menjadi salah satu pemain paling konsisten dalam skuad asuhan Thomas Tuchel. Bermain lebih dalam sebagai gelandang bertahan, ia menjadi penyeimbang permainan Inggris melalui kemampuan membaca permainan, energi tanpa henti, serta akurasi distribusi bola.
Rice tercatat berhasil menyelesaikan 91 persen dari total 171 umpannya sepanjang turnamen. Kontribusinya juga terlihat dalam situasi bola mati, termasuk saat mengirim sepak pojok akurat yang dikonversi Harry Kane menjadi gol dalam kemenangan 4-2 atas Kroasia.
Kemampuan bola mati Rice memang menjadi salah satu kekuatan Arsenal sepanjang musim lalu. The Gunners bahkan mencetak rekor 19 gol dari situasi sepak pojok pada musim 2025/2026.
Menjelang duel melawan Inggris, Odegaard juga melontarkan pujian kepada Rice.
“Dia adalah pemain yang selalu memberikan segalanya untuk tim. Dia berjuang dalam setiap perebutan bola, membawa energi ke lapangan, dan mendorong tim untuk terus maju. Dia bisa bertahan, menyerang, kuat secara fisik, dan juga sangat baik saat menguasai bola. Dia adalah pemain yang sangat komplet, jadi ini akan menjadi ujian besar bagi kami semua,” ujar Odegaard.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, juga tidak ragu menyebut Rice sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia.
“Dia adalah salah satu gelandang terbaik di dunia. Selain itu, dia juga sangat rendah hati, mencintai sepak bola, dan selalu siap memberikan energi serta kualitas bagi tim setiap hari. Saya bangga bisa menjadi pelatihnya,” kata Tuchel.
Bagi Rice maupun Odegaard, keberhasilan membawa Arsenal menjuarai Liga Inggris telah mewujudkan impian panjang mereka. Kini, keduanya mengincar sejarah yang lebih besar bersama negara masing-masing.
Inggris masih berusaha mengakhiri penantian gelar Piala Dunia yang telah berlangsung selama enam dekade, sedangkan Norwegia sedang menikmati penampilan terbaik sepanjang sejarah mereka di turnamen ini setelah kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998. (faw/aje)






